Info Aktual

Balitbangtan Siapkan Inovasi Hortikultura Dukung Ekspor Pertanian Bali

Denpasar,– Petani Hortikultura di Provinsi Bali patut berbangga hati, pasalnya salah satu komoditas hortikultura di Bali mampu menembus pasar luar negeri. Kamis, (28/11/2019) di kawasan Bandara Ngurah Rai, Tuban – Badung, dilaksanakan pelepasan ekspor manggis ke China oleh Gubernur Bali, serta penandatanganan perjanjian kerjasama antara perusahaan pengekspor yaitu PT. Radja Manggis Sejati dan perusahaan pengimpor yaitu PT. Jinxiang Demei Food.

Gubernur Bali Dr. Ir. I Wayan Koster, M.M. dalam sambutannya mengatakan ke depan pihaknya akan serius mengurusi pertanian di Bali terutama pada sektor hilirnya. “Kalau dahulu yang diurus hanya di hulu saja, ke depan saya akan serius urus hilirnya, karena petani butuh uang pada saat di hilirnya,” ujar Gubernur Bali.

Koster juga berharap ke depan bukan hanya manggis, namun juga komoditas hortikultura lainnya dapat menjadi komoditas eksport seperti mangga, anggur, dan sayuran. “Nanti program pertama yang akan dikembangkan adalah sentra hasil-hasil pertanian di setiap Kabupaten/Kota di Bali, yang kedua akan dibangun industri olahan dan yang ketiga akan memfasilitasi ekspor, promosi ke daerah lain di Indonesia atau ke luar negeri,” paparnya.

Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Balitbangtan Bali Dr. I Made Rai Yasa menyatakan bahwa BPTP Balitbangtan Bali telah menyiapkan berbagai inovasi teknologi dalam mendukung pengembangan komoditas horrikultura ini. “Kami siapkan SDM yang sebelumnya telah kami latih di Pusat dan Balai Penelitian. Mereka inilah yang akan mengawal petani dalam dari inovasi teknologi budidaya bahkan sampai pasca panen produk-produk hortikultura ini nantinya,” jelasnya

Sementara, Direktur Buah dan Florikultura , Dr. Liferdi, S.P., M.Si mengatakan pada 2020 Kementerian Pertanian akan mengembangkan manggis di Bali seluas 200 hektare tepatnya di Kabupaten Tabanan, mangga di Kabupaten Buleleng seluas 180 hektare, sayuran 755 hektare, flori atau tanaman hias seluas 10.000 meter persegi. “Bapak Menteri Pertanian akan fokus pada daerah-daerah yang punya komitmen mengembangkan tanaman hortikultura. Ternyata Bali sudah punya Peraturan Gubernur yang kontennya mendorong pengembangan buah-buah lokal,” ujarnya.

Lebih lanjut Liferdi menjelaskan di lingkup Eselon 1, Kementerian Pertanian sudah dilakukan padupadan dan sepakat bahwa nanti seluruh Eselon 1 akan terlibat secara bersama-sama dalam program pengembangan hortikultura tersebut. “Salah satunya Badan Litbang Pertanian sebagai yang punya inovasi teknologi akan mengawal lokasi-lokasi yang dipersiapkan tersebut,” tambahnya. 

Khusus untuk manggis Kepala BPTP Balitbangtan Bali menambahkan bahwa benerapa Kabupaten lainnya di Bali memiliki Agroekosistem yang cocok untuk pengembangan tanaman mangis. “Beberapa daerah di Kabupaten lainnya di Bali, manggis juga cocok untuk dikembangkan,” ujarnya. 

Selama ini BPTP Balitbangtan Bali bersama Balai Karantina Pertanian Kelas I Denpasar dengan program Agrogemilang (Ayo Gerakan Ekspor Generasi Milenial) serta OPD terkait telah melakukan langkah-langkah seperti pemetaan sentra produksi manggis, memotret potensi, pola panen serta menggali permasalahan usahatani di Kabupaten Badung untuk selanjutnya bisa dimanfaatkan mendukung program ekspor manggis ini.

Bimtek Pembuatan Silase untuk Pakan Ternak Kambing.

