Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Polling

Informasi Apakah Yang Pengunjung Lihat Ketika Mengunjungi Website ini?
 

Kalender Kegiatan

Program Utama


Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP )

Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) merupakan program Kementerian Pertanian bagi petani di perdesaan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup, kemandirian, dan kesejahteraan. PUAP telah dilaksanakan mulai 2008 di bawah koordinasi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-M) dan berada dalam kelompok pemberdayaan masyarakat. Bentuk kegiatan PUAP adalah fasilitasi bantuan modal usaha agribisnis untuk petani baik petani pemilik, petani penggarap, buruh tani maupun rumah tangga tani yang dikoordinasikan/disalurkan melalui Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan)

Diseminasi Hasil Pengkajian Sumber Daya Genetik (SDG)

Daerah Bali memiliki kekayaan hayati berupa berbagai macam sumber daya genetik plasma nutfah tanaman, yang beberapa diantaranya bersifat endemik. Beberapa plasma nutfah endemik tersebut kini telah berhasil dibiakkan dan dikomersialkan seperti sapi bali, anjing kintamani, bahkan jalak bali pun kini telah dikembangkan oleh pihak swasta. Melalui sentuhan teknologi, beberapa sumber daya genetik endemik Bali terbukti memiliki nilai ekonomis penting seperti salak bali gula pasir, bambu bali, anjing kintamani dan sapi bali. Karena itu, beberapa plasma nutfah yang terancam punah atau semakin langka perlu segera kita lestarikan melalui penyuluhan, pembinaan serta konservasi. Dengan adanya sentra konservasi, disamping akan dapat menyelamatkan plasma nutfah tersebut dari kepunahan juga bisa dijadikan obyek riset untuk mendukung pemanfaatan dan pengembangannya. Melalui berbagai riset, diharapkan kedepan sumber daya genetik tersebut dapat dimanfaatkan secara komersial sehingga dapat memberikan konstribusi terhadap kesejahteraan masyarakat.

 



Pendampingan KRPL, KBI, dan Pengelolaan KBD di Provinsi Bali

Secara nasional lahan pekarangan yang tersedia relatif luas, sekitar 10,3 juta ha atau 14 % dari keseluruhan luas lahan pertanian. Oleh karena itu lahan pekarangan sangat potensial sebagai penyedia bahan pangan yang bernilai gizi dan memiliki nilai ekonomi tinggi.  Namun demikian, masyarakat di perdesaan masih belum banyak memanfaatkan lahan pekarangan sebagai areal pertanaman aneka komoditas pertanian, khususnya komoditas pangan. Melalui kegiatan pendampingan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), Kebun Bibit Induk (KBI) dan Kebun Bibit Desa (KBD) ini akan diperkenalkan cara pemanfaatan lahan pekarangan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga, cara-cara pengelolaan benih untuk kebutuhan kebun bibit desa dan pengelolaan kebun bibit desa agar selalu tersedia bibit untuk dikembangkan dan dibudidayakan di lokasi kegiatan (KRPL).Tujuan kegiatan Pendampingan KRPL, kebun bibit Induk dan KBD ini, antara lain: (1)Meningkatkan keterampilan keluarga dan masyarakat dalam pemanfaatan lahan pekarangan untuk budidaya tanaman, ternak, ikan, pengolahan hasil, dan pengelolaan limbah (rumah tangga, tanaman, dan ternak); (2) Memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga dan masyarakat secara lestari dalam suatu kawasan; (3) Mengembangkan kegiatan ekonomi produktif keluarga dan menciptakan lingkungan hijau yang bersih dan sehat secara mandiri.Dalam upaya meningkatkan dukungan terhadap pelaksanaan KRPL, pengembangan kebun bibit desa (KBD) menjadi sangat penting. Demikian juga dengan pendampingan KRPL yang dilaksanakan di 9 kabupaten kota diharapkan mampu meningkatkan kinerjanya dengan pendampingan inovasi teknologi sehingga terkelola dan mampu meningkatkan kemandirian pangan keluarga.

 





