Info Aktual

BPTP dan Petani Muda Keren Bersama Bangkitkan Generasi Muda Pertanian

Menanggapi permasalahan tersebut pemerintah dan beberapa intansi di Bali, diantaranya Pemerintah Kabupaten Klungkung, di wakili Dinas pertanian Kabupaten Klungkung, Balai pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali, Fakultas Pertanian Universitas Udayana, bersama Junior Chamber International (JCI) atau yang juga disebut petani muda kren, melakukan kegiatan Talk show dengan tema “Mari Bertani” yang bertempat di kantor Bupati Kungkung (17/10/16).

Kepala BPTP Bali, Ir. A.A. Ngurah Bagus Kamandalu, M.Si dalam kesempatan tersebut Terus memompa semangat peserta Talk show untuk mengembangkan semangat bertani mereka. Beliau juga menyarankan kepada peserta agar mau membangun model percontohan pertanian Bio Industri, yang menekankan integrasi tanaman-ternak. Menurutnya sistem integrasi tanaman ternak sangat bagus untuk diterapkan, karena terbukti mampu meningkatkan pendapatan petani melalui pengurangan penggunaan input dari luar.

Kepala BPTP menyebutkan beberapa indikator keberhasilan dari suatu usaha pertanian antara lain, meningkatnya produktivitas, memperoleh nilai tambah, diversifikasi produk sesuai permintaan pasar, meningkatnya aktivitas kelompok tani, meningkatnya kinerja kelembagaan pendukung, dan terbangunnya kemitraan dengan pihak lain. “Semua indikator tersebut itu berdampak pada meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan petani”tegasnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Klungkung mengatakan kegiatan Talk show ini sebagai upaya mempercepat terwujudnya visi Kabupaten Klungkung yaitu, Gerakan Masyarakat Santun dan Inovatif “Gema Santi” Klungkung yang unggul dan sejahtera.  Dinas pertanian menjabarkan konsep gema santi dalam suatu aksi program yang disebut Gerakan Masyarakat Pemberdayaan Petani atau “Gema Pemberani”. Sedangkan sebagai wujud nyata dari program Gema Pemberani adalah menyalurkan beras local melalui KUD kepada pegawai negri sipil di lingkungan  Pemerintah Kabupaten Klungkung.

Ketua JCI Farmers Club atau Gabungan petani muda kren menyatakan, ingin menjawab kegelisahan akan kehabisan generasi petani kedepan. Mereka berharap bisa  terus melahirkan petani-petani muda yang modern karena JCI Farmers Club Ini berkomitmen akan mengubah paradigma anak-anak muda, bahwa menjadi petani itu tidak mesti bergelut dengan kotor tetapi bisa menjadi petani yang sangat keren kedepannya. (Adiwirawan)

 

Dampak Perubahan Iklim Pada Sektor Pertanian

Dampak perubahan iklim dapat kita lihat melalui kecendrungan penurunan curah hujan di kawasan benua maritim, terutama di wilayah Indonesia bagian Selatan. Jika kenaikan suhu lebih dari 2oC maka dampak perubahan iklim akan semakin sulit diatasi, dalam tren kenaikan proyeksi perubahan Iklim. Pada kurun waktu 100 th terakhir ini telah terjadi peningkatan cuaca ekstrim seperti kebanjiran, kekeringan, serta anomaly Iklim.

Kerentanan sektor pertanian tercermin dalam degradasi sumber daya lahan pertanian, pencemaran lahan pertanian, kekurangan air, kebanjiran, dan konversi lahan. Ketidakmampuan suatu system untuk menangani dampak perubahan iklim, diperkirakan akan berdampak buruk kedepannya. Pembahasan dampak perubahan Iklim ini dibahas Kementrian Pertanian dengan Kementrian Lingkungan Hidup, Kamis 29 September 2016.

Dalam kontek perubahan iklim, posisi sektor pertanian di Indonesia adalah sebagai penyedia pangan, bahan baku industry, penyedia bahan pakan, Bio energi, serta mengutamakan adaptasi tanpa mengabaikan mitigasi. Sementara itu adaptasi memerlukan dukungan inovasi teknologi yang merupakan keharusan karena berhubungan erat dengan ketahanan pangan dan kehidupan masyarakat. Kalender tanam terpadu serta teknologi lainnya merupakan opsi dalam melakukan aksi adaptasi terhadap perubahan iklim.

