Info Aktual

MENYATUKAN PERSEPSI PENYULUH MELALUI KEGIATAN TEMU TEMU INFORMASI TEKNOLOGI

Pembangunan pertanian yang berkelanjutan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pangan, bahan baku industry dan memperluas lapangan kerja  sehingga akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Undang-undang No. 16 Tahun 2006 menjelaskan tentang kelembagaan penyuluhan bermaksud untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Sedangkan pada undang-undang No. 23 tahun 2014 juga diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan dan keaksahan daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dukungan teknologi memegang peranan penting dalam pengembangan potensi sumberdaya baik di bidang tanaman pangan, peternakan maupun perikanan. Teknologi yang dihasilkan dari penelitian dan pengkajian (litkaji) akan menjadi sia-sia jika tidak diaplikasikan di lapangan, terutama dalam upaya pemberdayaan masyarakat tani. Kondisi di lapangan menunjukkan masih rendahnya/terbatasnya informasi teknologi yang diterima oleh petani/pengguna. Oleh karena itu diseminasi teknologi yang dihasilkan dari penelitian dan pengkajian (litkaji) saat ini sangat dibutuhkan dalam upaya mempercepat transfer teknologi dari lembaga penelitian ke petani. Keberhasilan diseminasi teknologi pertanian sangat tergantung pada kesesuaian antara informasi teknologi pertanian yang didiseminasikan dengan yang dibutuhkan serta memperhatikan kebutuhan pengguna.

Diseminasi teknologi dapat di lakukan baik dengan lisan, media tercetak, maupun elektronik. Kesempatan-kesempatan yang baik untuk medeseminasikan Teknologi yang dihasilkan dari penelitian dan pengkajian (litkaji) adalah pada pelaksanaan pameran dan  pertemuan-pertemuan dengan petani salah satunya Temu Informasi Teknologi Pertanian. Adapun tujuan pelaksanaan Temu Informasi Teknologi Pertanian adalah sebagai wadah untuk menyampaikan  suatu teknologi pertanian, tukar menukar pengalaman dan pemikiran/pendapat tentang kesesuaian suatu teknologi pertanian guna meningkatkan produktivitas serta menjalin kerjasama antara peneliti/penyuluh BPTP Bali dengan penyuluh di daerah, pengambil kebijakan, KTNA, petani, maupun pihak lain yang terkait dengan pembangunan pertanian. Dengan adanya Temu Informasi Teknologi Pertanian Penyuluh daerah yang ada dilapangan (PPL) diharapkan mampu meningkatkan kinerjanya dalam berbagai aspek berupa dukungan informasi teknologi tepat guna, bimbingan dalam melakukan pendampingan yang efektif dan efisien, pembinaan mental serta pengorganisasian dalam melaksanakan tugas sebagai penyuluh dilapangan.

Bertempat di BPP Banjarangkan, pada hari Rabu, 21 September 2016 BPTP Bali bekerjasama dengan Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Klungkung menyelenggarakan pelatihan  bagi PPL Kecamatan Banjarangkan.  Pada kegiatan Temu Informasi Teknologi kali ini peserta yang  hadir dari  Penyuluh Pertanian, Kepala Seksi Bidang Penyuluhan Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Klungkung, dan penyuluh dari BPTP Bali. Sebagai Narasumber tiga orang dari Penyuluh BPTP Bali dan satu dari Peneliti BPTP Bali. Materi-materi yang disampaikan yaitu, 1) Meningkatkan Mutu Sapi Bali dengan Inseminasi Buatan disampaikan oleh I Nengah Duwijana,S.Pt,  2) Teknologi Pengolahan Limbah Kotoran Ternak Menjadi Pupuk Organik disampaikan oleh I Nyoman Budiana,S.Pt, 3) Hama dan Penyakit Penting pada Tanaman Padi disampaikan oleh I Made Astika,SP, dan 4) Hama dan Penyakit Cabe dan Standar Operasional Prosedur (SOP) disampaikan oleh DR.Ir.Ni Made Delly Resiani,MP,  yang merupakan seorang peneliti dari BPTP Bali.

