Info Aktual

Kesuksesan Upsus Siwab Bali Harus Didukung Ketersediaan Pakan

Program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab), adalah program yang dicanangkan oleh Kementerian Pertanian dalam rangka meningkatkan populasi ternak sapi. Program Upsus Siwab sudah di mulai sejak tahun 2017. Provinsi Bali sendiri menjadi salah satu provinsi di Indonesia yang sudah menjalankan program ini dari sejak tahun 2017. Program Upsus Siwab di Bali dikatakan cukup berhasil karena mampu memenuhi ditarget yang ditentukan. Target Upsus Siwab di Bali Tahun 2019 adalah sebanyak 70.000 ekor induk betina, dari jumlah tersebut diharapkan 70 persennya bunting.

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Dr. I Ketut Diarmita dalam sambutannya pada acara Kontes Ternak dan Panen Pedet Provinsi Bali tahun 2019 yang diselenggarakan di Lapangan Kapten Japa, Denpasar, pada hari Jumat 13 September 2019 mengatakan, capaian upsus Siwab Bali dari bulan Januari sampai September 2019 cukup baik. Realisasi IB sebanyak 50.827 ekor atau 76,61 persen dari target dan dengan Kebuntingan mencapai 30.970 ekor atau 63,20 persen dari target 49.000 ekor. Sedangkan kelahiran sebanyak 24.554 ekor atau 62,64 persen dari target 39.200 ekor.

Lebih lanjut dikatakan bahwa dari capaian ini tentunya terjadi peningkatan populasi sapi. Hal ini harus sesuai dengan ketersediaan pakannya. Dirinya juga menyebutkan sangat mendukung pengembangan hijauan pakan ternak unggul seperti Indigofera, king grass, dan rumput gajah odot. "Harus dihitung berapa populasi sapi dan berapa ketersediaan pakannya, sehinga jangan sampai ada ternak sapi yang kekurangan pakan" tegasnya.

Kepala dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali, Drh. I Wayan Mardiana, M.M, melaporkan bahwa tahun 2019 dalam menjalankan program Upsus Siwab Provinsi Bali mendapat bantuan dari pemerintah pusat sebanyak 390 ekor sapi dengan nilai sebesar 6,2 milyar; yang telah dilalokasikan di lima Kabupaten yaitu Kabupaten Buleleng, Karangasem, Tabanan, Gianyar dan Jembrana. Selain itu bantuan juga berupa bibit hijauan pakan ternak unggul "Indigofera" sebanyak 25.000 pohon yang disebarkan di delapan kelompok tani dengan luas 12 Ha. "Bantuan Indigofera ini juga di dukung dengan penyediaan pupuk organik sebanyan 12.000 kg dan fasilitas tata kelola air sebanyak 7 paket" jelasnya.

Menanggapi program Upsus Siwab di Bali Kepala BPTP Bali, Dr. I Made Rai Yasa, menyatakan sebagai UPT Kementerian Pertanian di Bali, dengan tugas sebagai penyedia inovasi teknologi pertanian di Provinsi Bali, mendukung pensuksesan program upsus siwab di Bali. Dirinya mengaku telah menugaskan Peneliti, dan Penyuluh Pertanian BPTP Bali di bidang peternakan dan kesehatan hewan, bersama sama petugas dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali untuk mengawal peternak di Bali dalam menjalankan program Upsus Siwab. "yang kami lakukan selama ini mendiseminasikan inovasi teknologi di bidang perternakan seperti penanaman hijauan pakan ternak unggul, melatih petani peternak membuat pakan tambahan dan penguat, teknologi flushing dan lainnya" jelasnya menambahkan.

Pelepasan Mahasiswa Magang dari Universitas Nusa Cendana

Pelayanan Magang/PKL bagi siswa dan Mahasiswa menjadi salah satu wujud pelayanan publik yang disediakan di BPTP Bali. Setiap saat BPTP Bali selalu siap menerima siswa/mahasiswa yang ingin melaksanakan kegiatan magang/PKL.