Terkait pembahasan dampak perubahan Iklim Kepala BPTB Bali, Ir. A.A. Ngurah Bagus Kamandalu, M.Si memaparkan, pihaknya telah mengimlementasikan dalam bentuk aksi model pertanian bio industri pada dataran tinggi di Desa Antapan Kecamatan Baturiti Kabupaten  Tabanan yang notabennya tempat ini sangat kekurangan air. Menjawab tantangan tersebut Kepala BPTB Bali melalui Program Kementerian Pertanian Memberikan bantuan pompa hidram yang mampu mengangkat air dengan ketinggian ratusan meter, serta memberikan penampung air (embung) yang sekaligus dimanfaatkan sebagai kolam ikan, perangkap hama di malam hari, serta sebagai wahana rekreasi. Tidak hanya itu Beliau juga menugaskan stafnya untuk mendampingi dan memberikan pelatihan pengolahan hasil pertanian bagi kelompok wanita tani di lokasi kegiatan Bio industri.(Adiwirawan)

Rapat Evaluasi Luas Tambah Tanam Padi Sawah Periode 2015-2016

 

Pelaksanaan Luas Tambah Tanam (LTT) di Provinsi Bali terus gencar dilaksanakan. Hal tersebut terbukti dengan keseriusan berbagai pihak diantaranya Staf Ahli Kementerian Pertanian, Kepala BPTP Bali, Kepala Dinas Pertanian Propinsi Bali, Kasiter Korem 163/WSA,  pihak Asuransi, Badan Pusat Statistik Propinsi Bali dan seluruh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kota seBali melaksanakan  rapat evaluasi  LTT padi sawah Oktober 2015-2016 di ruang pertemuan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Bali.

Pada rapat tersebut ada banyak hal yang di bahas diantaranya ketersediaan air, olah tanah, system dan waktu tanam, ketersediaan bibit, pupuk serta target tanam 5.000. Ha di Bulan Oktober ini. Untuk mewujudkan target tersebut jajaran intansi terkait sepakat bersama-sama turun ke lapangan untuk mempersiapkan tanam di Bulan Oktober ini.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Bali, Ir. Ida Bagus Wisnuwardhana, M.Si mengharapkan Luas Tambah Tanam (LTT) padi sawah wajib ditingkatkan. Menurut beliau dengan bantuan peralatan pasca panen, pupuk, teknologi serta pendampingan dari berbagai instansi terkait maka beliau optimis target 5.000 Ha dapat terwujud.

Kepala BPTP Bali Bali, Ir. A.A. Ngurah Bagus Kamandalu, M.Si, sangat berharap sumber daya  manusia yang memberikan pemahaman kepada petani perlu di tingkatkan. Sehingga mampu mengajak petani untuk mau merubah kebiasaannya dalam hal cara tanam ataupun merubah varietas lama ke varitas unggul baru yang di sarankan. Varietas baru padi yang dimaksud seperti, Inpari 30,Situbagendit, Inpago 9 dan beberapa varitas baru lainnya.

Kasister Korem 163/WSA Mayor Infantri, I Gusti Bagus Wisastra dengan semangat tinggi menyampaikan kepada seluruh jajaran instansi terkait bersma-sama harus segera mengajak staf Kasiter di bawah beliau untuk bersatu padu mensukseskan  target tanam di Bulan Oktober ini. Beliau juga berharap kalau ada permasalahan jangan sampai kegiatan tanam tertunda. Berbicara masalah pembuatan embung beliau menanyakan boleh atau tidaknya TNI terlibat, membantu secara swadaya serta siap meneteskan keringan untuk keberhasilan target tanam Oktober ini. (Adiwirawan)

 

PERESMIAN KAWASAN AGROWISATA GIRI ALAM

Kopi adalah salah satu komoditas ekspor perkebunan yang memiliki peranan yang sangat penting untuk memperoleh devisa. Sebagai penghasil devisa non migas, kopi merupakan peringkat ke empat penghasil devisa setelah kayu. Pembangunan perkebunan kopi di Indonesia dikembangkan guna meningkatkan kebutuhan dalam Negeri dan kebutuhan Ekspor.