Kepala Kantor Ketahanan Pangan  Kabupaten Klungkung dalam hal ini diwakili Drh.Ida Bagus Raka selaku Kepala Bidang Penyuluhan Kabupaten Klungkung  dalam sambutannya sekaligus membuka acara, menyampaikan bahwa penyuluh pertanian  mempunyai  peran  yang  sangat  strategis  dalam  rangka  memajukan pembangunan  pertanian dan berharap dengan adanya pelatihan bagi penyuluh dapat dijadikan  momentum untuk membahas dan menyatukan persepsi dalam pengawalan dan pendampingan  penerapan teknologi dan merekomendasikan serta mencari solusi dari berbagai masalah yang timbul ditingkat lapangan. ‘’Semoga dengan adanya kegiatan temu informasi teknologi tingkat kecamatan yang berlangsung di BPP Banjarangkan dapat memberikan inspirasi dan motivasi bagi penyuluh pertanian, dalam menerapkan inovasi kepada petani serta mendampingi dari tahu, mau dan mampu untuk dilaksanakan’’ ujarnya. (Anik)

 

 

 

STAF AHLI MENTERI PERTANIAN KUNJUNGI SALURAN IRIGASI


Pangan merupakan kebutuhan pokok tetapi sering menjadi persoalan yang sangat serius di seluruh Indonesia termasuk Bali. Stok pangan nasional Indonesia harus mencukupi seluruh kebutuhan masyarakat Indonesia. Untuk itu perlu dilakukan lompatan inovasi di sektor pangan agar kebutuhan pangan dapat terpenuhi. Salah satu jenis pangan utama yaitu beras, yang merupakan makanan pokok mayoritas penduduk Indonesia. Dalam kondisi ini, salah satu cara untuk mempertahankan kecukupan pangan adalah  dengan terus menciptakan varietas unggul baru. Badan Litbang Pertanian melalui Balai Besar Penelitian Padi terus berinovasi untuk menciptakan padi varietas unggul.

Staf Ahli Mentri Pertanian, di Bidang Inovasi Teknologi  yang sekaligus penanggung jawab UPSUS di Bali Dr.Ir. Mat Syukur, M.S mengatakan disamping ketersediaan bibit unggul, saluran irigasi sangat penting untuk di perhatikan. Ditengah kesibukannya, beliau menyempatkan diri untuk mengunjungi saluran irigasi di subak Samblung Desa Singapadu Tengah, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar.Tidak hanya itu Staf Ahli Mentri Pertanian juga mengunjungi Dam Parit di Subak Guming Desa Gulingan Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung.

Hal senada juga disampaikan Peneliti Senior Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Dr. Ir I.B.G. Suryawan, MSi, teknologi mekanisasi dan pemeliharaan irigasi sangatlah penting khususnya untuk tanaman padi, mengingat kondisi Indonesia sekarang ini mulai menghadapi krisis air dan kelangkaan tenaga kerja terutama pada sektor pertanin. Peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali ini juga mengatakan kepada kelompok tani bahwa Padi bukanlah tanaman air namun tanaman yang perlu air.


Pengembangan teknologi mekanisasi di bidang pertanian mempunyai prospek yang sangat bagus ke depannya. Sekaligus menjawab tantangan kekurangan ketersediaan air dan kelangkaan tenaga kerja. Selain itu pengembangan teknologi mekanisasi pertanian adalah untuk menuju petanian modern sehingga diharapkan dapat membangkitkan animo generasi muda untuk bekerja di bidang pertanian. (Adiwirawan)


PANEN SITUBAGENDIT DI SUBAK RENON DENPASAR

 

Sebagai salah satu daerah di Bali yang memiliki potensi cukup tinggi dibidang pariwisata dan merupakan tempat pemukiman yang padat penduduk, Kota Denpasar tidak mau ketinggalan dengan daerah lain di Bali dibidang Pertanian. Hal ini terbukti pada saat Wali Kota Denpasar I.B. Rai Dharmawijawa Mantra, SE, MSi melakukan panen padi varietas baru, Situbagendit seluas 60 ha di Subak Renon Denpasar. Sekaligus sebagai demonstrasi penggunaan alat Combine Harvester yang merupakan salah inovasi teknologi pertanian di bidang mekanisasi pertanian.