 

Salah satu Fakultas yang setiap tahunnya selalu menempatkan mahasiswanya untuk melaksanakan magang adalah Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana, NTT. Hari ini 16 Agustus 2019, setelah sebulan menimba ilmu dan pengalaman di BPTP Bali tentang kajian dan diseminasi inovasi teknologi pertanian di Bali, tiba saatnya bagi adik-adik mahasiwa kembali ke bangku kuliah dan keluarganya.

 

Pelepasan mahasiswa magang hari ini dilaksanakan langsung oleh kepala BPTP Bali. Ditandai dengan penyerahan sertifikat penghargaan kepada mahasiswa karena selama di BPTP Bali telah melaksanakan magang dengan sangat baik. Harapan Kepala Balai agar apa yang didapatkan selama magang di BPTP Bali dapat berguna kelak di kemudian hari baik di bangku kuliah maupun di kehidupan sehari hari.

Patut Ditiru Cara Ibu-Ibu Rumah Tangga Desa Bengkel Buleleng Memperoleh Penghasilan

Memperoleh penghasilan untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga menjadi idaman para ibu-ibu rumah tangga. Bekerja di luar rumah umumnya sulit mereka lakukan karena waktu mereka sudah terbagi dengan pekerjaan rumah tangga. Di satu sisi masih ada sisa waktu dalam sehari usai menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.

Seperti contohnya ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Wisma Karya, Desa Bengkel, Kecamatan Busung Biu, Kabupaten Buleleng-Bali. Waktu luangnya mereka isi dengan aktivitas bertanam aneka sayuran di pekarangan rumah.


Dari semenjak tahun 2018, dengan adanya kegiatan pendampingan dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali, mereka mengubah pekarangan rumah yang awalnya tidak menghasilkan menjadi pekarangan rumah yang indah dan produktif. Aneka sayuran seperti terong, tomat, seledri, chaisin, cabai, dan lainnya tertanam dan tertata rapi di pekarangan rumah mereka. Hasil yang diperolehnya pun cukup untuk menambah kebutuhan dapur meskipun belum sampai menjual.


Tidak puas sampai di situ, ibu-ibu anggota KWT ini bertambah kreatif. Mereka juga mengolah hasil produksi tanaman di pekarangannya menjadi produk-produk olahan. Alhasil produk tersebut sudah dipasarkan dan laku terjual.


Komang Sri Wahyuni, Ketua KWT Wisma Karya mengatakan, sebagai pemula omset mereka rata-rata telah mencapai Rp. 1,5 juta dalam satu bulannya. Komang juga mengaku kegiatan kelompok yang sekarang mereka lakukan berkat binaan BPTP Bali melalui program kegiatan Demplot Tagrimart. "Sebelum ada Program KRPL dan Demplot Tagrimart, kegiatan kelompok kami hanya sebatas arisan dan pengumpulan kas kelompok dari iuran wajib" Ujarnya.


Ketut Mahaputra, SP, MP (Peneliti BPTP Bali) selaku penanggungjawab kegiatan menjelaskan bahwa kegiatan Demplot Tagrimat merupakan bentuk pengembangan dari program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Dimana Tagrimart lebih berorientasi pada penjualan produk dan pendapatan. "Produk yang dihasilkan berupa olahan dari hasil panen sayuran di pekarangan rumah, seperti buah terong menjadi dodol terong, abon pepaya, bolu buah labu, jus sayur dan lainya" paparnya.


Mahaputra menceritakan tahun 2018 KWT Wisma Karya adalah salah satu kelompok yang memperoleh program KRPL dari Dinas ketahanan Pangan Kabupaten Buleleng, dimana BPTP Bali saat itu menjadi pendamping teknis di lapangan."Kelompok ini sangat aktif dan kreatif, sehingga tahun mulai 2019 ini kami bina untuk melaksanakan program demplot tagrimart" jelasnya.