Kopi dijadikan salah satu komoditan unggulan di Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Guna lebih meningkatkan pendapatan petani, beberapa Intansi terkait bekerjasama mengemas komoditas kopi di Dusun Petung, Desa Batur Tengah, Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli ini menjadi sebuah kawasan Agrowisata. Tujuan mulia tersebut didukung berbagai pihak termasuk BPTP BALI Sebagai suplai teknologi pertanian.

Peresmian Kawasan Agrowisata Giri Alam yang terletak di Dusun Petung, Desa Batur Tengah, Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli di laksanakan oleh Deputi BI, Bapak Mirza Adityaswara tanggal 1 Oktober 2016. Beliau juga menyampaikan akan selalu membantu Kementrian Pertanian guna mampu menjaga nilai rupiah, Karena kopi merupakan produk ekspor. ‘’kurs rupiah bisa di buat stabil jika ekspornya meningkat, serta pariwisatanya masuk banyak’’. Jelasnya. Bank indonesia masuk mendukung kawasan agrowisata kopi karna mempunyai mandat untuk menjaga kesetabilan rupiah.  Deputi BI juga berharap setelah bang Indonesia tidak lagi terlibat di daerah tersebut, programnya tetap dipelihara oleh Masyarakat dan Pemda setempat. (Adiwirawan)

 

Interaktif Membahas Sumberdaya Air Terkait Swasembada Pangan

Dalam pembangunan ekonomi, hingga kini di daerah Bali masih bertumpu pada sektor pariwisata, industri dan pertanian. Dalam pembangunan pertanian secara nasional upaya swasembada pangan menjadi salah satu target utama karena pangan merupakan komoditas strategis. Untuk memenuhi kebutuhan pangan secara nasional, hingga kini beberapa komoditi pangan masih harus kita import sehingga bisa dikatakan bahwa ketahanan pangan kita belum mantap.

Beberapa produk pangan yang masih harus diimport antara lain kedelai, jagung, gula dan daging sapi. Bahkan beras sebagai bahan pangan pokok kita, belum secara berkelanjutan kita penuhi secara swadaya. Pada saat-saat tertentu beras pun terpaksa harus kita import untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Berbagai institusi terkait sesuai dengan tupoksinya telah berupaya keras untuk meningkatkan produktivitas pangan, terutama padi, kedelai jagung, gula dan daging sapi guna mengejar swasembada. Berbagai strategi dan langkah pun telah ditempuh. tetapi kendala dan tantangan muncul silih berganti menghadang program ini.

Salah satu tantangan besar dalam upaya swasembada pangan adalah persoalan air. Air merupakan salah satu sumber daya pertanian yang menjadi faktor penting dalam pengembangan tanaman pangan, tanaman pakan maupun tanaman industri. Karena kesalahan manajemen pada waktu dan di lokasi tertentu, air bisa melimpah ruah, terbuang, bahkan menimbulkan bencana banjir. Di waktu dan tempat yang lain banyak lahan pertanian yang gagal panen karena kekeringan. Banyak pakar lingkungan memprediksi dalam satu dasawarsa kedepan, bila tidak dilakukan pembenahan manajemen yang tepat, Bali akan mengalami devisit air. Dan tanda-tanda itu semakin tampak antara lain dimusim kemarau lebih dari 50 % sungai-sungai di Bali telah kering tanpa air. Disamping itu, kini semakin banyak areal sawah yang hanya ditanami padi sekali dalam setahun. Alasannya karena ketidaktersediannya air.

Ketersedian air di suatu wilayah bergantung dengan kondisi daerah tangkapan air, seperti kawasan hutan dan perkebunan. Keberadaan perkebunan kopi yang bersifat hidroorologis yang luasannya sekitar 35.000 hektar amat membantu dalam penyediaan mata air di Bali. Tapi sayangnya, dibeberapa daerah, karena alasan ekonomi tanaman kopi ditebang lantas diganti tanaman jeruk. Ini amat membahayakan karena tanaman jeruk neraca airnya minus. Jika ini dibiarkan terus akan semakin mempersulit untuk pemenuhan air dimasa mendatang.