Kepala BPTP Bali Bali, Ir. A.A. Ngurah Bagus Kamandalu. M.Si mengatakan, petani harusnya mengetahui peluang, artinya petani hendaknya mau mencoba setiap varietas yang dibawa ke Kota Denpasar. Karena setiap instansi yang membawa varietas ke Bali tentunya sudah mengalami berbagai seleksi. Situbagendit merupakan salah satu varietas unggul padi. “Akan tetapi dalam pengembangannya varietas Situbagendit susah untuk diterima petani di Bali, dengan alasan sulitnya  pemasaran” jelasnya kepada Walikota Denpasar.

Menanggapi hal tersebut Wali Kota Denpasar mengatakan bahwa pihaknya sudah menyediakan dana talangan untuk menampung hasil panen petani sehingga petani tidak perlu khawatir lagi hasil panennya tidak bisa di pasarkan. Walikota Denpasar juga menjelaskan di dalam hal pencapaian swasembada pangan, padi merupakan prioritas utama bagi pertanian pemerintah Kota Denpasar dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keseriusan Pemerintah terlihat dari pemberian bantuan olah tanah alat pasca panen, penyediaan varietas baru dan yang tidak kalah pentingnya adalah pendampingan.

Ketua Subak Renon Kelurahan Renon, Kecamatan Denpasar Selatan mengatakan teknologi dan pendampingan serta penyuluhan sangat mereka perlukan karena dengan itu dirasa mampu merubah pola fikir petani di subaknya dari tidak mau mencoba menjadi mau mencoba inovasi teknologi serta varietas baru. (Adiwirawan)

Mahasiswa UNDANA Memilih Magang di BPTP Bali

 

 

Magang mahasiswa merupakan kegiatan wajib setiap mahasiswa untuk memenuhi kewajibanya dalam perkuliahan. Termasuk kali ini para mahasiswa dari Universitas Nusa Cendana (Undana), Kupang, NTT dari Jurusan Agribisnis yang sedang menempuh semester ke enam akan melaksanakan kegiatan magangnya.

Diantarkan oleh dosen pembimbing meeka, pada hari senin 11 Juli 2016, para mahasiswa sebanyak tujuh orang ini rencananya akan menempuh masa magangnya di BPTP Bali sampai dengan 04 Agustus 2016. Mereka telah di tempatkan sesuai dengan minat dan fokus penilaian magang yang telah mereka rumuskan dari kampus.

Magang Mahasiswa Undana Di BPTP Bali Bukanlah pertama kalinya. Hampir setiap Tahun sejak tahun 2012 selalu ada dari Mahasiswa Undana yang magang di BPTP Bali. Ini merupakan salah satu wujud kerjasama BPTP Bali dengan perguruan tinggi. Kali ini kedatangan Mahasiswa dari Undana diterima oleh Kepala Seksi Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian (KSPP) BPTP Bali Ir.I Ketut Kariada, M.sc. Dalam Sambutannya KSPP BPTP Bali banyak menjelaskan tentang teknologi-teknologi yang di kaji di BPTP Bali.

Koordinator program I Nyoman Adijaya, SP, MP yang juga hadir dalam penerimaan mahasiswa magang ini memaparkan banyak tentang program-program kegiatan yang ada di BPTP Bali selama tahun 2016. Mulai dari UPSUS, UPBS, Taman Teknologi Pertanian (TTP), Pendampingan komoditas Pertanian, peternakan maupun perkebunan, dan program lainya. “program magang ini merupakan kesempatan yang baik bagi mahasiswa untuk belajar di tingkat lapangan” ujarnya kepada para mahasiswa.  Dari awal hingga akhir, mereka akan diikut sertakan dalam membantu kegiatan pengkajian penelitian serta kegiata non-penelitian lainnya.

