Cara Cepat Menyiapkan Benih Salak Gula Pasir

Salak gula pasir merupakan komoditas unggulan buah nasional spesifik lokasi dari Provinsi Bali. Salak Gula Pasir merupakan kultivar Salak Bali yang paling enak. Daging buah yang dimiliki oleh Salak Gula Pasir lebih tebal, lebih berair dan lebih manis dari Salak Pondoh. Rasa manis Salak Gula Pasir sudah terasa sejak buah masih muda. Pengembangan komoditas Salak Gula Pasir masih sangat memerlukan ketersediaan benih yang bermutu serta mudah diperoleh bagi masyarakat.

Pengembangan buah salak khususnya dalam usaha tani masih mengalami kendalam dalam akses mendapatkan benih buah Salak Gula Pasir yang berkualitas mengingat dalam pengembangan usaha tani nya memerlukan waktu yang cukup lama serta inventasi yang tidak sedikit nominalnya. Dengan demikian, masyarakat setempat serta para pelaku usaha tani Salak Gula Pasir membutuhkan jaminan kualitas terhadap benih Salak Gula Pasir. Untuk menjawab permasalahan tersebut, maka perlu suatu upaya perbenihan Salak Gula Pasir yang baik untuk menghasilkan benih yang berkualitas dan waktu perbenihan yang singkat.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Adijaya, dkk (2014) sebagai tim peneliti BPTP Bali, untuk mempercepat ketersediaan benih, pembibitan yang dilakukan dengan menggunakan polybag serta media tanam yang baik (tanah dicampur dengan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1) akan mampu mempercepat dan meningkatkan kualitas benih serta siap dipindahkan ke lahan pada umur 4 bulan hari setelah tanam.

Selain itu cara lain meningkatkan kualitas benih adalah dengan menggunakan pupuk organik cair. Pupuk organik memiliki kemampuan untuk memperbaiki kesuburan tanah dari aspek fisika, kimia dan biologi. Menurut beberapa penangkar benih di Bali, benih salak siap dipindahkan pada saat benih telah mencapai tinggi minimal 40 cm dan telah berdaun 4 atau berumur sekitar 6 bulan. Mengenai hal tersebut, tahun 2018 tim peneliti BPTP Bali telah melakukan pengkajian pemanfaatan pupuk organik cair dalam meningkatkan pertumbuhan benih Salak Gula Pasir. Dalam kegiatan kajian BPTP Bali, jenis pupuk organik yang digunakan ialah pupuk organik cair dari kotoran sapi (biourine), dan beberapa pupuk cair dari tanaman lidah buaya  (Aloevera) serta pupuk organik cair dari sampah organik. Dosis yang digunakan dalam kajian tersebut adalah, pupuk Biourine sebanyak 100cc/liter air, pupuk organik cair dari  Aloevera sebanyak 10cc/liter, dan pupuk organik cair dari sampah organik sebanyak 5cc/liter air.

Hasil kajian menunjukkan bahwa secara keseluruhan penambahan pupuk organik cair pada benih Salak Gula Pasir memberikan respon positif terhadap pertumbuhan benih Salak varietas Gula Pasir. Pupuk organik dari Aloevera dengan dosis 10cc/liter mampu menghasilkan tinggi tanaman paling cepat hingga mencapai standar benih yang diharapkan untuk siap disebar ke masyarakat. Kesimpulannya pemberian pupuk organik cair dapat mempercepat pertumbuhan benih Salak Gula Pasir.  

 

Pustaka

1. Adijaya, dkk. 2014. Laporan Akhir. Kajian Pembibitan, Peningkatan Produktivitas dan Kualitas Buah Salak Gula Pasir . BPTP Balitbangtan Provinsi Bali

2. Mahaputra, I Ketut, Arya, Nyoman Ngurah. 2018. Pengaruh Pupuk Organik Cair pada Pertumbuhan Benih Salak Gula Pasir. Buletin Teknologi dan Informasi Pertanian Penyebar Informasi Teknologi dan Hasil Pertanian. BPTP Balitbangtan Provinsi Bali