Tehnik Membuat Mikroorganisme Lokal (MOL) dan Pemanfaatannya

Limbah pertanian yang sudah tak terpakai memiliki nilai ekonomi rendah yang sebagian besar terdiri dari selulosa, memerlukan waktu 3-4 bulan untuk pengomposan. Waktu tersebut sangat tidak efektif jika petani menggunakan sistem pertanian intensif. Oleh karenanya petani sering hanya membakar sisa-sisa hasil produksi yang sebenarnya bisa diolah untuk dimanfaatkan. Sisa hasil produksi pertanian dapat diolah menjadi pakan, kompos, dan pupuk dengan sedikit sentuhan teknologi, salah satunya adalah dengan Mikroorganisme Lokal (MOL).

Mikroorganisme Lokal (MOL) merupakan produk yang dihasilkan dari proses fermentasi dari substrat/bahan tertentu yang diperbanyak dengan bahan alami mengandung karbohidrat (gula), protein, mineral, dan vitamin. Peran MOL adalah untuk mendegradasikan bahan-bahan seperti bahan organik untuk diproses menjadi kompos/pupuk organik, biourine (pupuk cair).

Limbah yang dapat digunakan dalam proses pembuatan MOL diantaranya adalah limbah rumah tangga yang berupa nasi basi, limbah buah, limbah sayur, dll. Limbah pertanian yang terdiri dari bonggol pisang, rebung bambu, kulit buah, dll. Dan limbah organik lain yang terdiri dari keong, limbah udang, dll.

Prinsip membuat MOL.

  • Persiapan media : 1 kg bahan dicampur dengan 1 kg gula merah, 1 ikat kecambah, 1 lembar daun lidah buaya, 1 ikat daun bambu yang sudah rusak sebagai sumber mikroba, ditambah 2 liter air kelapa lalu dihancurkan dan selanjutnya ditambah 15 liter air cucian beras. Bahan-bahan tersebut selanjutnya menjadi larutan yang disebut media tumbuh mikroba yang mengadung karbohidrat (sumber C), protein (sumber N), mineral dan vitamin.
  • Cara membuat : Peram media 3-5 hari hingga muncul aroma wangi. Larutan disaring, disimpan dalam botol, maka akan muncul gas, segera buang gas. Jika gas hilang, maka MOL siap digunakan.

Prinsip pembuatan pupuk hayati dengan fermenasi MOL berdasarkan inovasi yang dikembangkan oleh BPTP Bali antara lain a) mikroba diambil atau ‘dipancing’ dari sumbernya dengan menggunakan gula sebagai media tumbuh. Selanjutnya mikroba akan berkembangbiak dengan adanya energi dari gula yang sekaligus memproses limbah padat ataupun limbah cair menjadi pupuk hayati. Untuk mengetahui respon petani setempat terhadap teknologi MOL yang diintroduksikan, maka tim BPTP Bali melakukan wawancara dengan petani. Hasil wawancara menunjukkan bahwa 27 anggota (90%) menyatakan pentingnya memiliki input-input organik seperti aplikasi MOL dalam mengembangkan pertanian organik (Sumber : Laporan Tengah Tahun Pendampingan Pengembangan Kawasan Komoditas Kopi di Bali oleh Tim Pendamping Kopi BPTP Bali).

Mol untuk mengolah pupuk.

  • Untuk 1 ton limbah padat : 1 liter MOL diencerkan 10 kali + gula merah 2 sendok makan, aduk biarkan 30 menit
  • Tebar ke limbah, ditutup dengan karung atau lainnya difermentasi dalam 2-3 minggu
  • 10 hari dapat dibuka dan diisi lagi dengan MOL serta ditutup lagi
  • Setelah 3 minggu maka sudah dapat dibongkar dengan warna hitam / coklat seperti tanah dan pupuk organik telah siap dipakai.

Mol untuk membuat biourine

  • Masukkan 1 liter MOL dalam satu wadah penampung (misal ember besar) volume 1000 liter
  • Biarkan selama 5-7 hari untuk mendegradasi dan mendekomposisi gas amoniak
  • Selanjutnya tambahkan 1 liter MOL lagi, diamkan 1 jam lalu diputar selama 5-7 jam
  • Biourine telah siap diaplikasikan
  • Biourine diencerkan 5 kali lalu diaplikasikan pada tanaman (padi dan sayuran dosis 100 liter / ha diencerkan 5-10 kali)

MOL juga sebagai bionutrient mengandung auksin, sitokinin, giberelin, sehingga baik sebagai perangsang pertumbuhan akar. MOL bila dicampur biourine maka 1 liter MOL tambah 2 liter biourine diencerkan 10 kali baru diaplikasikan pada tanaman. MOL juga dimanfaatkan untuk mempercepat biogas menyala. Berdasarkan pengalaman pada saat pengisian awal digester dengan limbah ternak, tambahkan MOL sebanyak 5 liter ( digester volume 6,3 m3 atau digester kedalaman 2 m diameter 2 m tinggi kubah 0.5 m). Dalam 1 minggu biogas sudah menyala.

 

Artikel terkait :

  1. Manullang, Riama Rita., Rusmini., dan Daryono. 2017. Kombinasi Mikroorganisme Lokal Sebagai Bioaktivator Kompos. Jurnal Hutan Tropis Vol 5 No 3. Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
  2. Palupi, Nurul Puspita. 2015. Ragam Larutan Mikroorganisme Lokal Sebagai Dekomposter Rumput Gajah (Pennisetum Purpureum). Ziraa’ah Volume 40 Nomor 2 Halaman 123-128. Fakultas Pertanian. Universitas Mulawarman. Samarinda
  3. Kariada dkk. 2016 Laporan Tengah Tahun Pendampingan Pengembangan Kawasan Komoditas Kopi di Bali oleh Tim Pendampingan Kopi BPTP Bali. Denpasar