Membahas kaitan air dengan upaya swasembada pangan, BPTP Bali bekerjasama dengan Radio Republik Indonesia (RRI) Stasiun Denpasar, hari Rabu (12/10/2016), menyelenggarakan acara interaktif secara live bertempat di kantor BPTP Bali. Narasumber yang hadir membahas masalah sumberdaya air terkait swasembada pangan ini antara lain dari Dinas Perkebunan Provinsi Bali, Dinas Kehutanan Provinsi Bali, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi Bali, Koordinator Penyuluh Pertanian Spesialis BPTP Bali.

 

Adapun peserta yang menghadiri langsung pada acara live ini adalah dari Junior Chamber International (JCI) Bali, Peneliti dan Penyuluh BPTP Bali, dan perwakilan petani di Bali.

PESERTA WORKSHOP PENANGANAN DAMPAK PERUBAHAN IKLIM KUNJUNGI AKSI NYATA KEGIATAN BPTP BALI

 

 

Kepala BPTB Bali, Ir. A.A. Ngurah Bagus Kamandalu, M.Si mengatakan Model Pertanian Bio Industri merupakan program Kementrian Pertanian yang intinya mampu meningkatkan pendapatan petani. Pada awalnya di Desa Antapan, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan ini terjadi kesenjangan jumlah produksi dan harga sayuran yang sangat tinggi antara musim kemarau dan musim hujan. Pada musim kemarau harga sayuran sangat tinggi tetapi petani tidak bisa memproduksi, begitu juga sebaliknya pada musim hujan produksi tinggi tetapi harga sangat murah.

Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti (30/8/2016) berkenan menerima kunjungan peserta workshop penanganan dampak perubahan iklim. Pada Sambutannya Bupati memaparkan bahwa Kabupaten Tabanan merupakan lumbung padinya Bali, sehingga beliau membuat Perda perlindungan petani. Diharapka dengan perda ini petani akan betah menjadi petani. Tidak hanya itu beliau juga membuat Bumda dan Bumdes. Bupati tabanan mengatakan bahwa pertanian Bio industri akan dikemas menjadi Desa wisata. ''Pertanian disini merupakan pertanian yang sudah ter integrit seperti sayur diolah menjadi jus, disini juga ada ikan diolah menjadi kripik ikan'' tandasnya. Bupati juga mengharapkan kepada Kepala BPTP Bali bahwa terus mengembangkan pertanian Bio indusrti dan Bupati juga akan menganggarkan pada anggaran 2017 nanti.

 

Ditengah trik matahari peserta Workshop Penanganan Dampak Perubahan Iklim yang di hadiri seluruh Kepala Dinas Pertanian di Indonesia berkeliling kawasan Bio Industri, Desa Antapan,  Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan. Antusias para peserta terlihat diskusi mereka dengan pendamping.

Dalam perjalanannya peserta kunjungan disajikan jus sayuran dengan berbagai rasa, diantaranya jus sayur rasa adpokat, rasa nenas, rasa melon. Setelah itirahat minum peserta melanjutkan perjalanan menuju kandang koloni sapi yang ada di kawasan Bio Industri tersebut. Dikawasan Bio industri, limbah sapi merupakan sumber pupuk organik yang sangat bagus bagi petani (Adiwirawan).

Bimbingan Teknis Budidaya Tanaman untuk Petani Jeruk

Jeruk merupakan komoditas buah yang cukup menguntungkan untuk diusahakan. Agribisnis jeruk, jika diusahakan dengan sungguh-sungguh terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan petani, dan dapat menumbuh-kembangkan perekonomian regional serta peningkatan pendapatan nasional. Nilai ekonomis jeruk dapat dilihat dari tingkat kesejahteraan petaninya yang relatif tinggi. Keuntungan usahatani jeruk biasanya mulai diperoleh pada tahun ke-4, dengan besar yang bervariasi tergantung jenis maupun lokasi.

Program pengembangan kawasan agribisnis hortikultura (PKAH) merupakan salah satu program strategis Kementerian Pertanian.  Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali sebagai salah satu ujung tombak Badan Litbang Pertanian,  mempunyai peran yang sangat penting terhadap keberhasilan program tersebut  yang diimplementasikan melalui kegiatan pendampingan.

