Info Teknologi

Pasca Panen dan Pengolahan Nira Sorgum Menjadi Gula Cair

Pengolahan nira sorgum untuk gula cair memerlukan batang sorgum yang telah tua/umur panen. Pada umur tersebut batang sorgum memiliki kandungan gula yang paling tinggi yakni berkisar pada angka brix 11-15. Rata-rata batang sorgum memiliki berat 193 gram dengan produksi nira sebesar 42,21 ml atau sebesar 21,87% v/b.

Batang sorgum dipres dengan alat pengepres sehingga menghasilkan nira. Nira yang dihasilkan kemudian disaring untuk menghilangkan kotoran yang terdapat didalamnya. Nira sorgum memiliki pH 5 sehingga dalam proses pembuatan gula cair perlu dinetralkan dengan penambahan zat kapur sebanyak 1,1% diri volume nira. Penetralan pH ini bertujuan agar gula yang dihasilkan tidak berasa asam. Nira yang diperoleh dipanaskan dalam wajan sehingga memiliki angka brix 60. Dari 10 liter nira diperoleh cairan gula sebesar 2,8 liter. Pada brix 60 ini gula cair memiliki warna coklat menyerupai gula kelapa encer. 

Data hasil analisis laboratorium, 2017 Kandungan total gula dari gula cair nira sorgum sebesar 61,84%. Total gula terdiri dari jumlah gula reduksi dengan non reduksi. Sedangkan rerata gula reduksi sebesar 55,33%. Kemanisan gula cair sorgum sebesar 6,50%, yang ditunjukkan oleh besarnya kandungan sukrosa. Sukrosa termasuk dalam gula yang kita kenal sebagai gula pasir yang berperan sebagai pemanis.

Kandungan sukrosa dalam bahan pangan berkaitan dengan kekentalan produk, karena semakin tinggi kandungan sukrosa maka kekentalan makin meningkat. Hasil analisis kekentalan gula cair sorgum sebesar 70,00 mPa*s. Viskositas juga dipengaruhi oleh % Brix, dengan viskositas sebesar 70 mPa*s maka gula cair nira sorgum memiliki viskositas sebesar 67,50 % Brix.

 

Sumber : Laporan Akhir Tahun Kegiatan Model Pertanian Bio Industri di Buleleng Tahun 2017 

Keunggulan Inpari 43 Sehingga Disukai Petani Bali

Varietas-varietas unggul baru (VUB)potensi hasil tinggi yang telah didiseminasikan kepada petani di Bali sejak tahun 2016. Diketahui VUB tersebut dapat meningkat produksi secara signifikan dengan produktivitas lebih dari 7,0 t/ha. Hasil kajian di beberapa Kabupaten/Kota pada tahun 2016 menunjukkan bahwa produktivitas VUB Inpari 16 berkisar antara 7,33 – 11,25 ton/ha, Inpari 20 berkisar antara 8,45 – 9,85 ton/ha, Inpari 28 antara 7,36 – 9,83 ton/ha, Inpari 43 antara 8,25 – 10,29 ton/ha, dan Inpari Blas antara 9,16 – 10,16 ton/ha.

Varietas-varietas unggul baru tersebut dapat direkomendasikan untuk dikembangkan di Bali karena produktivitasnya konsisten setiap tahun. Diantara VUB-VUB potensi hasil tinggi tersebut, Inpari 43 dan Inpari Blas yang paling direkomendasikan karena kedua VUB tersebut memiiki keunggulan lain selain produksi, yaitu tahan terhadap hama dan penyakit utama. Atas rekomendasi tersebut, pada tahun 2017 Inpari 43 telah menjadi salah satu VUB terpopuler di seluruh kabupaten di Bali, sedangkan Inpari Blas belum dapat didiseminasikan secara masif karena keterbatasan benih yang tersedia di pusat penangkaran.