Rabu, 30 Oktober 2019, bertempat di Desa Bantiran, Kecamatan Pupuan telah dilaksanakan Bimbimngan Teknis ( Bimtek) pembuatan Silase untuk Pakan Ternak Kambing.

Silase merupakan pakan ternak dari berbagai hijauan pakan yang diawetkan dengan metode anaerob (kedap oksigen), dan dapat dimasukkan kedalam kantong plastik atau Silo atau atau drum plastik.

 

Proses pembuatan Silase melibatkan bakteri atau mikroba yang membentuk asam susu yaitu Lactic Acid dan streptococcus yang hidup secara anaerob.

Tujuan dari pembuatan Silase adalah untuk persediaan atau cadangan pakan ternak pada saat musim kemarau yang panjang.

 

Bimtek dilaksanakan oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali bersama Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan dengan Narasumber dari Fakultas Peternakan Udayana dan BPTP Balitbangtan Bali. Bagi Kelompok Ternak Banyu Mekar Sari, Bimtek pembuatan Silase ini sangat bermanfaat terutama saat musim kering seperti saat ini. Pembinaan diharapkan terus dan berkesinanmbungan agar kelompok berhasil dalam mengelola usaha ternak kambingnya.

Rapat Kerja Balitbangtan Tahun 2019

Maros - Tanggal 25-26 November 2019, dilaksanakan Rapat Kerja (Raker) Badan Litbang Pertanian dengan tema Penguatan Manajemen Internal dan Sosialisasi Program-Program Strategis Kementan.

Raker dilaksanakan di Auditorium Prof. Dr. Ibrahim Manwan, Balitsereal Maros, dan dibuka oleh Kepala Badan Litbang Pertanian.

Selain materi Raker tentang penguatan manajemen internal Balitbangtan fokus Raker juga diisi dengan sosialisasi program Kostra tani, pengenalan Agriculture War Room (AWR), konsep Kawasan Pertanian Maju, Mandiri, Modern (Kapet M3). Selain itu disampaikan pula program dari Ka. Badan Ketahanan Pangan, Dirjen Perkebunan dan Ka. Badan BPSDMP.

Bapak Menteri Pertanian yang berkesempatan hadir dalam arahannya menekankan bahwa menggarap pertanian harus ditanamkan kata-kata maju, mandiri dan modern. Juga diperlukan sinergi dan kolaborasi untuk membangun sektor ini.

Kesuksesan Upsus Siwab Bali Harus Didukung Ketersediaan Pakan

Program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab), adalah program yang dicanangkan oleh Kementerian Pertanian dalam rangka meningkatkan populasi ternak sapi. Program Upsus Siwab sudah di mulai sejak tahun 2017. Provinsi Bali sendiri menjadi salah satu provinsi di Indonesia yang sudah menjalankan program ini dari sejak tahun 2017. Program Upsus Siwab di Bali dikatakan cukup berhasil karena mampu memenuhi ditarget yang ditentukan. Target Upsus Siwab di Bali Tahun 2019 adalah sebanyak 70.000 ekor induk betina, dari jumlah tersebut diharapkan 70 persennya bunting.

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Dr. I Ketut Diarmita dalam sambutannya pada acara Kontes Ternak dan Panen Pedet Provinsi Bali tahun 2019 yang diselenggarakan di Lapangan Kapten Japa, Denpasar, pada hari Jumat 13 September 2019 mengatakan, capaian upsus Siwab Bali dari bulan Januari sampai September 2019 cukup baik. Realisasi IB sebanyak 50.827 ekor atau 76,61 persen dari target dan dengan Kebuntingan mencapai 30.970 ekor atau 63,20 persen dari target 49.000 ekor. Sedangkan kelahiran sebanyak 24.554 ekor atau 62,64 persen dari target 39.200 ekor.

Lebih lanjut dikatakan bahwa dari capaian ini tentunya terjadi peningkatan populasi sapi. Hal ini harus sesuai dengan ketersediaan pakannya. Dirinya juga menyebutkan sangat mendukung pengembangan hijauan pakan ternak unggul seperti Indigofera, king grass, dan rumput gajah odot. "Harus dihitung berapa populasi sapi dan berapa ketersediaan pakannya, sehinga jangan sampai ada ternak sapi yang kekurangan pakan" tegasnya.