Kegiatan pendampingan pengembangan kawasan komoditas jeruk di Bali dilaksanakan di 4 (empat) lokasi diantaranya 2 lokasi pendampingan lama dan 2 lokasi pendampingan yang baru. Untuk Kabupaten Buleleng dilaksanakan di Kelompok Tani Gumbleng Amerta, Desa Tukad Sumaga, Kecamatan Gerogak (lokasi lama) dan di Kelompok Tani Wisnu Nadi, Desa Pejarakan, Kecamatan Gerogak (lokasi baru).

Bimbingan Teknologi (Bimtek) merupakan suatu tempat pendidikan non formal bagi petani untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam mengenali potensi, menyusun rencana usahatani, mengatasi permasalahan, mengambil keputusan dan menerapkan teknologi yang sesuai dengan kondisi sumberdaya setempat secara sinergis dan berwawasan lingkungan sehingga usahataninya menjadi efisien, berproduktivitas tinggi dan berkelanjutan.

Selasa, (11/10/16) Tim pendampingan jeruk dari BPTP Bali melakukan bimtek terhadap petani, di Kelompok tani ternak Wisnu Nadi, Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak Buleleng. Sebagai narasumber adalah dua orang peneliti dari BPTP Bali, 1) Ni Putu Sutami, SP, MP yang sekaligus sebagai penanggung jawab kegiatan mengajarkan kepada petani tentang tehnik budidaya jeruk yang benar mulai dari segi pemilihan bibit sampai pemanenan, 2) Dr. Ir. Ni Made Delly Resiani, MP memberikan materi tentang pengendalian hama penyakit pada tanaman jeruk. Ni Made Delly mengajak petani agar dalam mengendalikan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) pada tanaman jeruk menggunakan pestisida hayati karena selain murah juga aman bagi lingkungan. Menurutnya banyak sekali bahan-bahan lokal yang bisa dimanfaatkan sebagai pestisida, seperti daun mindi, sembung, sirsak, dan lainnya.  “Pestisida kimia apabila tidak tepat penggunaannya akan menyebabkan kerusakan lingkungan dan terjadi resistensi pada hama dan penyakit tertentu”. Jelasnya lagi kepada petani.

 

 

FESTIVAL AGRIBISNIS TAHUN 2016 RESMI DIBUKA

DENPASAR – Acara Festival Agribisnis Tahun 2016, yang bertempat di lapangan Monumen Bajra Sandhi, Renon, Denpasar resmi dibuka oleh Gubernur Bali I Made Mangku Pastika, Jumat (30/ 09 2016) ditandai dengan pelepasan balon udara. Dalam sambutannya, Gubernur Bali mengungkapkan bahwa saat ini telah banyak produk pertanian lokal Bali yang memiliki citarasa dan kekhasan sendiri, yang tidak kalah dengan produk pertanian impor.

Beliau juga menghimbau masyarakat untuk mengurangi konsumsi buah impor dan berharap mulai saat ini masyarakat dapat hidup sehat dan memperhatikan gizi makanan  yang dikonsumsi sehingga tingkat hidup masyarakat Bali semakin tinggi dan berkualitas.‘’Saya harap Festival Agribisnis yang akan berlangsung selama 4 hari ini, dapat dimanfaatkan oleh para petani untuk memperkenalkan berbagai produk pertanian lokal kepada komponen pengusaha serta masyarakat lainnya’’ ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Ir. Ida Bagus Wisnuardhana, M.Si melaporkan bahwa tujuan dari diselenggarakannya kegiatan tersebut adalah untuk memperkenalkan dan memasyarakatkan produk pertanian lokal Bali kepada masyarakat, selain itu juga diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap produk pertanian lokal. Untuk itu tema “Peduli Petani, Konsumsilah Produk Pertanian Lokal” diangkat dalam festival agribisnis tahun ini yang diselenggarakan mulai tanggal 30 September – 3 Oktober 2016 yang bertempat di sebelah timur Monumen Bajra Sandhi, Renon, Denpasar. Festival diikuti oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten/ Kota se-Bali, Kelompok tani, serta beberapa pengusaha. Ia berharap acara tersebut dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh petani maupun masyarakat luas.

