Ingin Produksi Meningkat Pangkaslah Jeruk dengan Benar

 

Permintaan akan jeruk sebagai salah satu komoditas unggulan hortikultura nasional diprediksi terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan pola hidup masyarakat dengan tingkat konsumsi jeruk sebesar 2.24 kg/kapita/tahun. Peningkatan ini disebabkan buah jeruk sebagai sumber vitamin, mineral, serat, bahan pemenuhan selera estetika dan keperluan keagamaan. Produksi jeruk dalam negeri belum sepenuhnya dapat memenuhi permintaan. Salah satu faktor penyebabnya adalah teknik budidaya yang masih belum optimal. Pemeliharaan tanaman jeruk secara optimal salah satunya adalah dengan teknologi pemangkasan yang baik, sehingga kesehatan pohon, produktivitas tanaman dan mutu buah dapat ditingkatkan. Dalam budidaya jeruk dikenal ada dua macam pemangkasan, yaitu pemangkasan bentuk dan pemangkasan pemeliharaan.

 

1. Pemangkasan Bentuk

Pemangkasan bentuk dilakukan pada tanaman yang belum produksi (umur 0 - 3 tahun) atau berdasarkan ketegaran pertumbuhan tanaman di lapangan. Tujuannya untuk membentuk kerangka atau struktur percabangan atau sering disebut arsitektura pohon yang diinginkan. Bentuk percabangan yang paling ideal adalah mengikuti format 1-3-9, yaitu terdiri dari 1 batang utama, 3 cabang primer dan 9 cabang sekunder.  Produktivitas tanaman sangat dipengaruhi oleh luas permukaan dan bukan volume tajuk. Artinya, makin luas bagian tajuk yang terkena sinar matahari, makin tinggi produktivitasnya.

 

2. Pemangkasan Pemeliharaan

Pemangkasan pemeliharaan yaitu pemangkasan yang dilakukan pada tanaman yang sudah produktif, berumur > 3 tahun dan biasanya dilaksanakan sesudah panen dengan tujuan menyeimbangkan pertumbuhan vegetatif dan generatif. Manfaat dari pemangkasan pemeliharaan adalah : (1)  mempertahankan bentuk arsitektur pohon dari bentuk format bakunya, (2) mengurangi terjadinya fluktuasi pembuahan tahunan, (3) mempertahankan iklim mikro ideal di sekitar tanaman dengan minimal 30% sinar matahari dapat menembus ke bagian dalam tajuk tanaman, sehingga kondisi tanaman dan kebun tidak terlalu lembab yang dapat mengurangi tingkat serangan hama dan terutama penyakit, (4) mengefisienkan pemeliharaan kebun, (5) meningkatkan umur produktif pohon dan (5) menghilangkan ranting-ranting rusak. 

Pemangkasan berat dilakukan setelah panen, banyak obyek yang harus dipangkas dengan tujuan utama mengatur pembungaan berikutnya, sedangkan pemangkasan ringan dilakukan untuk setiap saat guna menjaga bentuk ideal pohon. Tahapan pemangkasan pemeliharaan adalah : (1) memotong cabang/ranting harus dilakukan di bagian pangkal cabang/ranting tersebut, supaya tidak tumbuh tunas lagi, (2) memotong tunas-tunas yang tumbuh di pangkal batang bawah karena akan mengganggu pertumbuhan batang utama, (3) memotong tunas air yang tumbuh cepat, sehingga pertumbuhan tunas lain terhambat, berduri dan tidak sulit berbuah berbuah, (4) memotong ranting-ranting kecil yang pertumbuhannya mengarah kedalam bagian tanaman karena hanya akan menjadi sarang hama dan penyakit, (5) membuang ranting-ranting kering sehingga akan tumbuh tunas yang baru, (6) memotong ranting atau tunas yang terserang hama penyakit sekaligus membuang sumber penularannya, (7) mengurangi jumlah ranting/tunas pada tajuk yang berlebihan sehingga jumlah tidak terlalu lebat, (8) menggunting bekas tangkai buah supaya tumbuh tunas bunga pada ranting tersebut sehingga produktivitasnya relatif stabil, (9) mengumpulkan ranting-ranting bekas pangkasan di satu tempat kemudian dibakar supaya sanitasi kebun dapat terjaga.

 

BAHAN BACAAN

Dwiastuti, M. E., A. Triwiratno, O. Endarto, S. Wuryantini, dan Yunimar. 2011. Panduan Teknis Pengenalan dan Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Jeruk. Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika. Pusat Penelitian Hortikultura. Badan Litbang Pertanian. Kementerian Pertanian

Supriyanto, A., M.E. Dwiastuti., A. Triwiratno, O. Endarto dan Suhariyono. 2010. Panduan Teknis Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat (PTKJS). Strategi Pengendalian CVPD. Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Sub Tropika. Puslitbang Hortikultura. Badan Litbang Pertanian. Jakarta. 45 hal.

Sutami, N.P., N.P. Suratmini., N.N. Arya., N.M.D. Resiani., J. Rinaldi., E.N. Jati., I.M. Budiartana., S.U. Asih. 2016.  Laporan Akhir Tahun Pendampingan Pengembangan Kawasan Jeruk. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali. Denpasar. 56 hal.