Tanpa Kimia Produktivitas Bawang Merah Tetap Tinggi

Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran yang sejak lama telah diusahakan oleh petani di Indonesia. Pengusahaannya pun dilakukan secara intensif. Menurut petani nilai ekonomis bawang merah cukup menjanjikan, akan tetapi cukup sulit dalam pelaksanaan budidayanya. Kegagalan dalam usahatani bawang merah mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit bagi petani. Banyak factor yang menjadi penyebab kegagalan usaha tani bawang merah. Salah satunya adalah serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

Pengendalian OPT bawang merah umumnya dilakukan petani selain dengan cara mekanis juga dengan alikasi pestisida kimia sintetik. Seperti yang kita ketahui aplikasi pestisida kimia sintetik secara berlebihan dapat menyebabkan kerusakan lingkungan dan ekosistem. Terlebih sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.

Mengatasi permasalahan tersebut Tahun 2019 BPTP Bali kembali mengkaji dan mendiseminasikan Inovasi teknologi pengendalian OPT bawang merah yang ramah lingkungan. Kajian yang dilakukan adalah Penggunaan Kisela 866 dan perangkap Feromon exi untuk mengendalikan OPT bawang merah.

Seni 8 Juli 2019 BPTP Bali bersama-sama petani melaksanakan panen bawang merah pada kegiatan pendampingan pengembangan kawasan bawang merah di Kelompok tani Merta Jaya, Desa Songan B, Kintamani, Bangli. Panen kali ini membuktikan walaupun tanpa pestisida kimia, produksi bawang merah yg diperoleh cukup tinggi. Dari hasil ubinan diketahui produktivitasnya sekitar 34,4 ton per hektar.

Menurut Nyoman Ngurah Arya (Peneliti BPTP Bali), pengendalian OPT tanaman bawang merah yang dipanen hari ini, selama ini hanya menggunakan biopestisida Kisela 866. Selain itu juga menggunakan perangkap Feromon exi sebagai dasar ambang pengendalian ulat bawang merah (Spodoptera exigua). "Feromon exi tersebut disamping sebagai dasar pengendalian sekaligus juga berfungsi untuk mengendalikan perkembangan populasi ulat bawang merah" jelasnya. (swk)