Memahami Perilaku Parasitoid Telur

 


Parasitoid telur di dalam pencarian dan penemuan inang ada empat tahapan yang harus dilewati agar berhasil memarasit inangnya, yaitu (1) penemuan habitat inang, (2) penemuan inang, (3) penerimaan inang, dan (4) kesesuaian inang (Doutt, 1973).

Parasitoid pertama-tama akan berusaha menemukan dan memilih habitat inangnya sebelum menemukan inangnya. Godfray (1994) dan Lewis et al. (1998) melaporkan bahwa ada tiga kategori umum yang digunakan parasitoid dalam penemuan habitat inang, yaitu (1) adanya rangsangan langsung dari mikrohabitat inang berupa senyawa-senyawa yang dihasilkan oleh tanaman inang seperti senyawa nutrisi dan non nutrisi. Senyawa nutrisi (karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral) merupakan senyawa primer yang disintesis tanaman untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Senyawa non nutrisi sebagai senyawa sekunder yang mempengaruhi perilaku serangga terhadap tanaman inang tersebut seperti senyawa repelen dan atraktan, (2) adanya rangsangan yang tidak langsung berhubungan dengan kehadiran inang, dan (3) rangsangan yang muncul dari inang itu sendiri.

 

 

 

Gambar Parasitoid T. schoenobii saat menusukkan ovipositor pada telur penggerek batang padi kuning

Sumber: dok. delly, 2015.

 

Penemuan inang oleh parasitoid di pandu oleh dua jenis rangsangan yaitu rangsangan fisik dan rangsangan kimia. Rangsangan fisik yang paling berperan adalah kondisi fisik inangnya seperti ukuran, bentuk, tekstur, dan warna inang. Rangsangan kimia dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yang pertama adalah rangsangan kimia yang dapat dideteksi dari jarak jauh seperti bau inang. Rangsangan tersebut memungkinkan parasitoid untuk melokalisasi areal pencarian inang. Kedua adalah rangsangan kimia yang dideteksi dari jarak dekat yaitu setelah terjadinya kontak fisik. Rangsangan kimia tersebut biasanya berasal dari senyawa-senyawa padat atau cair seperti kotoran inang, sekresi yang dikeluarkan dari labium serangga inang ataupun bekas dari parasitoid lain. Adanya rangsangan tersebut akan memungkinkan terjadinya kontak antara parasitoid dan inang yang dicirikan dengan perilaku pengujian oleh parasitoid berupa pergerakan memutar dengan cepat.

Proses diterima atau ditolaknya  inang sebagai tempat peletakkan telur dibagi dalam empat fase yakni (1) kontak dan pemeriksaan, (2) penusukan dengan ovipositor, (3) pemasukan ovipositor, dan (d) peletakkan telur. Ke empat fase tersebut harus lengkap, sehingga bila ada hambatan pada salah satu fase, proses penerimaan inang dimulai dari awal lagi. Adakalanya telur yang telah berhasil diletakkan di dalam tubuh inang setelah melalui tiga tahapan sebelumnya tidak mampu berkembang menjadi imago akibat adanya hambatan fisiologis di dalam tubuh inang.  Seperti halnya tahap sebelumnya, penerimaan inang juga di pandu oleh rangsangan fisik dan rangsangan kimia. Rangsangan fisik yang berperan adalah kondisi fisik inangnya seperti ukuran, bentuk, tekstur atau bentuk permukaan, warna, dan kandungan air. Rangsangan kimia dapat berasal dari senyawa-senyawa yang terdapat di dalam dan di luar tubuh inang yang dapat dideteksi dengan antena atau ovipositornya. Agus (1991) menyatakan bahwa rangsangan fisik dapat diterima melalui indera pendengar dan penglihatan. Sebagai contoh parasitoid  Euphasiopterix ochrace dapat menemukan jangkerik melalui suaranya. Rangsangan kimia dari jarak jauh dapat diterima melalui indera penciuman. Rangsangan kimia dari jarak dekat diterima melalui indera peraba. Indera penciuman dapat mendeteksi senyawa kimia yang berbentuk gas, sedang indera peraba yang berbentuk cair atau padat. Senyawa kimia yang dimaksud dapat berupa  kairomon (senyawa kimia yang dihasilkan oleh suatu organisme yang menguntungkan organisme yang menerima, namun merugikan organisme yang menghasilkannya seperti atraktan).

Kesesuaian inang merupakan faktor penentu dalam keberhasilan perkembangan parasitoid dari telur sampai menjadi imago. Vinson dan Iwantsch (1980) menyatakan bahwa kesesuain inang tergantung pada hal-hal seperti (1) kemampuan parasitoid untuk menghindari atau melawan sistem pertahanan serangga inang, (2) kompetisi dengan parasitoid lain, (3) adanya toksin yang mengganggu atau merusak telur atau larva, dan (4) kesesuaian makanan parasitoid.