Info Aktual

TANAM SERENTAK DI SUBAK KETUG-KETUG

Masalah perbenihan yang dihadapi saat ini adalah varietas unggul yang telah dilepas pemerintah belum semuanya dikenal dan dapat diadopsi oleh petani. Tak luput pula ketersediaan benih sumber dan benih sebar secara enam tepat belum dapat terpenuhi. sementara, kinerja lembaga produksi dan pengawasan benih pun belum berjalan optimal. Apalagi, penggunaan benih unggul bermutu (bersertifikat) di tingkat petani pun masih rendah.

Dalam upaya peningkatan adopsi Varietas Unggul Baru (VUB) padi guna menunjang program swasembada pangan di Bali, maka salah satunya dilakukan melalui peragaan display varietas unggul Baru Padi yang terintegrasi di dalam kegiatan SL-PTT padi sawah Inbrida.

Belum lama ini, BPTP Bali telah melakukan kegiatan Display varietas dengan melakukan penanaman serentak di Subak Ketug-ketug, Desa Jineng Dalem, Kabupaten Buleleng. Varietas yang ditanam diantaranya adalah Varietas Inpari 43, Inpari 30, Inpari Blast dan Towoty, dengan luas masing-masing 50 are.

Komandan tim Upsus BPTP Bali, Dr. Ida Bagus Suryawan mengatakan, display tersebut menggunakan perlakuan Jajar Legowo 2 : 1, Pupuk Urea Phonska 200kg/ha, 1 Ha dengan POC danPestisida nabati serta 1 Ha tanpa POC.

Dalam penanaman serentak di subak Ketug-ketug, unsur yang terlibat diantaranya Babinsa, Penyuluh, dan “krama” subak serta BPTP Bali. (Subagia)

BPTP BALI; SIAP KAWAL UPSUS KEDELAI DI TABANAN

 

Suasana area persawahan di Subak Samsaman, Desa Dukuh, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan, Bali tak seperti biasanya yaitu menanam padi. Kali ini, ratusan anggota Subak Samsaman berbaur dengan anggota TNI dan PNS dari seluruh satuan kerja perangkat daerah. Mereka melakukan gerakan penanaman kedelai secara massal pada hari Selasa, (14/6/2016).

Penanaman kedelai di Kabupaten Tabanan di fokuskan pada enam Kecamatan yaitu Kecamatan Kediri, Baturiti, Marga, Tabanan, Selemadeg Timur, dan Kerambitan. Target tanam kedelai tahun ini seluas 1.000 Ha. Dari Luasan tersebut sudah terealisasi seluas 543 ha atau 54,3%. Untuk Kecamatan Kerambitan mendapat target seluas 150 Ha atau 66,67%. ”Sedangkan untuk Subak Samsaman sendiri mendapat target 41 ha dari luas baku 44 ha,” jelas Ir I Wayan Sumarta, MP Kepala Bidang Produksi Dinasi Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali.

”Permasalahan pokok yang dialami oleh para petani kedelai di Kabupaten Tabanan adalah pemasaran dan kepastian harga yang diterima oleh petani” lanjut Sumarta. Minat petani berusaha tani kedelai, tidak sekuat minat berusaha tani padi. Oleh kerana itu, masih diperlukan upaya terobosan untuk mendorong peningkatan masyarakat berusaha tani kedelai sehingga terjadi peningkatan produksi. “Pendapatan petani akan meningkat dan sejahtera. Hal ini juga untuk mewujudkan Tabanan yang “SERASI” Sejahtera Aman dan  Berprestasi,” tandasnya.

Di hadapan para petani, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali, A.A. Ngurah Bagus Kamandalu, M.Si seusai melakukan Gerakaan penanaman massal mengatakan, BPTP Bali selalu siap melakukan pendampingan maupun bimbingan serta pengawalan teknologi. Dalam gerakan tanam kedelai massal upaya khusus peningkatan produksi kedelai mendukung kedaulatan pangan kali ini, varietas kedelai yang ditanam adalah Anjasmoro.