Tahun 2018 Kegiatan Pendampingan Upaya Khusus Padi, Jagung, Kedele (Upsus Pajale) di Bali, selain kegiatan pendampingan, juga dilakukan kegiatan “Gelar Teknologi VUB Padi Tahan OPT” di 6 kabupaten (Jembrana, Tabanan, Badung, Gianyar, Bangli, dan Karangasem), dan “Gelar Teknologi VUB Jagung” di Kabupaten Buleleng. VUB-VUB padi maupun jagung tersebut merupakan inovasi teknologi terkini dalam upaya mempercepat tercapainya swasembada dan kedaulatan pangan. Kegiatan ini dilakukan menindaklanjuti arahan Kepala Badan Litbang Pertanian agar teknologi-teknologi inovasi lebih cepat diadopsi oleh petani pengguna, sehingga perlu segera disosialisasikan ke masyarakat pengguna.

Menurut testimoni petani, mereka menyukai Inpari 43 karena memiliki banyak keunggulan dibandingkan varietas-varietas lain yang ada di lapangan. Keunggulan Inpari 43 selain produktivitasnya yang tinggi, 10–13 ton/ha GKP, tekstur nasinya pulen, varietas ini juga tahan terhadap hampir semua OPT utama, seperti tungro, blas, kresek, dan burung dan sesuai untuk semua agroekosistem. Berbeda dengan VUB-VUB lainnya, hanya sesuai ditanam untuk lokasi tertentu saja agar berproduksi baik.

Sebagai contoh Inpari 36, produktivitasnya melebih 7,0 t/ha hanya di Subak Berawan Tangi, Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana dan di Subak Penangin, Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Sementara itu di kabupaten lainnya, Tabanan, Badung, Bangli, dan Karangasem produktivitasnya masih belum memuaskan disebabkan oleh berbagai faktor. Beberapa VUB, Inpari 36, Inpari 37, Inpari 40, Inpari 43, dan Inpari Blas, yang digelar di kabupaten Jembrana, Bangli, dan Karangasem produktivitasnya masih ada yang belum mencapai 7,0 t/ha, kecuali Inpari 36 di Jembrana, Inpari 37 dan Inpari 43 di Karangasem. 

 

Sumber : Laporan Akhir Kegiatan Pendampingan Upsus Pajale di Propinsi Bali tahun 2018 

Tehnik Membuat Mikroorganisme Lokal (MOL) dan Pemanfaatannya

Limbah pertanian yang sudah tak terpakai memiliki nilai ekonomi rendah yang sebagian besar terdiri dari selulosa, memerlukan waktu 3-4 bulan untuk pengomposan. Waktu tersebut sangat tidak efektif jika petani menggunakan sistem pertanian intensif. Oleh karenanya petani sering hanya membakar sisa-sisa hasil produksi yang sebenarnya bisa diolah untuk dimanfaatkan. Sisa hasil produksi pertanian dapat diolah menjadi pakan, kompos, dan pupuk dengan sedikit sentuhan teknologi, salah satunya adalah dengan Mikroorganisme Lokal (MOL).

Mikroorganisme Lokal (MOL) merupakan produk yang dihasilkan dari proses fermentasi dari substrat/bahan tertentu yang diperbanyak dengan bahan alami mengandung karbohidrat (gula), protein, mineral, dan vitamin. Peran MOL adalah untuk mendegradasikan bahan-bahan seperti bahan organik untuk diproses menjadi kompos/pupuk organik, biourine (pupuk cair).

Limbah yang dapat digunakan dalam proses pembuatan MOL diantaranya adalah limbah rumah tangga yang berupa nasi basi, limbah buah, limbah sayur, dll. Limbah pertanian yang terdiri dari bonggol pisang, rebung bambu, kulit buah, dll. Dan limbah organik lain yang terdiri dari keong, limbah udang, dll.

Prinsip membuat MOL.