Sementara itu Kepala BPTP Bali Dr. I Made Rai Yasa saat ditemui di tempat kerjanya hari Rabu, 11 September 2019 mengatakan selalu akan memberikan dukungan yang positif bagi kelompok wanita yang aktif dan ingin maju. "Harapan kami dengan adanya pendampingan Demplot Tagrimart ini mampu memotivasi KWT yang lain sehingga akan muncul Tagrimart-Tagrimart lainnya di Bali", ujarnya.

BPTP Bali Kembangkan SDM di Bidang Tanaman Hias

Tanaman hias merupakan salah satu komoditas ekonomis yang cocok dikembangkan di Bali. Petani Bali memiliki peluang besar untuk mengembangkan tanaman hias baik dalam bentuk hidup maupun bunga potong. Karena Bali merupakan daerah pariwisata, dimana permintaan akan tanaman hias untuk keperluan hotel, upakara dan lainnya terus ada. Berusaha tani tanaman hias atau bunga potong membutuhkan inovasi teknologi yang tepat guna sehingga diharapkan petani tanaman hias akan terus meningkat pendapatannya.

Melihat peluang tersebut Kepala BPTP Balitbangtan Bali Dr. I Made Rai Yasa menugaskan dua orang pegawainya untuk melaksanakan magang di Balai Penelitian tanaman hias (Balithi) di Cianjur, Jawa Barat. “ Mereka ditugaskan untuk mendalami inovasi teknologi tanaman hias, sehingga nanti diharapkan ilmu yang mereka peroleh dapat ditularkan kepada petani tanaman hias di Bali” jelasnya.

Sementara Itu Tulus Fernando dan Annela Retna Kumalasari setelah mengikuti magang inovasi teknologi tanaman hias mengaku sangat berterimakasih karena diberi kesempatan magang di Balithi. Menurut mereka telah belajar banyak tentang inovasi teknologi tanaman hias, mulai dari teknologi produksi benih hingga pasca panen “ hari pertama kami belajar tentang bunga krisan” ungkap mereka.

Tulus Fernando dan Annela Retna Kumalasari merupakan Calon Peneliti yang mulai tahun 2019 ini ditempatkan di BPTP Balitbangtan Bali, untuk mendukung BPTP Balitbangtan Bali dalam melaksanakan pengkajian, perakitan pengembangan dan diseminasi teknologi pertanian tepat guna sfesifik lokasi di Bali.

Tehnik Budidaya dan Panen Tentukan Keberlangsungan Produktivitas Kopi

Tabanan - Ada tiga Jenis Kopi di Indonesia yang dibudidayakan dan dipasarkan yaitu, Kopi Robusta, Arabika dan Exselsa. Sebesar 85 % pasar dalam negeri dikuasai oleh kopi Robusta. Sedangkan untuk pasar luar negeri dikuasai oleh kopi arabika yaitu sebesar 75 %. Berbeda dengan dua jenis kopi tersebut, kopi Exselsa baru menguasai pasar dalam negeri sebesar 1 % saja.


Dalam budidaya kopi pemilihan klon, pembibitan, pemeliharaan hingga tehnik panen yang baik dan benar menjadi point penting untuk keberlangsungan produktivitas tanaman kopi. Demikian yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir Rubiyo, M.Si (Peneliti Utama di BBP2TP, Bogor) dalam acara Bimbingan Teknis (Bimtek) budidaya dan pengembangan kopi yang dilaksanakan di Kelompok Tani Jongkok Praktiyasa, Desa Belatungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan-Bali.


Acara Bimtek yang diselenggarakan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali ini dalam rangka peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) petani kopi, dan untuk mempercepat hilirisasi teknologi yang dihasilkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.