Sementara itu, Dandim 1619 Let. Kol Inf. Erwin Gunawan merasa optimis untuk mewujudkan swasembada pangan khususnya di Kabupaten Tabanan. Dikatakan, sejak ditandatangani MOU dengan Kemetrian Pertanian. Beliau mengatakan bahwa Sejak itu mereka mendampingi masyarakat tani dan bersinergi dengan dinas maupun instansi terkait untuk mewujudkan swasembada Padi Jagung dan Kedelai. (Adiwirawan)


MANFAAT BIO INDUSTRI KINI DIRASAKAN PETANI

 


Bio Industri merupakan salah satu program strategi Kementerian Pertanian. Strategi ini, diterjemahkan dan diimplementasikan oleh BPTP Bali selaku unit teknis Badan Litbang Pertanian yang ada di daerah. Sejak tahun 2015 BPTP Bali telah mengembangkan model pertanian Bio Industri di dua lokasi yaitu di Kabupaten Buleleng dan Kabupaten Tabanan.

Ir. A.A. Ngurah Bagus Kamandalu, M.Si Kepala BPTP Bali menjelaskan kepada Jefry, salah seorang pengusaha asal Kalimantan yang berkeinginan menangkap hasil usaha petani di perdesaan pada hari Selasa, (21/62016) bahwa Tujuan Program Bio Industri  adalah untuk menghasilkan berbagai macam hasil pertanian yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. "Kami ingin meningkatkan daya saing dan nilai tambah produk pertanian di Bali, sekaligus mengatasi lonjakan kebutuhan pangan dan energi ke depan" ujar Kepala BPTP Bali.

Kepada Jefry beliau juga menjelaskan prinsip pertanian bio industri adalah pada peningkatan kualitas, nilai tambah dan daya saing produk pertanian. Inovasi teknologi, lanjut Kepala BPTB Bali, bukan sekedar cara bercocok tanaman. tapi lebih dari pada itu, bagai mana mengolah usahatani agar bisa memberikan nilai tambah yang berujung pada kesejahteraan masyarakat tani. “Petani yang terlibat tidak hanya dibekali teknologi dalam berusahatani, teknologi pascapanen pun didorong agar nilai jual suatu produk lebih dinikmati para petani”, tandas orang nomor satu di BPTP Bali ini.

Sementara itu,  penanggung jawab kegiatan bio industri di Desa Antapan Baturiti Tabanan, Dr.drh. Md Rai Yasa, MP mengatakan, Pendekatan pembangunan pertanian bio industri membutuhkan pola pengelolaan terpadu, melibatkan pemangku kepentingan dari aspek perancangan, implementasi, pelayanan, pembinaan dan pengendalian. “Prinsip bio industri mengintegrasikan seluruh pemangku kepentingan dalam skala ekonomi, baik integrasi vertikal, mencakup aspek hulu sampai hilir, serta integrasi horisontal yang mencakup berbagai komoditas dan jenis usaha”, paparnya

Jefri mengatakan petani di Desa Antapan sudah maju tetapi perlu lebih maju lagi. Petani tidak hanya bisa menanam tetapi bagaimana membuat hasil tanaman lebih berkwalitas, seperti cabai bisa bertahan sampai dua minggu setelah panen. "Terkait pasar petani harus konsisten terhadap waktu dan kebutuhan pasar"ujarnya..

Ketua kelompok Tani Setia Makmur, Wayan Widana, mengakui dan merasakan program rancangan dari Kementerian Pertanian ini. Usaha tani-nya kini makin bergairah berkat binaan dan pendampingan yang diberikan BPTP Bali. Petani sekitar juga berharap binaan lebih lanjut dalam upaya peningkatan aktivitas kelompok. (adiwirawan)

PETANI PUN HARUS JADI PENELITI

Bawang merah merupakan komoditas strategis yang ketersediaan dan harganya sangat berpengaruh Read more: PETANI PUN HARUS JADI PENELITI

50 % JERUK PETANI SUDAH TERSERANG DIPLODIA

 

Jeruk Siam merupakan salah satu komoditas unggulan buah di Bali,  dengan produksi pada tahun 2013 mencapai 1.405.816 ton. Kontribusi dominan diberikan oleh Kabupaten Bangli dengan Kecamatan Kintamani sebagai sentra produksinya dan untuk tahun 2013 mencapai 84 persen. Dinobatkan Sebagai sentra budidaya jeruk tentunya bukan hal mudah untuk mempertahankan produksi jeruk tetap optimal. Saat ini Produktivitas Jeruk Siam Kintamani tergolong masih rendah dan harusnya bisa ditingkatkan lagi. Rendahnya produksi disamping disebabkan oleh serangan penyakit diplodia juga pemeliharaan  yang kurang intensif.