Pada kesempatan tersebut dilakukan penyerahan sertifikat Festival Agribisnis kepada kelompok tani yang mengembangkan tanaman organik. Disamping itu juga dilakukan penandatanganan kesepakatan dan kontrak bisnis kemitraan pemasaran antara kelompok tani dan mitra usaha.

Hadir dalam kesempatan tersebut perwakilan Bupati dan Walikota se-Bali, Perwakilan anggota DPRD Provinsi Bali, para, Kepala Dinas terkait, Kepala Instansi pemerintah terkait, Praktisi di bidang pertanian, Pengusaha, Petani, serta masyarakat umum.

Selesai acara pembukaan Gubernur Bali  robongan mengunjungi setiap stand pameran yang ikut dalam memeriahkan Festifal Agribisnis tahun ini. Kunjungan ke stand Pameran BPTP Bali, Bapak Gubernur Bali disambut oleh Kepala BPTP Bali Ir. A.A Ngurah Bagus Kamandalu, M.Si beserta Staf BPTP Bali Lainnya. (EXO)

Mempersiapkan SDM Pertanian untuk Swasembada Pangan

 


Sektor pertanian sampai saat ini masih menjadi gantungan hidup sebagian besar masyarakat di Indonesia.  Sekitar 44 % dari tenaga kerja di Indonesia bermatapecaharian sebagai petani,  disamping itu, sektor pertanian bertanggungjawab dalam penyediaan bahan pangan sehingga kemandirian dan ketahanan pangan di negara kita amat bergantung dari keberhasilan dalam pengembangan pertanian.


Data BPS menunjukakan bahwa selama 10 tahun terakhir, Bali kehilangan 84.000 KK petani atau kehilangan 8.400 KK petani per tahun. Sejalan dengan laju alih profesi para petani, maka lahan pertanian pun kian berkurang terkonversi menjadi bangunan perumahan, pertokoan, tempat rekreasi, jalan dan lain-lain. Jika fenomena ini dibiarkan terus maka dapat dipastikan cita-cita swasembada pangan akan semakin jauh dari kenyataan.

Bagaimana respon pemerintah dan pihak-pihak terkait dalam menghadapi fenomena ini?, masalah-masalah tersebut dibahas dalam acara talk show di Stasiun TVRI Denpasar (06/10/2016) bersama paranarasumber antara lain, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali, Ir. Ida Bagus Wisnu Wardana, Kepala BPTP Bali, Ir. A.A Ngurah Bagus Kamandalu, M.Si, Ketua HKTI Bali, Prof. Dr.Ir. I Nyoman Suparta, M.S, dan Perwakilan dari Perkumpulan Petani Muda Indonesia. Audiens berasal dari Perkumpulan petani muda Indonesia, perwakilan pendamping simantri di Bali, serta perwakilan dari petani di Bali. Dalam acara talk show kali ini kepala BPTP Bali mengatakan untuk mempersiapkan SDM Pertanian ini pendampingan dari pemerintah sangat diperlukan sebagai motivasi awal dan juga jiwa Entrepreneur harus dimunculkan oleh generasi muda sekarang ini.

Meskipun Indonesia dikenal sebagai Negara agraris untuk memenuhi kebutuhan beberapa komoditas pangan hingga kini masih di import seperti jagung, kedelai, gula dan daging sapi bahkan bawang merah dan cabai juga demikian. Sementara swasembada beras belum juga berkelanjutan dimana saat-saat tertentu kita mampu berswasembada, tetapi dalam waktu-waktu lain kita juga harus import.

Seirama dengan pertumbuhan penduduk, maka kebutuhan pangan kita pun terus meningkat sehingga menuntut peningkatan ketersediaan pangan, karena itu peningkatan produktifitas pangan mutlak diperlukan. Salah satu kunci utama peningkatan produksi pangan di dalam negeri adalah faktor sumberdaya manusia pertanian terutama petani, disamping factor-faktor lain seperti ketersediaan air, lahan, dan sarana produksi.

