Pemberian Tanaman Bangun-Bangun dan Bio B pada Induk Babi Bunting

Babi merupakan salah satu komoditas unggulan nasional, karena mempunyai peranan penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Bali, babi diprioritaskan pengembangannya karena ternak ini selain memiliki nilai ekonomi tinggi juga mempunyai nilai sosial di masyarakat Bali. Hampir 80% rumah tangga yang beragama Hindu memelihara babi 2 sampai 5 ekor, hal ini disebabkan oleh peranan ternak babi dalam kehidupan sosial di Bali sangat berarti bila dihubungkan dengan upacara adat maupun keagamaan.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan tahun 2015 melaporkan bahwa populasi babi di Bali dari tahun 2011-2015 menurun dari 927.739 ekor tahun 2011 menjadi 795.104 ekor tahun 2015 atau turun sebanyak 14,29%. Lebih lanjut dikatakan bahwa menyusutnya populasi ini antara lain disebabkan karena angka pemotongan yang meningkat tajam yakni dari 1.608.363 ekor pada tahun 2011 menjadi 1.790.540 ekor pada tahun 2015 yang tidak sebanding dengan pertambahan populasi tiap tahunnya. Akibatnya untuk memenuhi kebutuhan daging babi selama ini masih mendatangkan dari luar daerah.

Lambatnya peningkatan populasi babi di Bali disebabkan oleh rendahnya minat masyarakat, khususnya peternak kecil. Kondisi ini tidak terlepas dari seiring meningkatnya harga bahan-bahan pakan mengingat biaya pakan hampir 65 % dari biaya produksi, karena itu perlu upaya untuk mencari ransum alternatif yang lebih murah dan penggunaan pakan tambahan seperti probiotik atau enzim agar peternak bisa memperoleh keuntungan yang lebih tinggi sehingga dapat mendorong upaya peningkatan populasi babi.

Berdasarkan hasil pendampingan dan kajian yang pernah dilakukan BPTP Bali peluang adopsi pemberian bio B kedalam air minum ternak babi baik untuk penggemukkan maupun untuk induk ( bunting diatas 80 hari sampai melahirkan) peluangnya lebih luas, demikian juga untuk pemberian daun bangun-bangun pada induk melahirkan dari hasil pengkajian sangat nyata meningkatkan air susu induk, sehingga peluang untuk diadopsi lebih luas bila dibandingkan dengan paket vaksinasi vaksin ETEC untuk induk bunting.

Hal ini disebabkan karena Bio B, merupakan produksi atau hasil penelitian dari peneliti dari BPTP Bali, sehingga ketersediaan bahan bisa diantisipasi. Demikian halnya dengan tanaman bangun-bangun sangat mudah untuk dibudidayakan hanya perlu keterampilan dan ketepatan pemberian. Sedangkan untuk vaksin ETEC keberadaannya sampai saat ini masih bekerjasama dengan PT Capriparmindo ( belum diproduksi masal, masih dalam tahap uji coba setelah dilepas dari BBVET sebagai penghasil teknologi) peluang diadopsi sangat kecil walaupun dalam uji coba yang telah dilakukan di lokasi yang sama, nyata menurunkan kejadian diare putih (ecoli).

Tahun 2018 BPTP Bali kembali mediseminasikan dan mengkaji pemberian tanaman bangun-bangun + Bio B sebanyak 2cc/1 liter air minum pada induk babi bunting >80 hari. Jumlah ternak dalam adopsi paket teknologi yang didiseminasikan untuk babi pembibitan meningkat sebesar 40% untuk paket Penggunaan Bio B dan 50% pada pemanfaatan daun bangun-bangun. Sedangkan untuk pemanfaatan Vaksin ETEC terjadi penurunan 30%. 2.

Dari paket teknologi yang didesiminasikan pada babi penggemukkan mampu meningkatkan bobot badan >30%, demikian juga pada babi pembibitan dengan paket teknologi yang didiseminasikan mampu meningkatkan bobot sapih >30%, ini berarti paket teknologi yang didesiminasikan tersebut nyata lebih baik bila dibandingkan dengan cara petani.