Ketika ditanya soal alasan mereka magang di BPTP Bali adalah karena keinginan mereka untuk menambah wawasan yang lebih luas dan melihat pertanian di luar daerah. Dan kini semoga ilmu yang mereka terima dapat diterapkan dengan baik di tanah kelahiran mereka. “Adapun tujuan kami ingin mahasiswa kami mendapat pengalaman dan apa yang mereka pelajari tekuni dan pahami akan mereka kembangkan di NTT natinya” ujar Ir. I Nyoman Sirma, MP salah satu dosen pembibimbing dari Undana.

 

UPAYA PENINGKATAN LUAS TAMBAH TANAM DI KABUPATEN KLUNGKUNG

Meningkatkan hasil komoditas pertanian menjadi salah satu prioritas Kabupaten Klungkung-Bali. Hal tersebut dibahas di dalam pertemuan Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta, S.Pd, M.M dengan Staf Ahli Menteri Pertanian Republik Indonesia, DR.Ir. Mat Syukur, M.S, selaku penanggungjawab program Upaya Khusus (UPSUS) di Bali. Turut hadir dalam pertemuan tersebut Kepala BPTP Bali Bali, Ir. A.A. Ngurah Bagus Kamandalu,M.Si.

Bupati Klungkung mengatakan pihaknya telah membuat beberapa kebijakan dalam upaya meningkatkan Luas Tambahan Tanam (LTT) di Kabupaten Klungkung. Adapun kebijakan tersebut antara lain setiap hari Jumat beliau melaksanakan tanam serentak bersama petani, TNI, serta dinas terkait. Beliau juga mengatakan tidak akan mengeluarkan rekomendasi untuk alih fungsi lahan pertanian. Selain itu juga membuat suatu pilot projek pertanian, Mou dengan tiga KUD, Petani, serta PNS. Bupati Klungkung menghimbau beras lokal harus dibeli mahal dan dijual lebih murah.

Staf Ahli Menteri Pertanian Republik Indonesia, DR.Ir Mat Syukur, M.S, Sangat mengapresiasi kebijakan Bupati Klungkung di dalam mendukung kegiatan (LTT). Staf Ahli Menteri Pertanian juga mengatakan sampai tgl 30 Agustus 2016 Luas tanam di Provinsi Bali seluas 825.000 hektar. Beliau juga telah menginformasikan kedaerah lain di Bali bahwa Kabupaten Klungkung telah memiliki hari tanam bersama yaitu setiap hari jumat, disamping hari-hari lain juga ada kegiatan tanam namun tidak seluas pada hari jumat.

Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali (BPTP), Ir. A.A. Ngurah Bagus Kamandalu, M.Si, di sela-sela kunjungannya ke masing-masing kelompok tani di Klungkung juga menginformasikan kepada kelompok tani agar senantiasa mampu meningkatkan (LTT) terkait Inovasi teknologi beliau menyatakan selalu siap mendampingi petani (Adiwirawan).

Panen Perdana Padi Desa Mandiri Benih Di Dawan Klungkung

 

Peningkatan produksi nasional tanaman pangan, khususnya komoditas padi, jagung, dan kedelai menjadi perhatian dalam program strategis pemerintahan baru Indonesia untuk mewujudkan swasembada tiga komoditas tersebut pada tiga tahun ke depan. Penguatan kecukupan dan kedaulatan perbenihan tanaman pangan di setiap kawasan dirancang oleh Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) untuk menjadi salah satu pengungkit program pemerintah tersebut.


Desa mandiri benih merupakan program dari Kementrian Pertanian untuk menjawab kebutuhan petani akan benih yang selama ini lebih banyak tergantung pada benih yang diproduksi oleh industri benih. Pemerintah pusat melalui kementerian pertanian akan membentuk 1000 desa yang mampu mengusahakan benih secara mandiri. Program ini diharapkan mampu meningkatkan ketersediaan benih petani dan mengangkat benih unggul lokal.

