Merehabilitasi Kebun Kakao

Kakao merupakan produk pertanian perkebunan yang mempunyai peranan yang cukup nyata dalam mewujudkan program pembangunan pertanian di Indonesia. Indonesia memiliki prospek yang besar untuk pengembangannya. Bali yang memiliki lahan perkebunan relatif sedikit, perlu memanfaatkan untuk tanaman yang bernilai ekonomi tinggi tentu dengan harapan mampu menambah penghasilan.

 Belakangan ini harga produksi kakao di Bali sudah mengalami peningkatan akan tetapi secara global jumlah produksi terus mengalami penurunan dari tahun 2013 sebesar 6.825,98 ton menjadi 6.273,63 ton, penyebabnya adalah banyaknya serangan hama penyakit. Sebagian besar tanaman kakao sudah  berumur tua dan berasal dari klon lokal yang per hektarnya hanya mampu berproduksi 800 Kg.

Mengatasi permasalahan tersebut perlu dilakukan rehabilitasi tanaman kakao petani dengan kakao yang bersal dari klon unggul dan lebih tahan hama penyakit. Klon kakao unggul yang sudah ada dan terbukti mampu berproduksi tinggi yakni ICS 13, ICS 60 , TSH 858, DRC 16, Sulawesi 1, Sulawesi 2, dan ICCRI 03 dan jenis kakao unggul lainnya.

Ada tiga cara yang bisa dilakukan untuk rehabilitasi tanaman kakao yaitu
1) Dengan menanam tanaman kakao baru yang berasal dari bibit klon unggul,
2) Dengan sambung samping tanaman kakao lama dengan bagian dari kakao baru dari klon unggul tujuannya agar sebelum tanaman yang disambungkan berproduksi tanaman lama masih bisa berproduksi.
3) Dengan sambung pucuk dimana salah satu tunas wiiwilan tanaman lama dipelihara untuk kemudian disambungkan dengan bagian tanaman baru yang dijadikan batang atas, tujuannya dan prinsip kerjanya        sama dengan sambung samping.