Mengubah Feses Sapi Menjadi Pakan Ayam

Kehawatiran akan semakin merosotnya populasi sapi di Bali disebabkan antara lain karena banyaknya pemotongan sapi betina produktif, dan ini menunjukkan bahwa minat petani untuk memelihara sapi semakin menurun. Agar minat petani dalam membudidayakan sapi meningkat maka nilai keuntungan usaha tani sapi harus ditingkatkan, antara lain melalui pemanfaatan limbah sapi. Selama ini pemanfaatan feces ataupun urine sapi baru sebatas sebagai pupuk tanaman.

Feces sapi merupakan salah satu limbah yang amat potensial sebagai bahan pakan unggas alternatif. Pemanfaatan kotoran sapi untuk pakan unggas sudah banyak dicoba oleh para peneliti umumnya digunakan tanpa proses pengolahan sehingga penggunaannya pada ransum terbatas hanya 5 % saja. Agar feces sapi dapat digunakan untuk ternak unggas diatas level 5 % maka kandungan gizi feces perlu ditingkatkan melalui fermentasi dengan bioreaktor bakteri atau fungi.

Rata-rata sapi menghasilkan feces 5,5 % dari berat badannya sehingga sapi dengan berat badan 200 kg menghasilkan 11 kg per hari. Feces sapi potong dalam bentuk mentah mengandung protein sekitar 8,3 % sedangkan sapi perah 13,2 % perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan komposisi pakan disamping perbedaan jenis sapi. Untuk mendapatkan teknologi guna memanfaatkan limbah (kotoran) sapi sebagai bahan pakan, dan membantu peternak untuk memperoleh sumber pakan yang lebih murah, serta membuka peluang berkembangnya integrasi usaha peternakan sapi dengan ayam buras, dan unggas lain.

Hasil penelitian Peneliti di BPTP Bali yang dilakukan di Kelompok Tani ”Sato Nadi” di Desa Jehem, Kecamatan Tembuku -  Kabupaten Bangli. pada bulan Januari s / d Desember 2014 dengan  Jenis ayam : Buras Super (petelur) diperoleh 4 (empat) kesimpulan yaitu:

  1. Penggunaan kotoran sapi olahan hingga 20 % dalam ransum ayam buras petelur tidak menyebabkan kemerosotan produksi telur . Kombinasi penggunaan probiotik dengan pengunaan kotoran sapi hingga 20 % dapat meningkatkan produksi meski tidak nyata.
  2. Penggunaan kotoran sapi hingga 20 % tidak menyebabkan turunnya  berat telur. Kombinasi penggunaan probiotik (Bio-L) menyebabkan meningkatnya berat telur, di pihak lain penggunaan probiotik cenderung mengurangi konsumsi pakan sehingga kombinasi penggunaan ransum berbahan kotoran sapi hingga 20% dengan pemberian probiotik menyebabkan turunnya FCR (lebih efisien)
  3. Penggunaan kotoran sapi olahan dalam ransum hingga 20% tidak menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan
  4. Penggunaan kotoran sapi hingga 20% dalam ransum ayam dikombinasikan dengan pemberian probiotik (P7) memberikan nilai keuntungan ekonomi tertinggi.

Sumber : Suprio Guntoro, dkk. (2014)