Kengendalian Penggerek Buah Kakao Dengan Konsep PHT

Penggerek Buah kakao (PBK) merupakan salah satu hama yang paling ditakuti para petani kakao. Larva PBK memakan daging buah tepat di bawah kulit dan di antara biji. Akibat serangan PBK produksi kakao dapat merosot hingga 80%.

Hama Penggerek Buah Kakao (PBK) ini memiliki nama latin Conopomorpha cramerella. Hama PBK berkembang biak dengan cara meletakkan telur-telurnya di alur kulit buah kakao. Larva yang keluar dari telur biasanya langsung memasuki buah denga cara membuat lubang kecil pada kulit buah. Serangan PBK sejak dalam bentuk telur sampai dewasa berumur 30 hari, melewati; 7 hari fase telur, 16 hari fase ulat, dan 7 hari fase kepompong.

Kupu-kupu berukuran panjang 7 mm dan lebar 2 mm. Bila sayap direntangkan mencapai panjang 12-13 mm, dengan antena di kepala yang lebih panjang dari badannya. Sayapnya berwarna coklat berpola batik. Telurnya berukuran panjang 0,5 mm dan lebar 0,8 mm, berwarna merah jingga  ulat keluar dari buah dengan menyusuri lubang yang dibuatnya secara khusus dan turun dengan bantuan sehelai benang halus, kemudian ulat tersebut hinggap di daun untuk menjadi kepompong. Setelah menjadi kupu-kupu, telur diletakkan di bagian kulit buah jumlahnya 50 – 100 butir pada tiap buah. Ngengat aktif pada malam hari mulai pukul 18.00 sampai dengan 20.30. Siang harinya mereka lebih suka berlindung di tempat-tempat yang lembab dan tidak terkena cahaya matahari.

Pengendalian

Pengendalian dengan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) merupakan cara yang paling efektif untuk pengendalian PBK. Konsep PHT dimulai dengan tindakan pencegahan (preventif) yaitu, karantina, pemilihan pohon induk dan benih serta perawatan dan pengamatan dini. Apabila tindakan pencegahan tidak efektif barulah dilakukan pengendalian dalam arti khusus (kuratif) yaitu, menekan populasi Organisme Penganggu Tanaman(OPT) sampai di bawah ambang toleransi. Dalam hal ini cara yang dikedepankan adalah cara-cara yang ramah lingkungan, yakni cara mekanis, fisis dan biologis.

Strategi pengendalian hama PBK menurut konsep PHT dapat dilakukan sebagai berikut;

1. Karantina

Merupakan tindakan mengisolasi bibit kakao di suatu tempat khusus sebelum di jadikan bahan tanam. Tindakan tersebut bertujuan mencegah masuknya PBK dari daerah terserang hama ke daerah lain yang masih bebas. Dalam karantina ini dilakukan pengawasan atau pemusnahan terhadap bahan tanaman yang dianggap tercemar hama.

2. Budidaya Tanaman yang Sehat

Tindakan ini diawali dengan pemilihan pohon induk yang tidak terserang  PBK, memilih biji-biji yang sehat, dan berasal dari buah kakao yang sempurna. Penanaman yang baik disusul kemudian dengan perawatan yang intensif.  Berdasarkan pola hidup  PBK sebagaimana telah diungkapkan di atas, maka perawatan yang sangat diperlukan dalam mencegah perkembangan PBK adalah pemangkasan yang teratur pada tanaman kakao maupun pelindungnya. Tujuan Pemangkasan agar tempat-tempat yang gelap dan lembab yang sangat disukai PBK dapat dimimalkan.

3. Rampasan buah

Tindakan rampasan bertujuan untuk memutuskan daur hidup PBK. Rampasan buah dilakukan dengan cara memetik semua buah yang menggantung di pohonnya. Melakukan rampasan buah berarti mengorbankan sekitar 30% atau lebih dari seluruh produksi setahun. Kerugiannya berupa biaya tenaga kerja untuk melakukan rampasan buah.

4. Penyarungan buah

Tindakan Penyarungan buah kakao bertujuan menghambat ngengat betina meletakan telurnya pada buah. Penyarungan buah dilakukan pada buah kakao yang masih muda (panjang 8 – 10 cm). Kantong plastik yang digunakan untuk penyarungan berukuran panjang 30 cm dan lebar 15 cm. Bagian pangkal plastik diikatkan pada tangkai buah, sedangkan bagian ujung dibiarkan tetap terbuka.

5. Panen sering

Panen sering serentak dan teratur bertujuan untuk menghilangkan dan membunuh larva PBK yang berada di dalam buah dan belum sempat keluar (memutus rantai perkembangan PBK). Dengan demikian ulat, telur atau kepompong yang berada pada buah tersebut tidak dapat berkembang lebih lanjut menjadi ngengat dewasa yang dapat bertelur lagi.

Panen buah kakao dapat dilakukan sebaiknya pada saat masak fisiologis dengan adanya sedikit perubahan warna kulit. Apabila buah dalam keadaan masak fisiologis segera dipanen, maka sebagian besar larva PBK akan ikut  serta di dalamnya.

6. Sanitasi lingkungan

Sanitasi lingkungan menciptakan kebersihan lingkungan pertanaman. Pembersihan gulma dan pemangkasan yang teratur baik pada pelindung mapun pada tanaman kakao serta pembersihan limbah-limbah lainnya akan menciptakan lingkungan yang sehat. Kondisi lingkungan tidak lembab dan tidak gelap sehinga hama dan penyakit secara umum tidak mendapatkan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan perkembangannya.