  • Persiapan media : 1 kg bahan dicampur dengan 1 kg gula merah, 1 ikat kecambah, 1 lembar daun lidah buaya, 1 ikat daun bambu yang sudah rusak sebagai sumber mikroba, ditambah 2 liter air kelapa lalu dihancurkan dan selanjutnya ditambah 15 liter air cucian beras. Bahan-bahan tersebut selanjutnya menjadi larutan yang disebut media tumbuh mikroba yang mengadung karbohidrat (sumber C), protein (sumber N), mineral dan vitamin.
  • Cara membuat : Peram media 3-5 hari hingga muncul aroma wangi. Larutan disaring, disimpan dalam botol, maka akan muncul gas, segera buang gas. Jika gas hilang, maka MOL siap digunakan.

Prinsip pembuatan pupuk hayati dengan fermenasi MOL berdasarkan inovasi yang dikembangkan oleh BPTP Bali antara lain a) mikroba diambil atau ‘dipancing’ dari sumbernya dengan menggunakan gula sebagai media tumbuh. Selanjutnya mikroba akan berkembangbiak dengan adanya energi dari gula yang sekaligus memproses limbah padat ataupun limbah cair menjadi pupuk hayati. Untuk mengetahui respon petani setempat terhadap teknologi MOL yang diintroduksikan, maka tim BPTP Bali melakukan wawancara dengan petani. Hasil wawancara menunjukkan bahwa 27 anggota (90%) menyatakan pentingnya memiliki input-input organik seperti aplikasi MOL dalam mengembangkan pertanian organik (Sumber : Laporan Tengah Tahun Pendampingan Pengembangan Kawasan Komoditas Kopi di Bali oleh Tim Pendamping Kopi BPTP Bali).

Mol untuk mengolah pupuk.

  • Untuk 1 ton limbah padat : 1 liter MOL diencerkan 10 kali + gula merah 2 sendok makan, aduk biarkan 30 menit
  • Tebar ke limbah, ditutup dengan karung atau lainnya difermentasi dalam 2-3 minggu
  • 10 hari dapat dibuka dan diisi lagi dengan MOL serta ditutup lagi
  • Setelah 3 minggu maka sudah dapat dibongkar dengan warna hitam / coklat seperti tanah dan pupuk organik telah siap dipakai.

Mol untuk membuat biourine

  • Masukkan 1 liter MOL dalam satu wadah penampung (misal ember besar) volume 1000 liter
  • Biarkan selama 5-7 hari untuk mendegradasi dan mendekomposisi gas amoniak
  • Selanjutnya tambahkan 1 liter MOL lagi, diamkan 1 jam lalu diputar selama 5-7 jam
  • Biourine telah siap diaplikasikan
  • Biourine diencerkan 5 kali lalu diaplikasikan pada tanaman (padi dan sayuran dosis 100 liter / ha diencerkan 5-10 kali)

MOL juga sebagai bionutrient mengandung auksin, sitokinin, giberelin, sehingga baik sebagai perangsang pertumbuhan akar. MOL bila dicampur biourine maka 1 liter MOL tambah 2 liter biourine diencerkan 10 kali baru diaplikasikan pada tanaman. MOL juga dimanfaatkan untuk mempercepat biogas menyala. Berdasarkan pengalaman pada saat pengisian awal digester dengan limbah ternak, tambahkan MOL sebanyak 5 liter ( digester volume 6,3 m3 atau digester kedalaman 2 m diameter 2 m tinggi kubah 0.5 m). Dalam 1 minggu biogas sudah menyala.

 

Artikel terkait :

  1. Manullang, Riama Rita., Rusmini., dan Daryono. 2017. Kombinasi Mikroorganisme Lokal Sebagai Bioaktivator Kompos. Jurnal Hutan Tropis Vol 5 No 3. Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
  2. Palupi, Nurul Puspita. 2015. Ragam Larutan Mikroorganisme Lokal Sebagai Dekomposter Rumput Gajah (Pennisetum Purpureum). Ziraa’ah Volume 40 Nomor 2 Halaman 123-128. Fakultas Pertanian. Universitas Mulawarman. Samarinda
  3. Kariada dkk. 2016 Laporan Tengah Tahun Pendampingan Pengembangan Kawasan Komoditas Kopi di Bali oleh Tim Pendampingan Kopi BPTP Bali. Denpasar

Cara Cepat Menyiapkan Benih Salak Gula Pasir

Salak gula pasir merupakan komoditas unggulan buah nasional spesifik lokasi dari Provinsi Bali. Salak Gula Pasir merupakan kultivar Salak Bali yang paling enak. Daging buah yang dimiliki oleh Salak Gula Pasir lebih tebal, lebih berair dan lebih manis dari Salak Pondoh. Rasa manis Salak Gula Pasir sudah terasa sejak buah masih muda. Pengembangan komoditas Salak Gula Pasir masih sangat memerlukan ketersediaan benih yang bermutu serta mudah diperoleh bagi masyarakat.