Menurut Kepala BPTP Bali, Dr. I Made Rai Yasa, dirinya sengaja mengundang seorang Profesor Riset Badan Litbang Pertanian sebagai narasumber agar permasalahan yang dihadapi petani dalam hal budidaya kopi bisa teratasi. Dikatakan lebih lanjut bahwa Bimtek Budidaya kopi yang dilaksanakan diikuti juga oleh Penyuluh BPTP Bali dan PPL yang mewilayahi Desa Belatungan. " dari Bimtek ini diharapkan juga mampu meningkatkan kompetensi Penyuluh BPTP Bali dan Penyuluh di Daerah dalam membina petani di lapangan" jelasnya.


Tidak hanya itu, terkait program dan kebijakan dibidang perkebunan khususnya komoditas kopi, BPTP Bali juga mengundang Bapelitbang dan Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan untuk menghadiri acara Bimtek.
Dewa Ketut Budidana Susila selaku Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, mengatakan bahwa saat ini produksi kopi robusta di Kecamatan Pupuan tergolong masih rendah, yaitu rata-rata 400 kg/hektar/tahun. "Kami sangat mendukung program Bimtek ini, dan kami yakin dengan budidaya yang baik produksi kopi di sini dalam dua sanpai tiga tahun mendatang akan meningkat" ujarnya.


Lebih lanjut Susila mengatakan akan terus bekerjasama dengan BPTP Bali dalam membina petani kopi di Kabupaten Tabanan dengan melaksanakan Bimtek terpadu . Dirinya berharap BPTP Bali siap dengan narasumber dan inovasinya pada setiap Bimtek yang akan diaksanakan.

Sementara itu Ir I Made Artana, MT Kepala Bidang Pembangunan Manusia dan Masyarakat (PPM) Badan Perencanaan dan Penelitian Pembangunan (Bapelitbang) Tabanan, menyampaikan bahwa meningkatkan pendapatan dan nilai tukar petani merupakan PR yang cukup berat dan pekerjaan itu menurutnya tidak pernah selesai. Terlebih-lebih petani dengan beragam komoditas dan luas lahan serta sekala usaha yang tergolong kecil. "Petani sangat membutuhkan pendampingan dalam hal teknologi budidaya, pengolahan pasca panen, fasilitas pasar dan kelembagaan usaha agar mampu memenuhi kebutuhan pasar" jelasnya.

Selain itu I Made Artana juga menyampaikan apresiasi dan terimakasihnya kepada BPTP Bali yang selalu siap mendampingi petani. " Sejak lama BPTP Bali menjadi Mitra kami dalam melakukan berbagai inovasi program pertanian di Kabupaten Tabanan" ungkapnya.

BPTP Bali Siapkan SDM Untuk Diseminasikan Teknologi Kopi

Sukabumi - Kopi merupakan komoditas ekspor, penyumbang devisa negara, dan sumber pendapatan petani Tercatat Indonesia sebagai penghasil kopi terbesar ke tiga di dunia, dengan jumlah produksi tahun 2018 sebesar 722.461 ton, dengan produktivitas rata-rata 782 kg/ha. 

Provinsi Bali sendiri komoditas kopi memiliki prospek yang bagus untuk lebih dikembangkan dan ditingkatkan produktivitas maupun kualitasnya.

Menurut Kepala BPTP Bali, Dr. I Made Rai Yasa dengan pengelolaan yang baik dan sentuhan Inovasi kopi di Bali akan memiliki produktivitas dan nilai ekonomis yang tinggi. "dengan demikian pendapatan petani kopi pun akan meningkat lagi" jelasnya. 

Berdasarkan pemikiran tersebut Kepala BPTP Bali bertekad untuk memperluas inovasi teknologi kopi yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian di Bali. Hari Selasa 30 Juli 2019, dirinya menugaskan seorang Penyuluh Pertanian di BPTP Bali untuk mengikuti, bimbingan teknis Teknologi Budidaya Kopi yang diselenggarakan oleh Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar, Badan Litbang Pertanian. Harapannya Penyuluh yang ditugaskan selesai bimtek mampu mediseminasikan Inovasi teknologi Balitbangtan kepada petani kopi di Bali.