Salah satu desa di Kabupaten Klungkung yang telah dicanangkan pemerintah sebagai desa Mandiri benih adalah Desa Dawan Klod, Kecamatan Dawan tepatnya di Subak Dawan. Merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Klungkung yang sangat potensial untuk pengembangan tanaman pangan khsususnya padi. Pada hari Jumat, 1 Juli 2016, telah dilaksanakan panen padi yang merupakan program “Kerjasama antara instansi terkait”.

Berdasarkan hasil ubinan panen padi, diperoleh hasil rata-rata produktivitas padi mencapai 7,2 ton/ Ha. Hasil ini merupakan perolehan tingkat produktivitas rata-rata Kabupaten Klungkung. Varietas padi yang digunakan sebagai percobaan  adalah verietas Ciherang. Selain anggota kelompok tani, penyuluh lapangan ikut hadir dan menyaksikan acara tersebut adalah Dinas Pertanian Provinsi Bali, BPTP Bali, Danramil sertata instansi terkait di Kabupaten Klungkung.


Menurut Kepala BPTP Bali Ir. A.A. Ngurah Bagus Kamandalu, M.Si, salah satu kesuksesan program Pajale adalah tersedianya benih unggul bermutu. Desa mandiri benih ini sangat penting artinya bagi pemenuhan kebutuhan benih di desa tersebut sehingga tidak tergantung pada benih yang datangnya dari luar.(Adiwirawan)

PEMBAHASAN ANGGARAN TAMAN TEKNOLOGI PERTANIAN (TTP) DENGAN BAPPEDA TABANAN

Taman Teknologi Pertanian (TTP) merupakan salah satu pendekatan untuk mempercepat adopsi inovasi teknologi pertanian kepada pengguna. Masyarakat tani di sekitar TTP dapat belajar penggunaan teknologi di TTP, dan melihat contoh hasilnya yang diterapkan di TTP.

Berkaitan dengan tujuan tersebut  Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali (BPTP), Ir. A. A. Ngurah Bagus Kamandalu, M.Si, telah melakukan pembahasan dengan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pemerintah Kabupaten Tabanan  Ida Bagus Wiratmaja tentang anggaran serta kelanjutan TTP, pada tahun 2017 nanti di Desa Sanda Kecamatan Pupuan Kabupaten Tabanan.

Kepala BPTP Bali mengatakan selain membahas anggaran pihaknya juga ingin menjalin komunikasi  yang lebih erat antara BPTP Bali dengan Pemkab Tabanan. beliau juga mengajak Pemkab Tabanan untuk bersinergi dalam membangun TTP.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pemerintah Kabupaten Tabanan menyambut baik program TTP dari BPTP Bali di Tabanan. Beliau mengatakan siap mendukung kegiatan TTP tersebut.

Terbukti Pemkab Tabanan sudah memperbaiki akses jalan menuju TTP, serta berjanji akan menganggarkan pembuatan gedung wantilan pada pembahasan anggaran 2017.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pemerintah Kabupaten Tabanan juga mengatakan akan membuat suatu spesialisasi khusus komoditi misalnya, kambing disatu dusun, maka ditempat lain tidak boleh ada kambing sebesar di tempat tersebut begitu juga komoditas lain akan berlaku seperti hal tersebut diaatas. Jadi Kepala Bappeda akan merancang sentral komoditas pada kawasan TTP sehingga dapat menjadi suatu percontohan kedepannya (adiwirawan).

PETERNAK BELOK SIDAN IKUTI BINTEK PENGUATAN PEMBIBITAN DAN PRODUKSI TERNAK POTONG

 

Kementerian Pertanian mengeluarkan berbagai macam terobosan yang bertujuan untuk mensejahteraan rakyat Indonesia. Salah satu terobosan yang saat ini sedang dilaksanakan adalah Sentra Peternakan Rakyat (SPR). Dalam program SPR, Dinas Peternakan Provinsi Bali dan BPTP Bali gencar melakukan Bimbingan Teknis (Bimtek) kepada peternak yang mengikuti program ini, untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas peternak di Bali.

