Mengupas Inovasi Teknologi Peternakan dari Lontar Bali Kuno

Denpasar - Bali terkenal dengan tradisi dan budayanya yang adiluhung. Salah satunya adalah tradisi pencatatan ilmu dan pengetahuan dalam bentuk manuskrip lontar. Berbagai jenis pengetahuan dalam catatan kuno ini perlu digali ulang agar dapat diaplikasikan dalam konteks kekinian. Pada lontar tersebut berisikan berbagai ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup yang pernah ada dan berkembang di masyarakat Bali pada masa lampau. Informasi yang ada di dalam lontar dapat dikembangkan untuk menata dan meningkatkan kehidupan spiritual dan material saat ini serta di masa mendatang. Salah satu pengetahuan dari lontar yang masih lestari dan dimanfaatkan secara turun temurun oleh masyarakat Bali adalah pemanfaatan berbagai jenis tanaman herbal untuk pengobatan tradisional yang lebih dikenal dengan lontar usada.

Beberapa hasil penelitian melaporkan bahwa berbagai jenis tanaman obat memiliki fungsi sebagai antimikroba patogen dan bahkan antioksidan. Berdasarkan hal tersebut peneliti BPTP Bali A.A Ngurah Badung Sarmuda Dinata berinisiatif menggali manfaat beberapa jenis tanaman obat yang berpotensi untuk dimanfaatkan dalam bidang pertanian saat ini. Menurut Dinata dari sekian banyak lontar usada yang ada di Bali yang telah dibacanya diperoleh informasi bahwa terdapat pengulangan penyebutan tanaman obat yakni Trikatuka.

Trikatuka adalah nama 3 jenis tanaman obat yang terdiri dari kesuna (bawang putih= Allium sativum L), jangu (dringo= Acorus calamus L.) mesuwi (mesoyi=Massoia aromatic Becc.). Hasil penelusuran ini kemudian ditindak lanjuti olehnya melalui kajian pemanfaatan mikroba rumen dan agen defaunasi sebagai probiotik pada sapi bali pada tahun 2020. Dengan pengkajian ini diharapkan akan diketahui manfaat tanaman obat ini sebagai antimikroba pathogen dalam upaya membuat kandidat probiotik khusus untuk ternak ruminansia. “Setelah diamati ternyata ekstrak tanaman obat ini ternyata mampu menekan populasi mikroba pathogen yang terdapat dalam cairan rumen sapi Bali” ungkapnya.

Disebutkan pula bahwa penambahan ekstrak tanaman obat ini mampu menghilangkan cemaran bakteri pathogen dalam waktu 3 hari pada cairan rumen yang difermentasi. Cairan rumen yang bebas bakteri pathogen ini kemudian dicampurkan dengan ekstrak tanaman sumber agen defaunasi dengan formula tertentu untuk diaplikasikan pada ternak sapi Bali. “Formula konsorsium mikroba rumen dengan agen defaunasi ini diberi nama prodef”.

Lebih lanjut di tahun 2020 Dinata mengkaji manfaat Prodef pada 20 ekor ternak sapi Bali. Sapi-sapi yang dijadikan sampel diberikan pakan rumput gajah dan tambahan prodef selama enam bulan. Alhasil pertambahan bobot badan sapi meningkat 22,35-60,59%, bahkan ada yang mencapai 2 kali lipat dibandingkan yang tanpa diberi prodef. Ini menunjukkan bahwa penggunaan tanaman obat trikatuka pada kandidat probiotik berperan efektif dalam meningkatkan efisiensi kecernaan pakan. ”Untuk memperoleh hasil yang benar-benar lebih valid perlu dilakukan dukungan lebih banyak penelitian lanjutan secara terus menerus sampai lokal genius warisan leluhur ini nantinya bisa dikembangkan menjadi inovasi baru dalam bidang pertanian” jelasnya menambahkan