Petani merupakan subyek terkait dengan sumberdaya manusia pertanian. Terdapat fenomena yang kurang menguntungkan dalamupaya peningkatan produksi pangan yakni makin menurunya minat masyarakat untuk menjadi petani. Fenomena ini terjadi secara nasional termasuk di Bali.

Delegasi dari 37 Negara Field trip Ke Subak Guama dan Taman Ayu

Hak-hak petani tentang Sumber Daya Genetik Tanaman untuk pangan telah diakui dalam perjanjian Internasional, karena kontribusi besar dari masyarakat petani lokal dari seluruh wilayah di dunia. Perjanjian Internasional menetapkan bahwa tanggung jawab untuk hak menerapkan pertanian terletak pada pemerintah. Setiap negara bebas untuk memilih tindakan yang dianggap perlu dan tepat, sesuai dengan kebutuhan dan prioritas sendiri. Dalam perjanjian Internasional juga disebutkan hak-hak petani untuk menyimpan, menggunakan, pertukaran dan menjual benih pertanian.

Kali ini Indonesia mengundang beberapa Negara untuk membahas tentang hak petani untuk menghasilkan dan memanfaatkan sumberdaya genetik yang ada di sekitarnya dan berbagi pengalaman dengan Negara lain tentang bagaimana Negara lain melindungi hak-hak petani mereka.

Kegiatan Farmers' Rights, Second  Global Consultation yang membahas tentang hak-hak petani dalam memanfaatkan Sumber Daya Genetik Tanaman dilaksanakan pada tanggal 27-30 September 2016 bertempat di Marriott Hotel Bali, Indonesia. Sekitar 80 delegasi dari 37 Negara yang hadir dalam acara kali ini. Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian dengan Sekretariat International Treaty on Plant Genetic Resources Foor Food and Agriculture (ITPGRFA), FAO dan Pemerintah Norwegia.

Sebagai Awal dari kegiatan peserta melakukan Field trip ke dua lokasi di Bali yaitu Subak Guama Tabanan dan Taman Ayu Luwak Kopi di Batubulan, Gianyar (27/9/2016). Penyelenggara kegiatan memilih mejadikan Subak Guama sebagai lokasi Field Trip karena Subak Guama merupakan salah satu organisasi petani yang selama ini memanfaatkan sumberdaya lokal dalam usahanya. Subak Guama merupakan binaan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali yang sudah berhasil dalam menerapkan teknologi-teknologi dari Badan Litbang Pertanian dan dalam penglolaannya Subak Guama telah berhasil memadukan antara manjemen traditional dengan manjemen modern.

Dalam acara konsultasi dengan petani delegasi dari Negara-Negara peserta banyak menanyakan tentang bagaimana pengelolaan usaha benih padi yang dilakukan oleh Subak Guama dan bagaimana tentang hak-hak mereka sebagai petani di Guama. Manager Koperasi Usaha Agribisnis Terpadu (KUAT) Subak Guama Wayan Atmajaya menjelaskan kepada para delegasi bahwa Subak Guama  merupakan organisasi petani yang telah di bangun  sejak tahun 2001 sampai dengan saat ini. Subak Guama secara intensif dibina oleh BPTP Bali dalam pengembangan agribisnis. Saat ini anggota Subak Guama berjumlah sebanyak 544 orang. Wayan Atmajaya juga menjelaskan usaha yang dilakukan KUAT Subak Guama antara lain, penyaluran bibit ternak sapi, penyaluran sarana produksi, dan usaha penangkaran benih padi yang menjadi kegiatan usaha pokok dan memiliki profit paling besar.

Setelah puas berkonsultasi dengan petani di Subak Guama di pandu oleh Kepala BPTP Bali dan peneliti dari BPTP Bali para delegasi melanjutkan perjalanan ke Br. Tegaltamu, Batubulan, Gianyar, tepatnya di Taman Ayu Luwak Kopi. Taman Ayu Luwak Kopi merupakan pihak yang selama ini telah mengadopsi Kopi luwak probiotik temuan Ir. Suprio Guntoro, peneliti di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali dan saat ini telah menjadi salah satu produk unggulan Badan Litbang Pertanian.

 



Subcategories

Subcategories