Tak lebih dari 50 orang anggota kelompok ternak sapi, telah mengikuti Bimtek di Desa Belok Sidan, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung pada akhir bulan Juni 2016. Salah satu tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan pemahaman bagi peternak dalam melaksanakan budidaya sapi potong. Para peternak mengikuti dengan tekun materi yang diberikan oleh para narasumber dari Dinas Peternakan Provinsi Bali dan BPTP Bali.

“Ada beberapa materi yang kita berikan dalam bimtek kali ini diantaranya, upaya meningkatkan populasi, produksi, pengolahan limbah untuk pakan dan produktivitas. Serta, meningkatkan mutu, meningkatkan ketersediaan bahan pangan asal hewan, mewujudkan budidaya sapi potong yang sehat dan ramah lingkungan serta meningkatkan dayasaing”, jelas Kabid Produksi Dinas Peternakan Prov. Bali.

Sementara itu, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Ir. A.A. Ngurah Bagus Kamandalu, M.Si mengatakan, SPR fokusnya adalah transfer ilmu yang dibantu oleh BPTP Bali dan dinas terkait untuk mengajari peternak-peternak kecil supaya sumber daya manusianya meningkat. Sebelumnya para peternak tidak mengerti mengenai pakan ternak, kawin melalui inseminasi buatan, dan beberapa hal penting terkait masalah ternak. Program SPR memberikan ilmu pengetahuan mengenai hal tersebut.

"Harapan kami, mudah-mudahan program SPR ini terus berjalan karena ini program yang sangat penting bagi para peternak, khususnya untuk meningkatkan perekonomian," Harap Kepala BPTP Bali. (Adiwirawan)

BPTP Bali Public Hearingkan Standar Pelayanan Publik

 

Salah satu tugas Institusi Pemerintah adalah menyelenggarakan pelayanan publik. Sebagaimana yang di atur dalam  Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 dimana setiap institusi pemerintah diwajibkan membuat Standar Pelayanan Publik. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali sebagai salah satu UPT Pusat di bawah Badan Litbang Pertanian telah memaklumatkan pelayanan publik yang pada intinya menyangkut aspek pelayanan administrasi, jasa dan barang/produk. ‘’Kami telah menyusun Standar Pelayanan Publik dalam rangka memberikan pelayanan prima kepada pengguna layananan” Kepala BPTP Bali Ir. A.A  Kamandalu, M.Si dalam sambutannya pada acara Public HearingStandar Pelayanan Publik BPTP Bali (23/8/2016).

Acara Public Hearing ini sebagai kelanjutan dari sosialisasi Standar Pelayanan Publik yang telah sukses dilaksanakan di internal BPTP Bali. Acara Public Hearing Standar pelayanan BPTP Bali resmi di Buka oleh Kepala BPTP Bali dan disaksikan oleh Kepala Ombudsman Perwakilan Provinsi Bali, Umar Ibnu Alkhatab, S.Sos., M.Si, yang juga sebagai narasumber  tentang bagaimana penyelenggaraan pelayanan publik berdasarkan UU No. 25 tahun 2009. "Kami dari Ombudsman merasa senang BPTP Bali melaksanakan Public Hearing ini” ungkap Kepala Ombudsman. Dan diharapkan nantinya Public Hearing ini  tidak hanya dilakukan sekali saja. “Apabila nanti dalam pelaksanaan pelayanan belum maksimal dan harus melakukan perubahan terhadap standar pelayanan maka perubahan standar pelayanan tersebut harus dipublic hearingkan lagi” tandasnya.

