"Suweg" dan "Gembili" Sebagai Sumber Pangan Lokal

Permasalahan utama yang dihadapi dalam mewujudkan ketahanan pangan di Indonesia saat ini adalah bahwa pertumbuhan permintaan pangan yang lebih cepat dari pertumbuhan penyediaan.  Permintaan yang meningkat merupakan resultant dari peningkatan jumlah pendududk, pertumbuhan ekonomi, peningkatan daya beli masyarakat, dan perubahan selera. Ketahanan pangan tidak hanya menyangkut kuantitas pangan dan kalori melainkan juga mencakup kebutuhan protein dan komposisi gizi esensial lainnya.

Ketahanan pangan nasional menghadapi sejumlah tantangan antara lain :

1. Peningkatan produksi padi semakin sulit karena semakin menyusutnya lahan produktif akibat alih fungsi lahan, keterbatasan infrastruktur dan produktivitas.

2. Pola konsumsi pangan yang belum bergizi seimbang dan aman serta sangat tergantung pada beras.

3. Sistem distribusi dan tataniaga pangan yang belum efisien sehingga menyebabkan harga yang tinggi di tingkat konsumen.  

4. Ketergantungan Indonesia terhadap beras yang tinggi  membuat indonesia rawan pangan (rawan beras) atau ketahanan pangan nasional sangat rapuh. 

5. Dari aspek kebijakan pembangunan makro kondisi tersebut mengandung resiko yang terkait dengan stabilitas ekonomi, sosial dan politik. 

Menurut ASEAN Food Security Information and Training Center 2009, untuk mencapai ketahanan pangan yang mantap maka rasio cadangan pangan terhadap kebutuhan domestik (food security ratio) setidaknya 20%. Masalah dan tantangan yang dihadapi Indonesia untuk mencapai status ketahanan pangan yang mantap cukup berat  karena rata-rata rasio cadangan pangan (beras) terhadap penggunaan baru mencapai 4,38 padahal yang diperlukan untuk mencapai status mantap adalah > 20 disamping itu angka kemiskinan juga masih  cukup tinggi.

Diversifikasi merupakan salah satu komponen strategis pemantapan ketahanan pangan. Meningkatnya jumlah penduduk (1,5% per tahun), meningkat pula  kebutuhan akan  beras yang berarti menuntut peningkatan produksi beras nasional.  Upaya peningkatan produksi padi  dihadapkan pada berbagai kendala dan masalah dimana   Masalah utamanya adalah alih fungsi lahan yang terus meningkat, adanya anomali perubahan iklim (ancaman kekeringan, kebanjiran, serangan hama penyakit), produktivitas sumber daya alam (lahan dan air) menurun, biaya produksi semakin mahal dan adanya pelandaian produksi padi.

Potensi Sumber Pangan Lokal sumber karbohidrat non beras 

Umbi-umbian merupakan sumber pangan lokal potensial yang dapat dikembangkan, disamping sebagai sumber karbohidrat pengganti beras, aneka ragam umbi-umbian terbukti dapat mencegah beberapa penyakit seperti penyakit diabetis mellitus, mencegah sembelit atau kanker usus. Umbi-umbian memiliki kandungan senyawa bioaktif yaitu serat pangan dan polisakarida yang dapat berperan untuk menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes mellitus.

Kenyataannya di lapangan umbi-umbian selain ubi jalar, singkong dan talas semakin hilang dari kebun rakyat dan di pasaran bahkan pamor dan martabat umbi-umbian jatuh oleh dominasi beras. Beberapa jenis umbi-umbian yang keberadaannya semakin langka di pasaran dan generasi muda sudah tidak mengenalnya  lagi adalah  jenis  Suweg dan  Ubi aung (gembili), padahal kedua jenis ubi ini jaman dahulu merupakan jenis ubi yang sangat digemari masyarakat karena rasanya enak, empuk dan legit, untuk itulah  kedua jenis ubi ini  perlu dilestarikan.

Suweg (Amorphophallus campanulatus B)

Merupakan salah satu tanaman umbi minor di Indonesia selain talas, gadung, bentul, dan umbi lainnya yang dapat digunakan untuk diversifikasi pangan. Tanaman suweg juga merupakan tanaman herba yang dapat ditanam di bawah tegakan dengan intensitas cahaya rendah dan masih dapat tumbuh pada naungan hingga 60%, sehingga dapat digunakan untuk mengatasi masalah keterbatasan lahan. Tanaman ini juga tumbuh baik hingga elevasi 2.500 m di atas permukaan laut dengan curah hujan 1.000 - 1.500 mm per tahun. Selain itu Suweg dapat tumbuh pada tanah dengan pH agak masam hingga netral. Tanaman suweg sudah dikenal oleh sebagian petani di Jawa, Sumatera dan Bagian Timur Indonesia, namun karena terdesak oleh sumber karbohidrat lain atau beras, maka tanaman ini tidak berkembang.