Diplodia merupakan salah satu penyakit paling berbahaya pada tanaman jeruk (Citrus sp). penyakit ini Dikenal 2 (dua) macam yaitu diplodia basah dan diplodia kering. Keduanya sama-sama disebabkan oleh jamur Botryodiplodia theobromae Pat. Perbedaan dari diplodia basah dan kering ini terlihat dari gejala serangannya apabila batang, cabang atau ranting yang terserang mengeluarkan getah/lem/blendok berwarna kuning keemasan dan pada stadia lanjut kulit tanaman jeruk mengelupas maka dapat dipastikan yang menyerang adalah Diplodia basah. Dan Apabila kulit batang, cabang tanaman jeruk yang terserang mengering tanpa mengeluarkan getah/lem/blendok,  pada bagian celah kulit terlihat adanya massa spora jamur berwarna putih atau hitam maka yang menyerang adalah Diplodia kering.

Menanggapi permasalahan petani BPTP Bali tahun 2016 ini BPTP Bali melakukan Kajian Pemupukan Organik Dan Pengendalian Penyakit Diplodia Untuk Meningkatkan Produksi Dan Kualitas Jeruk Siam Kintamani. Tujuan akhir dari kajian ini adalah, 1) Mendapatkan paket teknologi budidaya jeruk siam  organik,  2) Meningkatkan  produksi dan  kualitas  jeruk siam 3) Meningkatkan  pendapatan petani jeruk  > 20%.

Anggota kelompok tani/ternak Kelaan Merta Sari di Desa Bonyoh, Kecamatan Kintamani  Kabupaten Bangli  kepada tim Program dan tim KSPP BPTP Bali dalam acara pemantauan progress kegiatan pada hari Kamis 16 juni 2016 mengakui bahwa mereka sampai saat ini belum mampu mengendalikan penyakit diplodia. Dengan kehadiran BPTP Bali mengkaji jeruk di tempat mereka, mereka berharap permasalahan diplodia ini dapat segera diatasi.

Ir Ni Putu Suratmini, M Si selaku penanggung jawab kegiatan mengatakan bahwa dari hasil pengamatannya petani ternyata dari 50 tanaman jeruk yang diamati 25 pohon atau lima puluh persennya sudah terserang diplodia. Sedangkan Jenis penyakit diplodia yang paling banyak menyerang adalah diplodia kering. “saat ini kami sedang mengajak petani untuk membersihkan tanamannya, dan mengaplikasikan bubuk California untuk mengatasi penyakit diplodia ini’’Ujarnya (Sweken).

Kadis Pertanian Merta Tanaya : BPTP Bali Selalu Uu Date Isu Teknologi

Usai melakukan Temu Teknologi  Pertanian di Kota Denpasar, BPTP Bali melakukan road show kegiatan bidang penyuluhan. kali ini, kegiatan serupa merabah Kabupaten yang berada di ujung timur pulau Bali Read more: Kadis Pertanian Merta Tanaya : BPTP Bali Selalu Uu Date Isu Teknologi

Teknologi Pertanian Mendukung Sentra Bawang Merah di Bali

 

Bawang merah merupakan komoditas strategis nasional yang mendapat perhatian serius dari pemerintah. Dalam upaya peningkatan kemandirian akan komoditas ini diperlukan terobosan dengan melihat segala peluang yang ada. Usahatani bawang merah merupakan peluang yang bisa dilakukan yaitu dengan melihat kondisi aktual (saat ini) untuk diperbaiki.

Dalam upaya mendongkrak produksi bawang merang di Bali, BPTP Bali gencar melakukan koordinasi dengan Dinas Pertanian, Perkebunan dan Perhutanan Kabupaten Bangli. Kabupaten Bangli merupakan sentra pengembangan bawang merah di Bali karena menghasilkan 11.090 ton yang berarti mampu memberikan kontribusi sebesar 93,30 persen dari total produksi provinsi itu sebanyak 11.880 ton.