Kepala dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali, Drh. I Wayan Mardiana, M.M, melaporkan bahwa tahun 2019 dalam menjalankan program Upsus Siwab Provinsi Bali mendapat bantuan dari pemerintah pusat sebanyak 390 ekor sapi dengan nilai sebesar 6,2 milyar; yang telah dilalokasikan di lima Kabupaten yaitu Kabupaten Buleleng, Karangasem, Tabanan, Gianyar dan Jembrana. Selain itu bantuan juga berupa bibit hijauan pakan ternak unggul "Indigofera" sebanyak 25.000 pohon yang disebarkan di delapan kelompok tani dengan luas 12 Ha. "Bantuan Indigofera ini juga di dukung dengan penyediaan pupuk organik sebanyan 12.000 kg dan fasilitas tata kelola air sebanyak 7 paket" jelasnya.

Menanggapi program Upsus Siwab di Bali Kepala BPTP Bali, Dr. I Made Rai Yasa, menyatakan sebagai UPT Kementerian Pertanian di Bali, dengan tugas sebagai penyedia inovasi teknologi pertanian di Provinsi Bali, mendukung pensuksesan program upsus siwab di Bali. Dirinya mengaku telah menugaskan Peneliti, dan Penyuluh Pertanian BPTP Bali di bidang peternakan dan kesehatan hewan, bersama sama petugas dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali untuk mengawal peternak di Bali dalam menjalankan program Upsus Siwab. "yang kami lakukan selama ini mendiseminasikan inovasi teknologi di bidang perternakan seperti penanaman hijauan pakan ternak unggul, melatih petani peternak membuat pakan tambahan dan penguat, teknologi flushing dan lainnya" jelasnya menambahkan.

Evaluasi dan Perpisahan Program Upsus Provinsi Bali

Denpasar - Selasa 26 Nopember 2019, dilaksanakan rakor evaluasi upsus Provinsi Bali sekaligus perpisahan dengan Penanggungjawab Upsus Pajale di Bali (Ka BBPP Ketindan).

Rakor dihadiri semua unsur mulai dari Distan TPHBun Provinsi Bali, Kodam (diwakili wa Aster), Korem (plt Kasiter), Kodim seluruh Bali, BB Veteriner, BPTU, Balai Karantina Kelas I Denpasar, BPTP Bali, Distan kab/kota, dan BPP seluruh Bali.

Selain mengevaluasi capaian LTT juga mensosialisasikan program Kostratani yang disampaikan oleh Kepala BBPP Ketindan.

Acara diakhiri dengan penyerahan cendera mata dari Ka Distan TPHBun Bali kepada Tim upsus BBPP Ketindan dan dari Ka BBPP Ketindan kepada Ka Distan TPHBun Bali, BPTP Bali, dan Kodam XVI Udayana.

Patut Ditiru Cara Ibu-Ibu Rumah Tangga Desa Bengkel Buleleng Memperoleh Penghasilan

Memperoleh penghasilan untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga menjadi idaman para ibu-ibu rumah tangga. Bekerja di luar rumah umumnya sulit mereka lakukan karena waktu mereka sudah terbagi dengan pekerjaan rumah tangga. Di satu sisi masih ada sisa waktu dalam sehari usai menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.

Seperti contohnya ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Wisma Karya, Desa Bengkel, Kecamatan Busung Biu, Kabupaten Buleleng-Bali. Waktu luangnya mereka isi dengan aktivitas bertanam aneka sayuran di pekarangan rumah.


Dari semenjak tahun 2018, dengan adanya kegiatan pendampingan dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali, mereka mengubah pekarangan rumah yang awalnya tidak menghasilkan menjadi pekarangan rumah yang indah dan produktif. Aneka sayuran seperti terong, tomat, seledri, chaisin, cabai, dan lainnya tertanam dan tertata rapi di pekarangan rumah mereka. Hasil yang diperolehnya pun cukup untuk menambah kebutuhan dapur meskipun belum sampai menjual.


Tidak puas sampai di situ, ibu-ibu anggota KWT ini bertambah kreatif. Mereka juga mengolah hasil produksi tanaman di pekarangannya menjadi produk-produk olahan. Alhasil produk tersebut sudah dipasarkan dan laku terjual.