Tidak hanya pada komoditas Kopi selanjutnya menurut kepala BPTP Bali akan ditugaskan Penyuluh, Peneliti maupun Litkayasa yang lain untuk mengikuti bimtek di Balai maupun Pusat Penelitian.

Sementara itu menurut Putu Sweken (Penyuluh Pertanian) yang telah mengikuti Bimtek Budidaya Kopi mengakui bahwa bimtek yang diikuti sangat bermanfaat bagi dirinya sebagai seorang Penyuluh pertanian yang bertugas mendampingi petani dalam menerapkan inovasi teknologi. "Materi bimtek yang diberikan sangat menarik, mulai dari teknologi perbanyakan kopi, pemeliharaan sampai pasca panen, semua diajarkan oleh Narasumber yang kompeten dari Balitri" jelasnya.

Ditanya rencana ke depan Sweken mengatakan siap mendiseminasikan semua materi bimtek yang didapatkan kepada petani kopi di Bali.

Keistimewaan Petani Desa Antapan Bali Hingga Dikunjungan 56 Negara

Tabanan - Antapan merupakan nama sebuah desa yang terletak di lembah bukit, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Pada salah satu sudut desa inilah terdapat sebuah model pertanian ramah lingkungan, yang di bangun Badan Litbang Pertanian-Kementerian Pertanian, melalui Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali.

Usaha keras petani sejak tahun 2015 didampingi BPTP Bali kini berbuah manis. Sebuah model pertanian ramah lingkungan yang disebut dengan Model Pertanian Bio Industri kini terlihat wujudnya. Sejauh mata memandang tanaman tampak indah dan tertata rapi. Di sudut-sudut lahan petani terdapat embung penampung air yang menjadi sumber kehidupan bagi tanaman dan ternak petani. Menurut I Nyoman Adijaya, SP, MP selaku penanggungjawab kegiatan disini menyatakan, jumlah embung yang dibangun telah mencapai 87 unit yang tersebar di lahan petani.

Tidak diragukan lagi Model Pertanian Bio Industri di Desa Antapan tahun ini 2019 akan dijadikan lokasi Field Trip para Peserta Council Meeting Global Risearch Aliance (GRA) ke-9 yang rencananya dilaksanakan pada tanggal 6 Oktober 2019. Sebuah kebanggaan petani setempat mendapat kesempatan mewakili Indonesia menunjukkan yang terbaik kepada dunia.

Menurut Special Representative GRA, Mr. Hayden Montgomery, yang dikutif dari media resmi Badan Litbang Pertanian Global Research Alliance (GRA) merupakan organisasi Internasional yang memberi keuntungan bagi negara anggotanya terkait pemanfaatan hasil penelitian dan saling bekerjasama dalam penelitian. Disebutkan juga saat ini negara-negara yang tergabung GRA sudah mencapai 56 negara.

Dr. Yiyi Sulaeman panitia GRA dari Balitbangtan hari Sabtu 6 September 2019, saat kunjungannya ke lokasi field trip mengatakan bahwa Model Pertanian Bio industri di Tabanan dijadikan lokasi field trip karena dianggap mewakili contoh sebuah model pertanian yang telah menunjukkan upaya penurunan emisi karbon dengan meningkatkan penyerapan karbon.

"Dengan mengubah lahan yang tadinya kekeringan dan sulit untuk bercocok tanam menjadi lahan subur yang bisa ditanamami sepanjang tahun sudah termasuk usaha menurunkan emisi karbon" jelasnya.

Sementara itu kepala BPTP Bali Dr. I Made Rai Yasa ditemui di tempat kerjanya mengatakan dirinya merasa bangga Model Pertanian Bio Industri dijadikan lokasi field trip.

"Tentunya kami bersama petani akan tunjukkan yang terbaik kepada peserta field trip, ini menyangkut citra positif pertanian Bali dan Indonesia di mata dunia" ujarnya.

