Basmi Cacing Pada Ternak Dengan Ekstrak Buah Pinang

      

Pinang sirih (Areca catechu Linn) merupakan jenis tanaman dengan nilai ekonomis tinggi dibandingkan jenis lainnya.  Penyebaran jenis pinang ini banyak terdapat di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara Timur dan Papua. Buah pinang sirih terdiri dari serat kulit yang membungkus bijinya.  Biji pinang mengandung berbagai macam  zat kimia antara lain tannin (11,10%), alkaloid (0,56%), lemak (13,90%), air (11,5%), minyak atsiri dan sedikit gula.  Tanin, lemak dan alkaloid merupakan komponen yang memegang peranan penting dan utama.  Alkaloid yang terkandung dalam buah pinang berupa minyak basa keras yang disebut arekolin bersifat kolienergik yang berfungsi memberi efek penenang.  Senyawa inilah yang berguna dalam pengobatan penyakit askariasis pada ternak.

PINANG (Areca catechu L)

Klasifikasi

  • Divisi : Spermatophyta
  • Sub divisi : Angiospermae
  • Kelas : Monocotyledoneae
  • Bangsa : Aracales
  • Suku :Palmae
  • Marga : Areca
  • Jenis : Areca catechu

Nama umum/dagang:   PINANG

Khasiat dan kegunaan   :

Cara pengendalian penyakit yang paling mudah adalah dengan memutuskan siklus hidup cacing pada tahap telur.  Cara lain yaitu dengan membuang  feces atau kotoran ayam agak jauh dari areal pemeliharaan agar telur-telur cacing tidak masuk ke dalam tubuh. Pengobatan pada ayam yang sakit ditujukan agar cacing yang berada dalam usus keluar bersama dengan telurnya juga menghindari infeksi cacing pada ayam.

Kandungan kimia

Didalam buah pinang seperti Arecoline yang merupakan sebuah ester metil-tetrahidrometil-nikotinat yang berwujud minyak basa keras. Dulu, zat tersebut digunakan dalam bentuk arecolinum  hydrobromicum yang berfungsi untuk membasmi cacing pita pada hewan seperti unggas, kucing, dan anjing, sebelum ditemukannya obat cacing sintetik, seperti piperazine, tetramisole, dan pyrantel pamoate. 

Senyawa kimia  lainnya yang terkandung dalam biji pinang adalah Arecaidine atau arecaine, Choline atau bilineurine, Guvacine, Guvacoline, dan Tannin dari kelompok ester glukosa yang menggandeng beberapa gugusan pirogalol. Sifat astringent dan hemostatik dari zat tannin inilah yang berkhasiat untuk mengencangkan gusi dan menghentikan perdarahan. (Sihombing, 2010)

Pinang dikenal sebagai stimulansia yang dicampur dengan sirih dan kapur atau terkadang dicampur tembakau.  Tetapi bagi peternak atau mereka yang berkecimpung di bidang peternakan walaupun belum dikenal secara meluas, pinang sangat besar khasiatnya, karena kandungan zat kimianya yang dapat digunakan untuk mengobati ternak yang sakit seperti penyakit cacing.

Cacing merupakan endoparasit yang sering menyerang manusia dan ternak, dan Ascaradia galli termasuk dalam klas Nematoda yang hidup dalam saluran pencernaan tepatnya pada dinding usus halus tubuh inangnya. Kerugian yang diakibatkan oleg cacing ternak adalah :

  • Kerugian ekonomis yang ditimbulkan akibat parasit cacing tersebut adalah pengurangan pertambahan bobot badan harian (average daily gain = ADG) mencapai 0,1 kg per hari,
  • Penurunan status reproduksi (calving interval menjadi lebih panjang), serta kematian pedet maupun sapi muda.
  • Kerugian  ekonomi   akibat fasciola  berupa penurunan berat badan dan karkas, produksi susu, gangguan reproduksi hingga kematian. Kerugian ekonomi yang disebabkan oleh Fasciola diperkirakan sekitar 153,6 milyar rupiah setiap tahunnya. Kerugian ekonomi tersebut berupa kerusakan hati, kekurusan, dan penurunan tenaga kerja pada sapi/kerbau yang terinfeksi.
  • Parasitisme internal ini mempengaruhi produktivitas dan reproduktivitas sapi betina, menurunkan daya tahan terhadap penyakit dan merupakan penyebab signifikan kematian pedet.

Gejala penyakit

Khusus pada ayam buras, jika terserang penyakit cacing penampilannya tampak pucat, lesu, kurus dengan sayap menggantung serta kondisi yang berangsur-angsur menurun hingga dapat menyebabkan terjadinya kematian.  Infeksi ini dapat menurunkan daya tahan tubuh ayam sehingga mudah terserang penyakit lain sehingga dapat menyebabkan kematian.

Pada ternak ruminansia seperti kambing, sapi dan kerbau penyakit cacingan muncul akibat infeksi parasit dalam yang ditimbulkan oleh cacing dengan gejala : nafsu makan yang bervariasi, gangguan pencernaan, turunnya kondisi (badan kurus), kulit kusam,bulu berdiri,  anemia, lapisan mukosa pucat, adanya kotoran di mata/belekan,  sembelit atau diare, batuk dengan gejala bronchitis kebengkakan di bawah rahang terus ke bagian perut.  Penyebabnya adalah cacing pita, cacing gelang (Neoascaris vitulorum), cacing lambung (Haemonchus contortus), dan cacing hati(Fasciola hepatica).

Ramuan 

Dalam pengobatan cacingan ini menggunakan biji buah pinang muda dan buah kering. Dalam  pengobatan ini biji pinang yang digunakan adalah biji yang tua dan kering dalam bentuk bubuk.   Pembuatan bubuk biji pinang dapat dilakukan sesuai dengan prosedur yaitu dosis biji pinang yang akan digunakan ditumbuk hingga halus, campurkan bubuk biji pinang dengan dosis air yang disarankan, pemberian dapat dilakukan dengan mencampurkan bubuk biji pinang dengan air minum setiap hari selama periode pengobatan. Namun ada cara lain yang bisa dilakukan yaitu dengan 2 gram serbuk dan biji Areca catechu L. diseduh dengan air matang panas ½ gelas, setelah dingin disaring. Hasil saringan diminum, biasanya larutan diberikan 1 bulan 1 kali untuk pemeliharaan. Untuk pengobatan larutan diberikan 1 kali sehari selama 2 - 3 hari dan biasanyaa cacing akan keluar dalam waktu 24-48 jam.

Secara tradisional, pengobatan askariasis dapat dilakukan dengan menggunakan biji pinang sesuai dosis yang tepat. Pemberian 0,5 bagian biji pining sirih ditambah 10 ml air dapat melumpuhkan cacing pada ternak kambing.  Sebaliknya pada ayam buras penggunaan biji pinang untuk mengobati askariasis sebagai berikut:

 Umur ayam

 Dosis pengobatan

 1-3 bulan

 0,125 bagian + 5 ml air

 3-6 bulan

 0,250 bagian + 7,5 ml air

 > 6 bulan

 0,500 bagian + 10 ml air


Pustaka

Naipospos, TSP. 2007. Kesehatan Hewan Untuk Kesejahteraan Manusia. Bogor ;Civas Press

Sihombing, J. 2010. Pinang dan Khasiatnya. Volume 25, Nomor 4, 2010. Jurnal Biologi Kemasyarakatan. Medan : Unpress.

Suska, Damen. 2013, Kasus Cacingan Pada Ruminansia Sapi, Kambing, Domba dan Rusa. Diakses dari  http://info.medion.co.id. 5 April 2015