Kepala BPTP Bali Bali, Ir. A.A. Ngurah Bagus Kamandalu. M.Si, mengatakan, cabe dan bawang merah adalah 2 komoditi pertanian yang berpengaruh cukup signifikan terhadap terjadinya inflasi selain padi. Hal tersebut karena 2 komoditi tersebut sangat dibutuhkan sebagai bumbu sehari-hari. Kebutuhannya cenderung tetap setiap bulan, dilain sisi ketersediannya berfluaktif karena bersifat musiman sehingga harga cenderung naik terutama saat hari-hari besar keagamaan. “Oleh karenanya, untuk mendukung program pemerintah ini, salah satu kegiatan program BPTP Bali melakukan penelitian dan pengkajian serta pendampingan di Kabupaten Bangli, yang kita lakukan sejak tahun lalu”, ujar Kepala BPTP Bali. (16/6/2016).

Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bangli, Dra Ni Wayan Manik berharap, dukungan dari BPTP Bali sebagai penghasil teknologi. Dikatakan, selain dukungan teknologi, BPTP Bali dalam programnya telah memberikan pengetahuan dan wawasan hal-hal baru soal teknologi melalui Temu Informasi Teknologi yang dilakukan setiap tahunnya untuk para penyuluh dilapangan dan kontak tani. "Kami harapkan budidaya bawang merah secara organik ini dapat diimplementasikan pada area yang lebih luas sehingga mempercepat terwujudnya ketahanan pangan di Bali, tutur Manik.

Sementara itu, I Nyoman Ngurah Arya, SP, M.Agb, sebagai penanggung jawab kegiatan pengkajian di daerah Desa Batur mengatakan, Kintamani merupakan sentra produksi bawang merah dengan produksi lebih dari 85% dari total produksi bawang merah Bali.  Akan tetapi secara umum produktivitas bawang merah di Bangli masih tergolong rendah. Rendahnya produktivitas bawang merah ini salah satunya disebabkan oleh kendala OPT seperti ulat bawang (Spodoptera exiqua). (Adiwirawan)

BPTP Bali Jual “Jamu”

Untuk memperoleh hasil maksimal, pembangunan Pertanian membutuhkan sinergi yang sangat baik lintas sektoral. Baik pelaku utama dan pelaku usaha. Sumberdaya pelaku pertanian tidak saja dari petugas penyuluh pertanian. Namun, perlu dikolaborasi petani dan kontaktaninya sebagai ujung tombak pembangunan pertanian. Hal ini terungkap dalam acara Temu Teknologi Pertanian, di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Penyuluhan Kota Denpasar pada hari Kamis, (9/6/2016).

Acara Temu Teknologi Pertanian garapan BPTP Bali ini terselenggara atas kerjasama dengan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kota Denpasar. Temu Teknologi Pertanian Tingkat Kabupaten/Kota ini dibuka oleh Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Ir. I Gede Ambara Putra, M.Agb. Dalam sambutanya mengatakan, tantangan pembangunan di kota Denpasar, dihadapkan pada alih fungsi lahan yang sangat cepat. Sehingga, memerlukan strategi khusus, untuk mengantisipasi hal tersebut.

“Pertanian di perkotaan memerlukan teknologi tepat guna dan spesifik yang mampu meningkatkan produktivitas tanaman pangan,” tandas Ambara, sembari mengingatkan para penyuluhnya, bahwa kegiata yang di gagas BPTP Bali ini sangat penting untuk diadopsi dan di suluhkan kepada petani binaannya.

Sementara, Dr I Wayan Alit Artha Wiguna, mengatakan, kegiatan Temu Teknologi ini, ibaratnya BPTP Bali selaku institusi Badan Litbang Pertanian yang ada di daerah menjual jamu. “Jamu itu tak lain adalah, paket teknologi pertanian hasil penelitian dan pengkajian BPTP. Kini, Badan Litbang Pertanian telah memiliki 500 inovasi Teknologi. Kegiatan ini nantinya juga, akan dilanjutkan ke tingkat BPP dan Desa atau ke kelompok tani”, papar Alit Koordinator Penyuluh BPTP Bali sekaligus sebagai penanggung jawab kegiatan.