Komang Sri Wahyuni, Ketua KWT Wisma Karya mengatakan, sebagai pemula omset mereka rata-rata telah mencapai Rp. 1,5 juta dalam satu bulannya. Komang juga mengaku kegiatan kelompok yang sekarang mereka lakukan berkat binaan BPTP Bali melalui program kegiatan Demplot Tagrimart. "Sebelum ada Program KRPL dan Demplot Tagrimart, kegiatan kelompok kami hanya sebatas arisan dan pengumpulan kas kelompok dari iuran wajib" Ujarnya.


Ketut Mahaputra, SP, MP (Peneliti BPTP Bali) selaku penanggungjawab kegiatan menjelaskan bahwa kegiatan Demplot Tagrimat merupakan bentuk pengembangan dari program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Dimana Tagrimart lebih berorientasi pada penjualan produk dan pendapatan. "Produk yang dihasilkan berupa olahan dari hasil panen sayuran di pekarangan rumah, seperti buah terong menjadi dodol terong, abon pepaya, bolu buah labu, jus sayur dan lainya" paparnya.


Mahaputra menceritakan tahun 2018 KWT Wisma Karya adalah salah satu kelompok yang memperoleh program KRPL dari Dinas ketahanan Pangan Kabupaten Buleleng, dimana BPTP Bali saat itu menjadi pendamping teknis di lapangan."Kelompok ini sangat aktif dan kreatif, sehingga tahun mulai 2019 ini kami bina untuk melaksanakan program demplot tagrimart" jelasnya.


Sementara itu Kepala BPTP Bali Dr. I Made Rai Yasa saat ditemui di tempat kerjanya hari Rabu, 11 September 2019 mengatakan selalu akan memberikan dukungan yang positif bagi kelompok wanita yang aktif dan ingin maju. "Harapan kami dengan adanya pendampingan Demplot Tagrimart ini mampu memotivasi KWT yang lain sehingga akan muncul Tagrimart-Tagrimart lainnya di Bali", ujarnya.

Gubernur Bali Serahkan DIPA Tahun 2020

Denpasar - Selasa 19 November 2019 bertempat di Wiswa Sabha Utama Kantor Gubernur Bali dilakukan penyerahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tahun Anggaran 2020 oleh Gubernur Bali.  Penyerahan DIPA tahun ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang umumnya dilakukan bulan Desember.

Dalam arahannya Gubernur Bali Dr. Ir. I Wayan Koster, M.M. mempertegas arahan Bapak Presiden RI agar hal ini dimaknai sebagai upaya percepatan pelaksanaan pembangunan dengan pemanfaatan dana DIPA. “Dengan diterimanya DIPA lebih awal agar dapat diambil langkah-langkah sehingga program/kegiatan dapat dimulai awal tahun dan tidak membengkak di akhir tahun sehingga kegiatan akan lebih produktif, optimal, terarah serta terukur dalam pencapaian output” tambahnya.

Pada acara ini diserahkan sebanyak 406 DIPA dengan rincian 356 DIPA instansi vertikal dan 50 DIPA Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dengan total anggaran 11,091 triliun.

Tehnik Budidaya dan Panen Tentukan Keberlangsungan Produktivitas Kopi

Tabanan - Ada tiga Jenis Kopi di Indonesia yang dibudidayakan dan dipasarkan yaitu, Kopi Robusta, Arabika dan Exselsa. Sebesar 85 % pasar dalam negeri dikuasai oleh kopi Robusta. Sedangkan untuk pasar luar negeri dikuasai oleh kopi arabika yaitu sebesar 75 %. Berbeda dengan dua jenis kopi tersebut, kopi Exselsa baru menguasai pasar dalam negeri sebesar 1 % saja.


Dalam budidaya kopi pemilihan klon, pembibitan, pemeliharaan hingga tehnik panen yang baik dan benar menjadi point penting untuk keberlangsungan produktivitas tanaman kopi. Demikian yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir Rubiyo, M.Si (Peneliti Utama di BBP2TP, Bogor) dalam acara Bimbingan Teknis (Bimtek) budidaya dan pengembangan kopi yang dilaksanakan di Kelompok Tani Jongkok Praktiyasa, Desa Belatungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan-Bali.