Kalender Tanam (KATAM) Terpadu

Sistem Informasi Kalender Tanam Terpadu merupakan pedoman atau alat bantu yang memberikan informasi spasial dan tabular tentang prediksi musim, awal waktu tanam, pola tanam, luas tanam potensial, wilayah rawan kekeringan dan banjir, serta rekomendasi dosis dan kebutuhan pupuk, varietas yang sesuai berdasarkan prakiraan iklim. Akibat perubahan iklim, hampir setiap tahun petani berhadapan dengan pergeseran musim terkait dengan perubahan pola curah hujan. Selain itu, tidak jarang pula petani berhadapan dengan kondisi perubahan iklim yang ekstrim, baik kering (El-Nino) maupun basah (La-Nina). Kondisi perubahan iklim yang ekstrim ini, memicu ancaman banjir, kekeringan dan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang berakibat pada penurunan produksi tanaman, bahkan gagal panen. Perubahan pola curah hujan harus menjadi perhatian yang serius dalam mengatur pola tanam, termasuk waktu tanam dan luas tanam, agar kesinambungan produksi dan kemandirian pangan nasional tidak terancam. Dengan demikian fungsi kalender tanam adalah mendukung upaya pengamanan dan peningkatan produksi pangan dalam kerangka Program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN), dan Ketahanan Pangan Nasional, termasuk pencapaian surplus 10 juta ton beras tahun 2014. Selain itu manfaat dan sasaran dari Sistem Informasi Kalender Tanam Terpadu adalah : (1) menentukan waktu tanam setiap musim (MH, MK-1 dan MK-2), (2) menentukan pola tanam, rotasi tanam dan rekomendasi teknologi pada skala kecamatan, (3) menduga potensi luas tanam untuk mendukung sistem perencanaan tanam dan produksi tanaman pangan, dan (4) mengurangi resiko penurunan dan kegagalan produksi akibat banjir, kekeringan dan serangan OPT. Keunggulan Sistem Informasi Kalender Tanam adalah : (1) dinamis dimana kalender tanam ini disusun berdasarkan prediksi iklim musiman dan tahunan, (2) opersional dan spesifik lokasi, yaitu didasarkan pada potensi sumberdaya iklim dan air, wilayah rawan bencana (banjir, kekeringan, OPT) tingkat kecamatan, (3) terpadu, diintegraskan dengan rekomendasi teknologi (pupuk benih dan PHT), (4) mudah diperbaharui, (5) mudah dipahami pengguna, karena disusun secara spasial dan tabular yang dilengkapi manual cara menggunakan sistem, dan (6) informatif, yaitu dapat dikomunikasikan dengan sistem inforasi website yang dapat diunduh setiap saat.

 



Analisis Zona Agroekosistem (AEZ) Semi Detail (Skala 1:50.000) Kabupaten/Kota di Bali

Teknologi pertanian dalam arti luas telah banyak tersedia, tetapi beberapa dantaranya belum secara spesifik untuk zone agroekosistem tertentu, sehingga sering terjadi penurunan produksi atau kegagalan berproduksi.Sistem pertanian berkelanjutan akan terwujud hanya apabila lahan digunakan untuk sistem pertanian yang tepat dengan cara pengelolaan yang sesuai. Apabila lahan tidak digunakan dengan tepat, produktivitas akan cepat menurun dan ekosistem menjadi terancam rusak. Penggunaan lahan yang tepat selain menjamin bahwa lahan dan alam ini memberikan manfaat untuk pemakai pada masa kini, juga menjamin bahwa sumberdaya alam ini bermanfaat untuk generasi penerus di masa-masa mendatang. Dengan mempertimbangkan keadaan agroekologi, penggunaan lahan berupa sistem produksi dan pilihan-pilihan tanaman yang tepat dapat ditentukan. Kegiatan pengkajian Zone Agroekosistem Semi Detail di Kabupaten Bangli dan Karangasem dilaksanakan dalam upaya menuju terwujudnya pertanian unggulan berkelanjutan yang berbasis sumberdaya lokal untuk meningkatkan kemandirian pangan, nilai tambah, daya saing, eksport, dan kesejahteraan petani.

Tujuan kegiatan ZAE ini adalah: (1) Menyusun data dan informasi tentang keadaan biofisik dan sosial ekonomi Kabupaten Bangli dan Karangasem ke dalam suatu sistem pangkalan data dan berbagai jenis peta sehingga tersedia informasi yang terpadu dan memadai mengenai keadaan lingkungan di Kabupaten Bangli dan Karangasem, (2) Melakukan analisis tentang kesesuaian beberapa jenis tanaman/komoditas pertanian penting serta kesesuaian teknologi di Kabupaten Bangli dan Karangasem, (3) Mengidentifikasi berbagai komoditas pertanian unggulan spesifik lokasi, serta mengidentifikasi kebutuhan teknologinya, dan (4) Memberikan masukan dalam rangka perencanaan penelitian, pengkajian, dan pengembangan komoditas unggulan spesifik lokasi.

 






Kajian Optimalisasi Usahatani Bawang Merah Ramah Lingkungan di Dearah Sentra Penggemukan Sapi di Bali

Bawang merah dan sapi merupakan komoditas strategis nasional yang mendapat perhatian serius dari pemerintah. Dalam upaya peningkatan kemandirian akan komoditas ini diperlukan terobosan dengan melihat segala peluang yang ada.  Pada usaha ternak sapi inovasi teknologi penggemukan serta pengelolaan limbah merupakan upaya yang dilakukan lewat program PSDSK, sedangkan pada usahatani bawang merah peluang yang bisa dilakukan yanitu dengan melihat gap kondisi aktual (saat ini) untuk diperbaiki.