Temu Teknologi Pertanian kali ini dihadiri 30 orang penyuluh se Kota Denpasar. Materi yang sibahas sesui dengan permintaan daerah diantaranya adalah Teknologi Salibu, Teknologi Jarwo dan teknik mengubin hasil panen padi, Dinamika Kelompok sebagai narasumber dari BPTP,serta Kebijakan pembangunan Pertania kota Denpasar yang disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura kota Denpasar. (widianta)

PETANI BERGAIRAH MEMBUAT PUPUK ORGANIK

 

Usaha peternakan sapi selain menghasilkan produk bermanfaat sesuai dengan tujuan produksi yang diinginkan juga menghasilkan limbah. Limbah usaha peternakan sapi, baik limbah padat, cair maupun gas jika tidak ditangani dan dikelola dengan baik akan menjadi sumber polutan  bagi kesehatan lingkungan, dan menimbulkan dampak negatif bagi manusia maupun ternak. Tingginya kandungan nutrient feces sapi yang apabila dikelola dengan baik akan menghasilkan produk-produk yang bermanfaat seperti, pupuk organik, briket maupun bio gas. Tentunya hal ini juga meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani/peternak sapi itu sendiri.

Rasa Antusias yang tinggi ditunjukkan oleh petani anggota kelompok Putra Sejahtera Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Buleleng ketika dikunjungi oleh Tim Program dan tim KSPP BPTP Bali pada hari Jumat 10/06/2016. Tujuan dari kunjungan  ke kelompok ini adalah ingin melihat perkembangan kegiatan pendampingan sapi yang selama ini sudah dilaksanakan oleh Bapak I Made londra, S.Pt, MP selaku penanggung jawab bersama timnya.

Menurut penjelasan Bapak Slamet Mulyadi salah seorang penyuluh pertanian di wilayah Desa Pejarakan belakangan ini permintaan pupuk organik cukup tinggi, akan tetapi ketersediaan pupuk organik di wilayah binaannya tidak mencukupi untuk permintaan yang tinggi tersebut. Sampai-sampai untuk memenuhi permintaan pihaknya harus mendatangkan pupuk dari daerah lain. ‘’Permintaan akan pupuk organik yang tinggi inilah menjadi motivasi petani/peternak sapi Putra Sejahtera untuk meningkatkan produksi pupuk organik mereka’’ jelasnya lagi kepada tim dari BPTP Bali  (Sweken).

TANAM SEREMPAK INCAR PANEN 67 HEKTAR

 

Sebagai upaya dalam meningkatkan produksi beras di Kabupaten Badung, Provinsi Bali, Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Badung, Dandim 1611, BPTP Bali dan Kerama (anggota) subak, pada hari Jumat (3/6/2016) menggelar gerakan serempak penanaman padi yang dipusatkan di Subak Sengempel Desa Bongkasa, Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung. Gerakan tanam serempak kali ini dilaksanakan untuk mencapai target panen seluas 67 Hektar dari 97 hektar luas lahan di Subak Sengempel.

"Di tahun ini, kami lalukan kegiatan seperti Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT) dengan fasilitas bantuan sarana produksi, sistem tanam jajar legowo dan pertemuan kelompok pada seluruh areal program sebagai instrumen stimulan disertai dengan dukungan pembinaan, pengawalan, dan pemantauan oleh berbagai pihak," ujar Ir. I G.A.K Sudaratmaja, MS Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Badung. Usai melakukan penanaman padi serempak beliau juga menuturkan Seperti kasus gagal panen, akibat serangan hama tikus yang menyerang subak Sengempel, akan ditanggulangi dengan kebijakan asurasi pertanian. Kerugian petani akibat gagal panen akan ditanggung pemerintah dengan asuransi pertanian, yang saat ini sedang di formulasikan.

Selain program asuransi pertanian, Pemda Badung juga membuat program kebijakan subak mandiri. Dimana pemerintah mengalokasikan anggaran kepada subak, seperti Subak Sengempel yang tahun ini menerima bantuan Rp1,2 miliar. Dana ini diharapkan benar-benar dikelola secara baik untuk kebutuhan krama subak. Diantaranya, bisa untuk perbaikan sarana irigasi, pembangunan jalan usaha tani (JUT), lantai jemur, hingga gudang penyimpanan padi.

Sementara itu, Ir. Ni Putu Suratmini, M Si peneliti BPTP Bali dengan penuh semangat menyampaikan seperti yang sering dikatakan Kepala BPTP Bali bahwa BPTP Bali telah berkomitmen selalu siap mendampingi para petani, baik dalam pendampingan teknis maupun non teknis.(Adiwirawan)





Subcategories

Subcategories