Dikatakan pula bahwa selain positif dari aspek lingkungan, kegiatan model Pertanian Bio Industri di Desa Antapan telah terbukti secara secara ekonomi telah mampu meningkatkan pendapatan petani sebanyak 152%, yaitu dari Rp. 2.057.670,- pada tahun 2015 menjadi Rp. 5.190.648,- pada awal tahun 2018.

I Wayan Widana Kelompok tani Setia Makmur, mengaku sejak dibangunnya Model Pertanian Bio Industri di tempatnya dirinya bersama anggota kelompok lainya selalu mengikuti arahan dari BPTP Bali. "dulu kami disini sulit berusaha tani apalagi musim kemarau, dan kini sejak dibina BPTP Bali dan bantuan dari Pemerintah Daerah kami bisa berusaha tani sepanjang tahun. Inovasi-inovasi yang dibawa BPTP Bali pun sudah sangat berkembang dengan baik di sini" jelasnya.

Lebih lanjut I Wayan Widana yang sebelumnya adalah seorang pegawai hotel di kawasan Kuta Bali ini juga mengaku bahwa Model pertanian Bio Industri di tempatnya selama ini sering dipakai lokasi field trip. Dari kunjungan-kunjungan itu kami juga mendapatkan tambahan penghasilan dengan memberikan pelayanan serta dari menjual hasil pertanian dari kelompok tani kami" akunya.

 

Manggis dan Durian Berpotensi di Kembangkan di Petang

Badung – Hari Rabu, 31 Juli 2019 bertempat di Kantor Desa Petang Badung telah dilaksanakan Focus Grup Discussion tentang potensi dan permasalahan pengembangan tanaman manggis dan durian di Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Yang dihadiri Kepala BPTP Bali beserta stafnya, Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Denpasar, SKPD terkait, PPL, Petani serta Pengurus empat Subak Abian yang ada di Desa Petang.

Menurut Kepala BPTP Bali Dr. I Made Rai Yasa dari hasil FGD diketahui masih banyak inovasi di bidang teknis dan kelembagaan yang dibutuhkan untuk meningkatkan Produktivitas, pemasaran, sehingga berujung pada meningkatnya pendapatan petani.

Disampaikan juga dari hasil indentifikasi ditemukan adanya Sumber Daya Genetik tanaman durian, yang oleh petani setempat disebut Durian Kebo. Dimana cirinya daging buah tebal dan bijinya tipis. “Durian kebo ini sangat potensial untuk dikembangkan dan ke depan perlu didaftarkan sebagai varietas SDG daerah ini” ujarnya.

Untuk mendukung pengembangan tanaman manggis dan durian kepala BPTP Bali juga mengaku akan menyiapkan SDM yang kompeten di bidang Hortikultura. “ Kami berencana SDM kami akan dilatih terlebih dahulu di Balit atau Puslit sehingga siap mendampingi petani hortikultura di Bali, termasuk di Kecamatan Petang, Badung ini” jelasnya.

Senada dengan Kepala BPTP Bali terkait dengan prospek pengembangan ke depannya, Kepala Balai Karantina Pertanian Bali menyampaikan bahwa manggis dan durian sangat prospektif untuk dikembangkan di wilayah Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Disebutkan juga bahwa tahun 2018 telah diekspor sekitar 4.000 ton manggis dari Bali. “Kami harapkan ke depan, Kecamatan Petang ikut mendongkrak peningkatan ekspor manggis Bali” ujarnya.

 

Kambing Boerka Siap Dikembangkan di Bali

TabananKambing Boerka adalah kambing tipe pedaging yang merupakan hasil penelitian unggulan dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Loka Penelitian Kambing Potong (Lolit Kambing) Sei Putih, Sumatera Utara. Menurut Balitbangtan kambing Boerka merupakan hasil persilangan dari Kambing Boer dan Kambing Kacang, merupakan pedaging unggulan yang memiliki bobot tubuh lebih besar dibandingkan dengan kambing lokal lainnya. Kambing Boerka juga sangat adaptif di berbagai lingkungan sehingga sangat cocok untuk dikembangkan di masyarakat petani.