Tanaman suweg dapat ditanam di tegalan, selain itu juga dapat di tanam di pekarangan yang sekaligus dapat berperan sebagai tanaman hias. Pertumbuhan tanaman suweg diawali dengan munculnya semacam kuncup bunga dari dalam tanah pada awal musim hujan. Kuncup bunga tersebut merupakan tunas, kemudian tumbuh menjadi tanaman suweg.

Pada musim kemarau daun suweg menguning, dan lama kelamaan mati. Pada rumpun tanaman suweg yang mati tersebut terdapat umbi yang dapat digunakan sebagai bahan makanan yang mengandung serat tinggi sekitar 13,71 % dan lemak rendah sekitar 0,28 %. Umbi suweg dapat dipanen 1 - 2 tahun setelah tanam, tergantung pada macam bibit dan jenis suweg yang ditanam. Produksi umbi suweg berkisar antara 30 - 200 ton per hektar umbi segar.Tepung umbi suweg baik untuk terapi diet penderita diabetes mellitus atau kencing manis karena Indeks Glisemik (IG) rendah.

Tanaman suweg juga dapat digunakan sebagai obat tradisional untuk mengobati penyakit desentri, kolera dan pernapasan, mengurangi tekanan darah, mengurangi kholesterol, penyembuh rematik, dan pencernaan. Manfaat suweg sangat banyak sekali terutama untuk industri dan kesehatan, karena kandungan zat glucomanan yang ada di dalamnya.

 

Gembili (Discorea esculenta)

Budi daya tanaman Gembili, ''ubiaung'' sebutan untuk di Bali tidak begitu sulit. Curah hujan yang dibutuhkan adalah 875- 1750 mm/tahun dengan distribusi yang merata sepanjang tahun. Suhu minimal yang diperlukan adalah tidak lebih rendah dari 22.7°C, sedangkan suhu lebih dari 35°C akan menyebabkan penurunan pembentukan dan jumlah umbi. Tanaman ini biasanya diusahakan pada dataran rendah, akan tetapi masih dapat tumbuh pada ketinggian 900 m dpl. Pembentukan umbi ditunjang oleh kondisi hari yang pendek, yaitu hari pada saat matahari bersinar kurang dari 12 jam. Kondisi tanah yang diinginkan adalah tanah yang gembur dengan tekstur ringan (berpasir), berdrainase baik banyak mengandung bahan organik, dan memiliki pH 5.5 – 6.5, tanaman gembili dapat menghasilkan 24.6 ton/ha di Malasyia, 20-30 ton/ha di Filipina, 70 ton/ha di Irian Jaya, dan 10-20 ton/ha di Papua Nugini. Sedangkan berat tiap umbinya mencapai 0.1-1 kg. Tanaman gembili memiliki kemampuan untuk tumbuh dengan baik di daerah tropis dengan tanah yang gembur, tekstur tanah ringan, drainase baik, dan mengandung banyak bahan organik.

Umbi tanaman gembili biasanya digunakan sebagai sumber karbohidrat setelah dimasak atau dibakar. Selain itu juga dimanfaatkan sebagai bahan campuran sayuran setelah dimasak, direbus atau digoreng. Sementara itu di Indonesia umbinya dipergunakan sebagai bahan makanan pokok pengganti beras dengan nilai tambahnya berupa rasa yang manis sehingga disukai orang. Umbi gembili mentah yang dipotong atau diparut halus dapat digunakan sebagai obat oles diatas luka memar atau bengkak, terutama di bagian leher.

Beberapa varietas Gembili ada yang mengandung racun dan dapat menimbulkan peradangan dikerongkongan jika umbi dimakan tanpa melalui proses pengolahan yang sempurna. Kandungan diosgenin (sejenis senyawa beracun yang khas dalam genus Dioscorea) umbigembili dapat dimanfaatkan untuk pembuatan pil KB. Tanaman biasanya diperbanyak dengan menggunakan umbi beruntas minimal dua mata yang mempunyai waktu dominasi yang pendek. Berat umbi adalah 56-84 g. Selain umbi, tanaman tersebut dapat pula diperbanyak dengan menggunakan stek batang. Namun cara terakhir ini kurang populer. Umbi sebaiknya ditanam pada waktu musim hujan yaitu antara bulan Oktober sampai Februari.Gembili layak panen setelah berumur 6-7 bulan sedangkan di Malaysia gembil dipanen setelah berumur 8-9 bulan.

 

Sumber :

1. Buletin Teknologi dan Informasi Pertanian  BPTP Bali tahun 2015,  Volume 13, Nomor 40

2. http://www.biodiversitywarriors.org/-3274.html