Pembuatan Pakan Awetan

Pakan awetan atau sering di sebut "Silase" merupakan pakan yang telah diawetkan dari bahan pakan berupa tanaman hijauan, limbah industri  pertanian, serta bahan pakan alami lainya, dengan jumlah kadar/ kandungan air pada tingkat tertentu. Pakan tersebut dimasukan dalam sebuah tempat yang tertutup rapat kedap udara, biasa disebut dengan silo, atau plastik kantong selama sekitar tiga minggu.  Di dalam silo tersebut akan terjadi beberapa tahap proses an-aerob (proses tanpa udara/oksigen), dimana bakteri asam laktat akan mengkonsumsi zat gula yang terdapat pada bahan baku, sehingga terjadilah proses fermentasi. Silase yang terbentuk karena proses fermentasi ini dapat di simpan untuk jangka waktu yang lama tanpa banyak mengurangi kandungan nutrisi dari bahan bakunya.

Tujuan utama pembuatan silase adalah untuk memaksimumkan pengawetan kandungan nutrisi yang terdapat pada hijauan atau bahan pakan ternak lainnya, agar bisa di disimpan dalam kurun waktu yang lama, untuk kemudian di berikan sebagai pakan bagi ternak khususnya untuk mengatasi kesulitan dalam mendapatkan pakan hijauan pada musim kemarau. Proses fermentasi yang tidak terkontrol akan mengakibatkan kandungan nutrisi pada bahan yang di awetkan menjadi berkurang jumlahnya. Diperlukan jenis zat tambahan agar kandungan nutrisi dalam silase tidak berkurang secara drastis, bahkan bisa memenuhi kebutuhan nutrisi ternak yang memakannya.

Syarat hijauan (tanaman) yang dibuat silase adalah segala jenis tumbuhan atau hijauan serta bijian yang di sukai oleh ternak, terutama yang mengandung banyak karbohidrat nya seperti : rumput, sorghum, jagung, biji-bijian kecil, tanaman tebu, tongkol gandum, tongkol jagung, pucuk tebu, batang nanas dan jerami padi. Sementara bahan tambahan dimaksudkan untuk meningkatkan dan mempertahankan kadar nutrisi yang terkandung pada bahan pakan silase. Penambahan bahan additive ini bisa dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Pemberian bahan tambahan secara langsung dengan menggunakan Biocas, aspergilus niger atau

Pemberian bahan tambahan secara tidak langsung ialah dengan memberikan tambahan bahan-bahan yang mengandung mikroba pemecah serat dan berfungsi untuk meningkatkan kandungan protein bahan pakan yang akan dijadikan silase. Salah satu yang digunakan dalam kegiatan ini adalah Super Dekomposer (SD), yang berfungsi untuk memfermentasi bahan pakan yang memiliki serat kasar yang tinggi seperti jerami padi dan palawija, sampah organic termasuk kotoran ternak. Dalam 1 liter bahan SD dapat digunakan untuk 1 – 2 ton bahan pakan ternak. Dan masa penyimpanan bahan pakan yang akan di fermentasi adalah 5 – 7 hari, dengan masa simpan SD mencapai 3 bulan.

Air yang dapat digunakan adalah air yang bersih, bukan air PDAM yang mengandung kaporit, atau air sumur yang bersih. Bahan lain yang perlu ditambahkan adalah Gula (pasir atau Bali)1 % dari volume air, Urea 0,5 % dari volume air dan bibit SD sebanyak 1%. Larutan ini selanjutnya diaduk agar merata dan menyatu dengan air, dan selanjutnya di diamkan selama 30 menit. Tujuannya adalah agar bibit SD yang terdiri dari mikroba pemecah serat dapat berkembang biak karena adanya makanan dan energi dari bahan urea dan gula yang diberikan sehingga menjadi banyak dan berlipat jumlahnya. Setelah 30 menit baru lah bahan ini disiramkan ke bahan pakan yang telah disiapkan dengan ketebalan 3 – 4 cm, setelah merata penyiramannya dapat ditumpuk kembali dengan tebal yang sama, begitu selanjutnya sampai bahan SD nya habis atau bahan pakan nya yang habis. Barulah selanjutnya disimpan dalam tempat yang tertutup kalau mungkin kedap udara. Dalam waktu 5 – 7 hari dapat dibuka dan dikering anginkan untuk selanjutnya dapat dijadikan pakan ternak yang berkualitas.

Sumber : Laporan Akhir Tahun 2017 BPTP Bali