Pengembangan buah salak khususnya dalam usaha tani masih mengalami kendalam dalam akses mendapatkan benih buah Salak Gula Pasir yang berkualitas mengingat dalam pengembangan usaha tani nya memerlukan waktu yang cukup lama serta inventasi yang tidak sedikit nominalnya. Dengan demikian, masyarakat setempat serta para pelaku usaha tani Salak Gula Pasir membutuhkan jaminan kualitas terhadap benih Salak Gula Pasir. Untuk menjawab permasalahan tersebut, maka perlu suatu upaya perbenihan Salak Gula Pasir yang baik untuk menghasilkan benih yang berkualitas dan waktu perbenihan yang singkat.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Adijaya, dkk (2014) sebagai tim peneliti BPTP Bali, untuk mempercepat ketersediaan benih, pembibitan yang dilakukan dengan menggunakan polybag serta media tanam yang baik (tanah dicampur dengan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1) akan mampu mempercepat dan meningkatkan kualitas benih serta siap dipindahkan ke lahan pada umur 4 bulan hari setelah tanam.

Selain itu cara lain meningkatkan kualitas benih adalah dengan menggunakan pupuk organik cair. Pupuk organik memiliki kemampuan untuk memperbaiki kesuburan tanah dari aspek fisika, kimia dan biologi. Menurut beberapa penangkar benih di Bali, benih salak siap dipindahkan pada saat benih telah mencapai tinggi minimal 40 cm dan telah berdaun 4 atau berumur sekitar 6 bulan. Mengenai hal tersebut, tahun 2018 tim peneliti BPTP Bali telah melakukan pengkajian pemanfaatan pupuk organik cair dalam meningkatkan pertumbuhan benih Salak Gula Pasir. Dalam kegiatan kajian BPTP Bali, jenis pupuk organik yang digunakan ialah pupuk organik cair dari kotoran sapi (biourine), dan beberapa pupuk cair dari tanaman lidah buaya  (Aloevera) serta pupuk organik cair dari sampah organik. Dosis yang digunakan dalam kajian tersebut adalah, pupuk Biourine sebanyak 100cc/liter air, pupuk organik cair dari  Aloevera sebanyak 10cc/liter, dan pupuk organik cair dari sampah organik sebanyak 5cc/liter air.

Hasil kajian menunjukkan bahwa secara keseluruhan penambahan pupuk organik cair pada benih Salak Gula Pasir memberikan respon positif terhadap pertumbuhan benih Salak varietas Gula Pasir. Pupuk organik dari Aloevera dengan dosis 10cc/liter mampu menghasilkan tinggi tanaman paling cepat hingga mencapai standar benih yang diharapkan untuk siap disebar ke masyarakat. Kesimpulannya pemberian pupuk organik cair dapat mempercepat pertumbuhan benih Salak Gula Pasir.  

 

Pustaka

1. Adijaya, dkk. 2014. Laporan Akhir. Kajian Pembibitan, Peningkatan Produktivitas dan Kualitas Buah Salak Gula Pasir . BPTP Balitbangtan Provinsi Bali

2. Mahaputra, I Ketut, Arya, Nyoman Ngurah. 2018. Pengaruh Pupuk Organik Cair pada Pertumbuhan Benih Salak Gula Pasir. Buletin Teknologi dan Informasi Pertanian Penyebar Informasi Teknologi dan Hasil Pertanian. BPTP Balitbangtan Provinsi Bali