Acara Bimtek yang diselenggarakan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali ini dalam rangka peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) petani kopi, dan untuk mempercepat hilirisasi teknologi yang dihasilkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.


Menurut Kepala BPTP Bali, Dr. I Made Rai Yasa, dirinya sengaja mengundang seorang Profesor Riset Badan Litbang Pertanian sebagai narasumber agar permasalahan yang dihadapi petani dalam hal budidaya kopi bisa teratasi. Dikatakan lebih lanjut bahwa Bimtek Budidaya kopi yang dilaksanakan diikuti juga oleh Penyuluh BPTP Bali dan PPL yang mewilayahi Desa Belatungan. " dari Bimtek ini diharapkan juga mampu meningkatkan kompetensi Penyuluh BPTP Bali dan Penyuluh di Daerah dalam membina petani di lapangan" jelasnya.


Tidak hanya itu, terkait program dan kebijakan dibidang perkebunan khususnya komoditas kopi, BPTP Bali juga mengundang Bapelitbang dan Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan untuk menghadiri acara Bimtek.
Dewa Ketut Budidana Susila selaku Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, mengatakan bahwa saat ini produksi kopi robusta di Kecamatan Pupuan tergolong masih rendah, yaitu rata-rata 400 kg/hektar/tahun. "Kami sangat mendukung program Bimtek ini, dan kami yakin dengan budidaya yang baik produksi kopi di sini dalam dua sanpai tiga tahun mendatang akan meningkat" ujarnya.


Lebih lanjut Susila mengatakan akan terus bekerjasama dengan BPTP Bali dalam membina petani kopi di Kabupaten Tabanan dengan melaksanakan Bimtek terpadu . Dirinya berharap BPTP Bali siap dengan narasumber dan inovasinya pada setiap Bimtek yang akan diaksanakan.

Sementara itu Ir I Made Artana, MT Kepala Bidang Pembangunan Manusia dan Masyarakat (PPM) Badan Perencanaan dan Penelitian Pembangunan (Bapelitbang) Tabanan, menyampaikan bahwa meningkatkan pendapatan dan nilai tukar petani merupakan PR yang cukup berat dan pekerjaan itu menurutnya tidak pernah selesai. Terlebih-lebih petani dengan beragam komoditas dan luas lahan serta sekala usaha yang tergolong kecil. "Petani sangat membutuhkan pendampingan dalam hal teknologi budidaya, pengolahan pasca panen, fasilitas pasar dan kelembagaan usaha agar mampu memenuhi kebutuhan pasar" jelasnya.

Selain itu I Made Artana juga menyampaikan apresiasi dan terimakasihnya kepada BPTP Bali yang selalu siap mendampingi petani. " Sejak lama BPTP Bali menjadi Mitra kami dalam melakukan berbagai inovasi program pertanian di Kabupaten Tabanan" ungkapnya.

BPTP Bali Hadiri Pekan Mangga Nasional

Denpasar - Kepala BPTP Bali, Kasie KSPP, Peneliti dan Penyuluh BPTP Bali menghadiri Pekan Inovasi Mangga Nasional yang dilaksanakan dari tanggal 13-16 berlokasi di kebun IP2TP Cukurgondang Pasuruan Jawa Timur yang mengangkat tema Percepatan Hilirisasi Inovasi Teknologi Mangga Memperkuat Swasembada dan Ekspor. Bimtek Inovasi Teknologi Mangga, Bazzar serta Temu Bisnis merupakan Rangkaian acara yang digelar sejak Selasa 13 November 2019.

Jumat 15 Nopember 2019, Mentan RI Dr. Syahrul Yasin Limpo, berkesempatan meresmikan acara sekaligus melonching dua Varietas Unggul Baru (VUB) buah, hasil inovasi Balitbangtan yaitu mangga DENARUM dan anggur GENETAS. Mentan juga berkesempatan mengunjungi koleksi plasma Nutfah mangga di kebun IP2TP Cukurgondang dan display 200 jenis/aksesi mangga. Pada acara ini Mentan bersama Badan Karantina juga melakukan "pelepasan ekspor komoditas mangga Jatim dan deklarasi Cukurgondang untuk akselerasi ekspor mangga".

