Situbagendit Unggul di Lahan Tadah Hujan Tabanan

Lahan sawah yang pengairannya mengandalkan curah hujan disebut sebagai lahan tadah hujan. Mengusahakan tanaman padi di lahan tadah hujan memiliki resiko kegagalan yang lebih besar dibandingkan menanam padi di sawah irigasi. Intensitas penggunaan tenaga kerjanya pun lebih tinggi, karena suplai air yang tidak stabil.

Penggunaan varietas lokal yang berproduksi rendah dan berumur panjang menjadi salah satu kendala dalam menigkatkan produksi padi di lahan tadah hujan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali tahun 2018 melakukan kajian Sistem  Usaha Tani Pertanian Berbasis Pangan di Lahan Tadah Hujan (kering) di Bali. Salah satu Inovasi yang di introduksikan adalah penggunaan VUB Padi di lahan tadah hujan.

Pemaparan mengenai hasil kajian yang telah dilakukan, di sampaikan pada acara temu lapang dengan petani dan stakeholder lainnya oleh Sagung Aryawati selaku penanggung jawab kegiatan pengkajian pada hari Kamis, (1/11). Sagung Aryawati dihadapan petani, perbekel Desa Mambang, PPL, Babinsa dan Pekaseh dan pengurus subak lainnya, menyampaikan bahwa berdasarkan hasil ubinan varietas padi Situbagendit memiliki produktivitas tertinggi yaitu 8,33 tonGKP/Ha, disusul oleh VUB Inpari 40 sebesar 8,00 ton GKP/Ha dan Tuwoti sebesar 7,77 ton GKP/Ha.

Lebih lanjut disampaikan juga mengenai kendala yang dihadapi petani pada saat tanam adalah hama tikus. Masalah lainnya yang disampaikan adalah untuk varietas tuwoti yang kurang tahan terhadap penyakit potong leher atau Blast.