Pengendalian Tungau Merah Pada Tanaman Ubi Kayu

Tanaman ubi kayu (Manihot Esculenta Crantz) merupakan tanaman jenis semak. Tinggi tanaman beragam mulai dari 1 m sampai dengan 3 m, tergantung dari varietas dan kondisi lingkungan. Batang tanaman berkayu bersih tidak berbulu, bercabang, berwarna coklat atau putih keperakan, dan sebagai akar menjadi ubi (tuber) dan oleh karena itu disebut tanaman ubi kayu. Ubi kayu tergolong tanaman semusim, dengan umur tanaman mencapai 6 bulan apabila yang dipanen umbinya. Sedangkan jika dipanen daun umur tanaman bisa lebih lama.  

Bentuk dan ukuran ubi sangat beragam, ada yang ramping memanjang dan ada juga yang memanjang tapi bundar. Daun berbentuk seperti  jari tangan manusia, kedudukan daun pada batang berselang seling secara teratur.  Membudidayakan tanaman ubi kayu tidak terlepas dari gangguan Organisme Penganggu Tanaman. Tanaman ubi kayu yang terserang OPT akan mengalami penurunan produksi secara kuantitas maupun kualitasnya. Bahkan pada intensitas serangan tinggi petani akan kehilangan hasil.  Alasan  mengapa petani harus mengetahui atau mengidentikasi hama tanaman ubi kayu adalah  agar petani dapat mengendalikan dengan benar jenis hama yang menyerang tanaman ubi kayu.

Tungau merah Tungau dewasa berbentuk oval, besarnya kurang lebih 0,5 mm. warna telur kuning coklat atau sedikit kemerahan dengan garis tengah 0,1 mm. larvanya berwarna kemerahan dan mempunyai tungkai empat pasang, berwarna kehijauan atau kemerahan. Yang jantan berwarna hijau kekuningan,  kadang-kadang kemerahan dengan beberapa bercak  hitam kecil. Yang betina berwarna merah tua atau merah kecoklatan dengan beberapa bercak hitam. Tungkai dan bagian mulut kelihatan putih jernih. Tungau dewasa bertungkai empang pasang.

Tungau merah aktif  pada siang hari. Seekor tungau merah betina mampu menghasilkan 200 butir yang diletakan di sekitar tulang daun. Telur menetas setelah 4-7 hari. Stadium larva lamanya 3-5 hari. Larva selanjutnya menjadi nimfa dan tungkainya menjadi empat pasang. Total stadia nimfa 6-10 hari.

Kerusakan  akibat tungau merah penyakit pada ubi kayu diawali pada daun yang berbintik-bintik kuning yang kemudian meluas menjadi bercak yang lebih besar berwarna kuning yang kemerahan hingga disebut sebagai hama merah. Hama ini lama kelamaan akan membuat daun menjadi layu dan rontok. terlihat tanaman tidak mati , namun lama kelamaan akan menjadi kerdil dengan umbi yang kecil dan kadarnya sedikit

Identifikasi Serangan  

Identifikasi tungau merah pada tanaman ubi dilakukan terhadap bagian bawah daun terutama di tulang daun. Karena ukurannya yang sangat kecil untuk lebih mudah mengidentifikasi tungau merah dapat bantu kaca pembesar.

Pengendalian

Pengendalian tungau merah dapat dilakukan dengan berberapa cara yaitu,

  1. Pembersihan gulma disekitar tanaman
  2. Musuh alaminya adalah tungau predator phytoseulus persimilis dan macroplitis, beberapa cocinelids stechorus givifrons, S. punctillum, cendawan Enthomopthora fresnii
  3. Pengendalian dilakukan apabila serangan mengkhawatirkan dengan menggunakan akarisida seprti kelthan, acarin, gelecron, gusathion dan lain-lain.

 

Sumber:

1. Suharto 2007. Pengenalan dan Pengendalian Hama Tanaman Pangan. Andy, 2007.

 2. Titek islami 2015. Ubi Kayu. Graha Ilmu 

Subcategories

Subcategories