 

Keistimewaan Petani Desa Antapan Bali Hingga Dikunjungan 56 Negara

Tabanan - Antapan merupakan nama sebuah desa yang terletak di lembah bukit, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Pada salah satu sudut desa inilah terdapat sebuah model pertanian ramah lingkungan, yang di bangun Badan Litbang Pertanian-Kementerian Pertanian, melalui Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali.

Usaha keras petani sejak tahun 2015 didampingi BPTP Bali kini berbuah manis. Sebuah model pertanian ramah lingkungan yang disebut dengan Model Pertanian Bio Industri kini terlihat wujudnya. Sejauh mata memandang tanaman tampak indah dan tertata rapi. Di sudut-sudut lahan petani terdapat embung penampung air yang menjadi sumber kehidupan bagi tanaman dan ternak petani. Menurut I Nyoman Adijaya, SP, MP selaku penanggungjawab kegiatan disini menyatakan, jumlah embung yang dibangun telah mencapai 87 unit yang tersebar di lahan petani.

Tidak diragukan lagi Model Pertanian Bio Industri di Desa Antapan tahun ini 2019 akan dijadikan lokasi Field Trip para Peserta Council Meeting Global Risearch Aliance (GRA) ke-9 yang rencananya dilaksanakan pada tanggal 6 Oktober 2019. Sebuah kebanggaan petani setempat mendapat kesempatan mewakili Indonesia menunjukkan yang terbaik kepada dunia.

Menurut Special Representative GRA, Mr. Hayden Montgomery, yang dikutif dari media resmi Badan Litbang Pertanian Global Research Alliance (GRA) merupakan organisasi Internasional yang memberi keuntungan bagi negara anggotanya terkait pemanfaatan hasil penelitian dan saling bekerjasama dalam penelitian. Disebutkan juga saat ini negara-negara yang tergabung GRA sudah mencapai 56 negara.

Dr. Yiyi Sulaeman panitia GRA dari Balitbangtan hari Sabtu 6 September 2019, saat kunjungannya ke lokasi field trip mengatakan bahwa Model Pertanian Bio industri di Tabanan dijadikan lokasi field trip karena dianggap mewakili contoh sebuah model pertanian yang telah menunjukkan upaya penurunan emisi karbon dengan meningkatkan penyerapan karbon.

"Dengan mengubah lahan yang tadinya kekeringan dan sulit untuk bercocok tanam menjadi lahan subur yang bisa ditanamami sepanjang tahun sudah termasuk usaha menurunkan emisi karbon" jelasnya.

Sementara itu kepala BPTP Bali Dr. I Made Rai Yasa ditemui di tempat kerjanya mengatakan dirinya merasa bangga Model Pertanian Bio Industri dijadikan lokasi field trip.

"Tentunya kami bersama petani akan tunjukkan yang terbaik kepada peserta field trip, ini menyangkut citra positif pertanian Bali dan Indonesia di mata dunia" ujarnya.

Dikatakan pula bahwa selain positif dari aspek lingkungan, kegiatan model Pertanian Bio Industri di Desa Antapan telah terbukti secara secara ekonomi telah mampu meningkatkan pendapatan petani sebanyak 152%, yaitu dari Rp. 2.057.670,- pada tahun 2015 menjadi Rp. 5.190.648,- pada awal tahun 2018.

I Wayan Widana Kelompok tani Setia Makmur, mengaku sejak dibangunnya Model Pertanian Bio Industri di tempatnya dirinya bersama anggota kelompok lainya selalu mengikuti arahan dari BPTP Bali. "dulu kami disini sulit berusaha tani apalagi musim kemarau, dan kini sejak dibina BPTP Bali dan bantuan dari Pemerintah Daerah kami bisa berusaha tani sepanjang tahun. Inovasi-inovasi yang dibawa BPTP Bali pun sudah sangat berkembang dengan baik di sini" jelasnya.

Lebih lanjut I Wayan Widana yang sebelumnya adalah seorang pegawai hotel di kawasan Kuta Bali ini juga mengaku bahwa Model pertanian Bio Industri di tempatnya selama ini sering dipakai lokasi field trip. Dari kunjungan-kunjungan itu kami juga mendapatkan tambahan penghasilan dengan memberikan pelayanan serta dari menjual hasil pertanian dari kelompok tani kami" akunya.

 

Subcategories

Subcategories