Mengintip Potensi Padi Hibrida di Bali

Banyak petani di Indonesia  mengakui bahwa padi Hibrida memiliki potensi hasil yang tinggi. Tumbuhnya yang tegak dengan bulir-bulirnya yang penuh menjadi ciri khas keunggulan padi Hibrida.

Hari Senin (20/11), Kepala Balai bersama beberapa pegawai BPTP Bali, mengunjungi lokasi Gelar Teknogi Padi Hibrida di Subak Tajen, Desa Tajen, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali. Tujuan kunjungan adalah ingin melihat secara langsung performa padi Hibrida yang ditanam di lokasi Gelar Teknologi. Sampai di lokasi, BPTP Bali di sambut dengan ramah oleh kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Kecamatan Penebel serta Petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Tajen.

Kepala UPTD, Agus Palguna menjelaskan varietas padi Hibrida yang ditanam pada gelar teknologi sebanyak 20 varietas. Menurut pengamatannya rata-rata dari awal pertumbuhan padi Hibrida sangat bagus. “Masing-masing varietas yang ditanam disini menunjukkan keunggulan tersendiri” jelasnya menambahkan.

PPL Desa Tajen Baiq Winarti, menjelaskan petani di Subak Tajen sangat menyukai padi Hibrida, walaupun harga benih padi Hibrida lebih tinggi dibandingkan padi selain hibrida. “Sudah enam kali tanam petani di sini menanam padi hibrida”. Jelasnya.

Menurut Baiq Winarti, alasan petani di Subak Tajen memilih padi Hibrida karena memiliki produksi yang tinggi. Lebih lanjut dijelaskan, produksi padi hibrida lebih tinggi hingga dua ton dibandingkan padi selain Hibrida. Potensi produksi yang tinggi tersebut menyebabkan penjualan padi Hibrida di Subak Tajen dengan sistem tebasan memiliki selisih harga sekitar lima juta rupiah per hektarnya dibandingkan dengan padi selain Hibrida.(swk)