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) dibawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian-Kementerian Pertanian di pertengahan tahun 2019 ini bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Tabanan, melalui Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan untuk mengembangkan kambing boerka. Pengembangannya diawali di Desa Sanda, Kecamatan Pupuan dan Desa Mundeh Kangin, Kecamatan Selemadeg Barat, Tabanan.

Pada hari Jumat 23 Agustus 2019 sebanyak 100 ekor kambing boerka didatangkan dari Loka Penelitian Kambing Potong (Lolit Kambing) Sei Putih, Sumatera Utara. Kambing-kambing tersebut merupakan bantuan langsung dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Ternak, Bogor.

Kepala BPTP Bali Dr. I Made Rai Yasa mengatakan kambing boerka akan menjadi Inovasi ternak unggulan di sentra kopi robusta Kecamatan Pupuan. Dikatakan pula BPTP Balitbangtan Bali bersama Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan akan terus mengawal perkembangan kambing Boerka di petani. “Petugas kami akan selalu mendampingi petani dalam pemeliharaannya, kesehatan dan lainnya. Sehingga, nantinya kambing boerka dapat berkembang dengan baik.” jelasnya.

Sementara itu Nyoman Suyasa (Peneliti BPTP Bali) yang ditugaskan membina peternak kambing di Bali mengatakan dari 100 ekor kambing yang didatangkan terdiri dari 12 ekor jantan dan 82 ekor betina. “Kambing ini akan dikembangkan oleh 4 kelompok ternak di Desa Sanda dan Mundeh Kangin, Tabanan” ujarnya.

BPTP Balitbangtan Bali Terus Tingkatkan Kompetensi SDM

Denpasar - Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten dan professional merupakan point penting dalam memajukan sebuah organisasi. BPTP Balitbangtan Bali sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis Kementerian Pertanian memiliki tugas mengkaji, merakit menguji Inovasi pertanian tepat guna sfesifik lokasi di Provinsi Bali. Memiliki SDM yang kompeten di bidang pertanian sangat diperlukan BPTP Balitbangtan Bali dalam mempercepat hilirisasi hasil Inovasi Badan Litbang Pertanian kepada petani.


Menurut Kepala BPTP Bali Dr. I Made Rai Yasa Tahun 2019 BPTP Bali telah mempersiapkan ini sejumlah SDM untuk ditingkatkan kompetensinya. “ Tanggal 24 Juli 2019 kami sudah kirimkan dua orang penyuluh pertanian untuk mendalami inovasi teknologi pada komoditas Hortikultura ke Balai Penelitian Jeruk dan Buah Subtropika selama tiga hari” ungkapnya.


Lebih lanjut Dr. Made Rai Yasa mengatakan akan terus mengirim beberapa SDM lagi baik Peneliti, Penyuluh, maupun Teknisi Litkayasa untuk mendalami inovasi teknologi pada komoditas lain seperti perkebunan, pangan peternakan dan lainnya di Pusat-Pusat Penelitian maupun Balai Penelitian, Badan Litbang Pertanian. “ kami harap setelah mereka kembali sudah memiliki spesialisasi serta kompetensinya meningkat” ujarnya.


Sementara itu Putu Sugiarta dan Agung Prijanto, Penyuluh pertanian BPTP Bali yang telah mengikuti Bimtek di Balitjestro mengakui program peningkatan kapasitas SDM BPTP Bali sangat bermanfaat terutama bagi mereka sebagai petugas yang mendampingi petani menerapkan inovasi teknologi dari Badan Litbang Pertanian.

Mereka juga mengaku semua materi bimbingan teknis yang diperoleh di Balitjestro sangat bermanfaat “kami mempelajari teknologi introduksi pembungaan jeruk dengan metode pikung, produksi benih jeruk bebas penyakit, perbanyakan agens hayati pengendali HPT jeruk, teknologi Sitara dan Bujangseta, teknologi pembungaan tanaman lengkeng, budidaya stroberi soiless, serta yang lain” ungkap mereka.

Subcategories

Subcategories