Kendala utama dalam usahatani bawang merah adalah besarnya ketergantungan biaya untuk pembelian input luar seperti pupuk dan pestisida.  Dilaporkan lebih dari 34% biaya produksi adalah biaya untuk pembelian pestisida.  Demikian pula halnya dengan biaya untuk pembelian pupuk baik kimia maupun organik.

Di Bali, Kintamani merupakan sentra produksi bawang merah dengan produksi lebih dari 85% dari total produksi bawang merah Bali.  Di daerah ini juga merupakan daerah sentra pengemukan sapi bali.  Dilihat dari produktivitas dan sinergi, kedua komoditas ini masih belum optimal.  Produktivitas bawang merah di daerah ini masih kurang dari 10 ton/hektar.  Hal ini salah satunya disebabkan oleh kendala OPT seperti ulat bawang (Spodoptera exiqua),  sedangkan pada penggemukan sapi PBB ternak masih rendah (kurang dari 300 g/hari) sehingga masa pemeliharaan menjadi sangat lama (1,5-2 tahun) sampai ternak siap untuk dijual.

Kajian akan dilaksanakan di Desa Kedisan, Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli selama dua tahun yaitu dari tahun 2015-2016.  Lokasi kajian  dengan ketinggian >  1.000 m dpl merupakan sentra pengembangan bawang merah dan pengembangan sapi penggemukan. Kajian dipilah menjadi menjadi dua kajian yaitu kajian bawang merah ramah lingkungan dan kajian penggemukan sapi.  Kajian penggemukan sapi yang dilaksanakan diupayakan untuk mampu mendukung kajian bawang merah ramah lingkungan secara in situ dengan terkelolanya limbah ternak dengan baik menjadi pupuk organik padat dan cair (bio-urin).

Kajian bawang merah ramah lingkungan diarahkan pada dua kegiatan yaitu pengurangan penggunaan pupuk kimia dengan penggunaan pupuk organik dan kegiatan kedua yaitu pengendalian hama ulat bawang (Spodoptera exiqua)dengan menggunakan feromon seks.  Adapun kajian pemupukan yang diuji yaitu: P0: cara petani (menggunakan pupuk kimia dosis 300 kg urea/ha, 200 kg SP-36/ha dan KCl 200 kg/ha + 10 ton pupuk kandang ayam/ha); P1:menggunakan pupuk kimia dosis 300 kg urea/ha, 200 kg SP-36/ha dan KCl 200 kg/ha + 10 ton pupuk kandang sapi/ha; P2: menggunakan pupuk kimia dosis 200 kg urea/ha, 100 kg SP-36/ha dan KCl 100 kg/ha + 10 ton pupuk kandang sapi/ha + 5.000 liter bio urine sapi/ha; P3: menggunakan pupuk kimia dosis 200 kg urea/ha, 100 kg SP-36/ha dan KCl 100 kg/ha + 10 ton pupuk kandang ayam + bio urin sapi 5.000 liter/ha dan P4: Pupuk kandang sapi 15 ton/ha + 15.000 liter bio urin sapi/ha.  Pengamatan dilakukan terhadap aspek agronomis tanaman serta sifat fisik dan kimia tanah.







Produksi Benih

Varietas unggul merupakan salah satu komponen teknologi yang handal dan cukup besar sumbangannya dalam meningkatkan produksi padi nasional, baik dalam kaitannya dengan ketahanan pangan maupun peningkatan pendapatan petani.  Varietas unggul tanaman yang dihasilkan sudah cukup banyak, namun sering benihnya tidak tersedia di tingkat petani.  Melalui kegiatan penyediaan dan perbanyakan benih unggul secara berkelanjutan diharapkan dapat memecahkan permasalahan kelangkaan ketersediaan benih unggul bermutu yang selalu terjadi setiap tahunnya di Bali pada saat tanam baik dari segi kualitas maupun kuantitas.  Kegiatan ini bertujuan untuk : (1) Menghasilkan benih sumber padi (FS, SS, ES) agar selalu terjamin ketersediaannya sesuai dengan kebutuhan pengguna, (2) Mempercepat pengembangan dan penyebarluasan varietas unggul baru (VUB yang mampu meningkatan produksi, produktivitas, dan mutu hasil,(3) Mendukung upaya penyediaan benih bermutu bagi petani/pengguna lainnya secara cepat dan tepat serta berkelanjutan. Benih padi yang akan diproduksi melalui kegiatan ini adalah Ciherang SS/ES, Cigeulis FS/SS, Inpari 13 FS/SS, Inpari 14 FS/SS, Inpari 16 FS/SS, Inpari 20 FS/SS, dan Inpari 24 SS/ES




Terakhir Diperbaharui pada Kamis, 26 Februari 2015 15:03
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com