Acara Public Hearing Standar Pelayanan Publik BPTP Bali dihadiri oleh peserta dari Instansi terkait tingkat Provinsi di Bali, Bappeda Bali, Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Perikanan, dan Kehutanan tingkat Kabupaten Kota di Bali, Universitas Udayana, Universitas Warmadewa, Universitas Mahasaraswati, Mahasiswa dan Kelompok tani. Jumlah peserta seluruhnya sebanyak 70 orang. Standar Pelayanan Publik BPTP Bali yang telah di susun dipaparkan dihadapan para peserta Public Hearing oleh Ir. Ketut Kariada, M.Sc, Kepala Seksi Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian BPTP Bali. Dalam Pemaparannya dijelaskan empat belas komponen pelayanan yang ada di BPTP Bali.

Hal penting yang diperoleh dari pertemuan Public Hearing Standar Pelayanan BPTP Bali ini adalah 1). Pelayanan masyarakat/publik harus mengacu pada Undang-Undang No. 25 Tahun 2009. tentang Pelayanan Publik. 2). Jenis pelayanan yang diberikan oleh BPTP Bali bukan saja dalam bentuk fisik, tetapi juga pelayanan informasi, konsultasi dan rekomendasi. 3). Pengguna layanan dan pelaksana layanan harus sama-sama mengerti tentang prosedur dan mekanisme memperoleh layananan publik 4).Komitmen dari pimpinan sangat diperlukan dalam pengelengaraan pelayanan publik.

Demontrasi Alat Combine Harvester di Subak Abaan

 


Dalam upaya mendukung suksesnya kegiatan program Ketahanan Pangan di Provinsi Bali, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, BPTP Bali dan Institusi terkait melakukan Bimbingan Teknis (Bimtek) penggunaan alat pasca panen padi Combine Harvester di Subak Aban, Darmasaba, Kecamatan Abiansmal Kabupaten Badung, Jumat (24/6/2016). Bimtek ini dilaksanakan Dalam rangka meningkatkan keterampilan petani terhadap penanganan pasca panen khususnya tanaman padi.

Diharapkan dengan di laksanakannya kegiatan ini petani benar-benar bisa menangani produksi padi agar lebih meningkat. Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Bali, Ida Bagus Wisnuwardhana mengatakan, di sektor pertanian khususnya padi sawah dihadapkan berbagai persoalan. Diantaranya, tenaga kerja, mulai dari olah tanah, tanam dan panen semakin langka.

“sudah menjadi keharusan pemakaian alsintan untuk mengantisipasi kelangkaan itu. Dengan pemakaian alat panen padi Combine Harvester, panen akan lebih cepat. Setidaknya biaya tenaga kerja akan semakin irit dan hasilnya akan lebih baik. Dengan 2 orang tenaga kerja dan hanya memakan waktu beberapa jam, mamapu memanen lebih dari 1 ha,” jelasnya.

Pemakaian Combine Harvester, lanjut Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, memang harus dilakukan secara selektif. Karena, harus kita sesuaikan dengan topografi atau kondisi setempat. Tidak semua lahan persawahan di Bali datar. “Yang jelas jika dibandingkan ala konvensional, alat ini akan mampu menekan kehilangan hasil panen dan mengatasi kelangkaan tenaga kerja,” tandasnya.

Hal senada juga disampaikan Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Ir. A.A. Ngurah Bagus Kamandalu, M.Si, Perekayasaan teknologi mekanisasi khususnya untuk tanaman padi sangatlah penting, mengingat kondisi Indonesia sekarang ini mulai menghadapi kelangkaan  tenaga kerja di sektor pertanian. Dalam kurun 10 tahun terakhir ini terjadi pergeseran sebesar 5 juta rumah tangga tani ke arah sektor industri dan jasa informal lainnya.

“Pengembangan teknologi mekanisasi di bidang pertanian mempunyai prospek yang sangat bagus ke depannya. Sekaligus menjawab tantangan kekurangan ketersediaan sumberdaya manusia di bidang pertanian.

Selain itu pengembangan teknologi mekanisasi pertanian akan dapat membantu mengurangi tingginya biaya produksi di bidang pertanian,” pungkas Kepala BPTP Bali. (Adiwirawan)

Subcategories

Subcategories